Sunday, August 1, 2021

Cara Ulama dalam Meraih Ilmu

1. Ikhlas karena Allah Ta’ala

 

Banyak di antara Para ulama memulai tulisannya dengan Hadist Nabi Muhammad salallahu alaihissalam :


إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَِى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ


“Amalan-amalan itu hanyalah tergantung pada niatnya. Dan setiap orang itu hanyalah akan dibalas berdasarkan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya keapda Allah dan Rasul-Nya. Namun barang siapa yang hijrahnya untuk mendapatkan dunia atau seorang wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan tersebut.”(HR. Bukhari dan Muslim)

 

Imam Nawawi memulai Kitab Riyadhus Sholihin, Al-Adzkar dengan hadits ini.

 

Abdurrahman bin Mahdi berkata :


لو صنفتُ كتابا في الأبواب لجعلت حديث عمر بن الخطاب في الأعمال بالنيات في كل باب


 "Kalau aku menulis sebuah kitab dalam bentuk bab-bab, maka akan aku jadikan Hadits niat (yang diriwayatkan Umar bin Khattab) di setiap babnya".

 

Imam Ahmad bin Hanbal berkata :


قالوا: وكيف تصح النية يا أبا عبد الله؟ قال: ينوي رفع الجهل عن نفسه وعن غيره

 

“Ilmu itu tidak dapat ditandingi oleh amalan apapun bagi orang yang niatnya benar (dalam menuntut ilmu).” Mereka bertanya, “Bagaimana benarnya niat wahai Abu Abdillah?” Beliau menjawab, “Seorang yang menuntut ilmu itu meniatkan untuk mengangkat kebodohan dari dirinya dan dari orang lain.”

 

Artinya adalah untuk Beramal dengan ilmu dan Mendakwakan Ilmu kepada manusia

 

Abu Yusuf murid Abu Hanifah berkata :


يا قوم، أريدوا بعلمكم الله؛ فإني لم أجلس مجلسا قط أنوي فيه أن أتواضع إلا لم أقم حتى أعلوهم، ولم أجلس مجلسا قط أنوي فيه أن أعلوهم إلا لم أقم حتى أفتضح


 "Wahai Kaum, Inginkanlah hanya Allah Ta'ala dengan ilmu kalian, karena sesungguhnya aku tidak duduk pada satu majlis sama sekali yang aku berniat didalamnya untuk tawadhu' kecuali aku tidak akan berdiri sehingga mengalahkan mereka, dan aku tidak akan duduk di satu majlis sama sekali yang aku niatkan didalamnya untuk mengalahkan mereka kecuali aku tidak berdiri sehingga aku dilecehkan"

 

2. Taqwa Kepada Allah Ta’ala

 

Imam Syafi'i pernah berkata :


شكوت إلى وكيع سوء حفظي … فأرشدني إلى ترك المعاصي


وقال اعلم بأن العلم نور … ونور الله لا يهداه لعاصي

 

“Aku pernah mengadukan kepada Guru ku Imam Waki’ akan buruknya hapalanku, maka beliau membimbingku untuk meninggalkan maksiat,


Dan beliau mengabarkan kepadaku bahwa ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat.”

 

3. Beramal dengan Ilmu

 

 Kita belajar sebuah ilmu, maka kita harus berusaha untuk mengamalkan ilmu tersebut.

 

Ali bin Abi Thalib berkata :


"يهتف العلم بالعمل، فإن أجابه وإلا ارتحل"


"'Ilmu itu menghubungi (berbisik) kepada 'amal. Jika 'amal menjawabnya, ia akan bertahan. Jika tidak, 'ilmu akan pergi"."

 

Di antara petunjuk salaf, Sebagaimana dikatakan oleh Sufyan Tsauri, Ahmad bin Hanbal


ما علمت السنة إلا أعمل بها


" Tidaklah aku mengetahui suatu sunnah (ibadah-ibadah sunnah) kecuali aku mengamalkannya"

 

Imam Syafi'i pernah mengatakan :


ليس العلم ما حفظ، و لكن العلم ما نفع


"Ilmu itu bukan hanya dihafal, akan tetapi ilmu yang sebenarnya adalah yang bermanfaat (berbuah amal)"

 

Imam Ahmad bin Hanbal berkata :


أصل العلم الخشية, أي خشية الله


"Pokok sebuah ilmu adalah menumbuhkan rasa takut kepada Allah"

 

Sufyan Tsauri ditanya:


طلب العلم أحبّ إليك أو العمل؟ فقال: " إنما يراد العلم للعمل، فلا تدع طلب العلم للعمل، ولا تدع العمل لطلب العلم " .


 “Manakah yang paling kamu sukai, menuntut ilmu atau mengamalkannya?”, beliau menjawab: “Sesungguhnya ilmu dituntun agar diamalkan maka janganlah meninggalkan menuntut ilmu untuk beramal dan jangan tinggalkan amal untuk menunut ilmu.”

 

4. Sabar dalam Menuntut Ilmu

 

Ibnu Abbas bertaka :


لما قبض رسول الله صلى الله عليه وسلم قلت لرجل من الأنصار: هلم فلنسأل أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم فإنهم اليوم كثير"،

 

 فقال: واعجباً لك يا ابن عباس، أترى الناس يفتقرون إليك وفي الناس من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم من فيهم،

 

قال:" فتركت ذاك وأقبلت أسأل أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم، وإن كان يبلغني الحديث عن الرجل فآتي بابه وهو قائل فأتوسد ردائي على بابه يسفي الريح علي من التراب فيخرج فيراني"، فيقول: يا ابن عم رسول الله صلى الله عليه وسلم ما جاء بك؟ هلا أرسلت إلي فآتيك؟ فأقول: "لا، أنا أحق أن آتيك" قال: فأسأله عن الحديث، فعاش هذا الرجل الأنصاري حتى رآني وقد اجتمع الناس حولي يسألوني،

 

فيقول:" هذا الفتى كان أعقل مني

 

Ketika Rasulullah Shollallahu 'alaihi wasallam telah wafat, saya berkata kepada salah seorang dari kaum Anshor : Kemarilah, mari kita bertanya kepada para sahabat Nabi sallallahu 'alaihi wasallam, jumlah mereka sekarang banyak.

 

Lalu orang tadi berkata: 'Aneh sekali kamu ini, Tidakkah kamu tahu bahwa justru merekalah yg membutuhkan kamu.

 

Ibnu Abbas berkata : Maka orang tersebut membiarkan panggilanku, sementara saya selalu bertanya dan bertanya. Jika saya memperoleh informasi bahwa ada suatu hadits pada seseorang, maka segera saya datangi pintu rumahnya.

 

Kata Ibnu'Abbas : '-Suatu saat- pernah saya menjadikan selendangku untuk bantal di depan pintu rumahnya, angin berhembus sampai debu mengenai wajahku, kemudian ia keluar dan melihatku' , lalu berkata:


'Wahai Anak Paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apa yg membuatmu datang (kesini)?


Mengapa tidak kamu utus seseorang lalu saya yang menemuimu?', saya menjawab: 'Tidak, saya lebih layak untuk menemuimu lalu saya menanyakannya tentang suatu hadits. 'Orang Anshor -yang pernah saya ajak- tersebut masih hidup hingga ia melihatku dalam keadaan orang banyak berkumpul disekitarku untuk bertanya -menggali ilmu-', maka orang tersebut berkata: 'Pemuda ini memang lebih cerdas dibandingkan saya'.

 

Lihat bagaimana kesabaran Ibnu Abbas dalam Menuntut ilmu hingga menjadi orang yang mulia.

 

5. Senantiasa bertanya tentang Ilmu

 

Mujahid berkata :


لاَ يَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ مُسْتَحْيٍ وَلاَ مُسْتَكْبِـرٌ.


Artinya : “Orang yang malu dan orang yang sombong tidak akan mendapatkan ilmu.”

 

Ibunda Aisyah berkata :


نِعْمَ النِّسَاءُ نِسَاءُ الأَنْصَارِ لَمْ يَكُنْ يَمْنَعُهُنَّ الْحَيَاءُ أَنْ يَسْأَلْنَ عَنِ الدِّينِ وَيَتَفَقَّهْنَ فِيهِ

 

“Sebaik-baik perempuan adalah perempuan dari kaum Anshar, rasa malu tidak pernah mencegahnya untuk bertanya tentang urusan agama dan mempelajarinya “

 

6. Tawadhu dalam Menuntut ilmu, memiliki sifat rendah hati.

 

Imam Malik Rahimahullah menulis surat untuk Khalifah Ar-Rasyid:


إذا علمت علماً فليُرَ عليك أثره وسكينته وسمته ووقاره وحلمه"


"Apabila engkau telah mengetahui suatu ilmu, maka hendaknya terlihat padamu : pengaruhnya, ketenangan karenanya, keindahannya dan kehormatannya serta kemurahan hati -yang dilahirkannya-"

 

Imam Syafi'i berkata :


لا يطلب أحد هذا العلم بالملك وعز النفس فيفلح، ولكن من طلبه بذلّ النفس وضيق العَيش وخدمة العلماء أفلح"


"Tidaklah seseorang menuntut ilmu agama ini dengan kekuasaan dan kedudukan dirinya lalu berhasil -mendapatkannya-, akan tetapi barangsiapa yang mencarinya dengan merendahkan diri dan kesempitan hidup serta menjadi pelayan ulama maka dia akan berhasil -mendapatkan apa yang dia cari.

 

7. Memilih guru yang benar

 

Imam Ibnu Sirin mengatakan :


إن هذا العلم دين فانظروا عمن تأخذون دينكم

 

“Ilmu ini adalah bagian dari agama kalian, maka perhatikanlah baik-baik dari siapa kalian mengambil ilmu agama”

 

Imam Adz-Dzahabi berkata :


إذا ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﻤﺘﻜﻠﻢ ﺍﻟﻤﺒﺘﺪﻉ ﻳﻘﻮﻝ : ﺩﻋﻨﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻜﺘﺎﺏ ﻭﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻵﺣﺎﺩ ﻭﻫﺎﺕ ﺍﻟﻌﻘﻞ : ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺃﺑﻮ ﺟﻬﻞ !

 

ﻭﺇﺫﺍ ﺭﺃﻳﺖ ﺍﻟﺴﺎﻟﻚ ﺍﻟﺘﻮﺣﻴﺪﻱ ﻳﻘﻮﻝ : ﺩﻋﻨﺎ ﻣﻦ ﺍﻟﻨﻘﻞ ﻭﻣﻦ ﺍﻟﻌﻘﻞ، ﻭﻫﺎﺕ ﺍﻟﺬﻭﻕ ﻭﺍﻟﻮﺟﺪ : ﻓﺎﻋﻠﻢ ﺃﻧﻪ ﺇﺑﻠﻴﺲ ﻗﺪ ﻇﻬﺮ ﺑﺼﻮﺭﺓ ﺑﺸﺮ ﺃﻭ ﻗﺪ ﺣﻞ ﻓﻴﻪ ،

 

ﻓﺈﻥ ﺟَﺒُﻨْﺖَ ﻣﻨﻪ ﻓﺎﻫﺮﺏ، ﻭﺇﻻ ﻓﺎﺻﺮﻋﻪ ﻭﺍﺑﺮﻙ ﻋﻠﻰ ﺻﺪﺭﻩ، ﻭﺍﻗﺮﺃ ﻋﻠﻴﻪ ﺁﻳﺔ ﺍﻟﻜﺮﺳﻲ ﻭﺍﺧﻨﻘﻪ .

 

“Dan jika engkau melihat seorang mutakallim (ahlul kalam) mubtadi’ (ahlul bid’ah) berkata: ‘Tinggalkan Al-Qur’an dan tinggalkan hadits-hadits ahad, mari kita menggunakan akal’, maka ketahuilah, bahwa dia adalah seorang yang (mirip) Abu Jahal ! ”.

 

Jika engkau melihat seorang penganut salik tauhidiy (shufi) berkata, ‘Tinggalkan naqli (wahyu) dan aqli (akal), mari menggunakan perasaan dan naluri’, maka ketahuilah bahwa dia adalah IBLIS yang telah muncul dalam bentuk manusia, atau IBLIS yang telah merasuk padanya (ke dalam tubuh manusia).

 

Jika engkau takut terhadapnya, maka larilah. Namun jika engkau berani, maka seranglah dan injaklah dadanya. Bacakan kepadanya Ayat Kursi dan cekiklah”.

 

Imam Malik berkata :


لا يؤخذ العلم عن أربعة، ويؤخذ ممن سوى ذلك

 

Tidak diambil ilmu dari empat orang, dan diambil (ilmu tersebut) dari selain mereka.

 

لا يؤخذ من صاحب هوى يدعو الناس إلى هواه

 

- Tidak diambil (ilmu) dari pengikut hawa nafsu (ahli Bid'ah), yang mengajak manusia untuk mengikuti hawa nafsunya.

 

ولا من سفيه معلن بالسفه، وإن كان من أروى الناس

 

-Dan dari orang bodoh, yang tampak jelas kebodohannya, walaupun dia termasuk orang yang paling banyak riwayatnya.

 

ولا من رجل يكذب في أحاديث الناس، وإن كنت لا تتهمه أن يكذب على رسول الله صلى الله عليه وسلم

 

-Dan dari seseorang yang terbiasa berdusta dalam pembicaraan dengan orang lain, meskipun ia tidak tertuduh berdusta atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

ولا من رجل له فضل وصلاح وعبادة إذا كان لا يعرف ما يحدث

 

-Dan dari seseorang yang tidak mengerti apa yang dia bicarakan, meskipun ia memiliki keutamaan dan keshalihan, serta ahli ibadah.

8. Menjaga waktu

 

 Abdullah bin Mas'ud berkata :


  "ما ندمت على شيء ندمي على يوم غربت شمسه يقص فيه أجلي ولم يزدد فيه عملي"

 

  "Tidaklah aku menyesal terhadap sesuatu yang melebihi penyesalanku terhadap hari yang mana matahari tenggelam , ajal mendekat tapi amalku tidak bertambah"

 

Hasan Al-Basri berkata :

 

يَا ابْنَ آدَمَ, إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ, إِذَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ

 

"Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau adalah (kumpulan) hari-hari, apabila berlalu satu hari maka berlalu pula bagian darimu."

 

Oleh karenanya sangat aneh jika ada orang yang bersua cita untuk merayakan ulang tahun, harusnya dia bersedih karena semakin dekat dengan kematian (akhirat), umurnya berkurang.

 

9. Memiliki Adab yang baik dengan Guru

 

Asy-Sya'bi berkata :


 زيد بن ثابت ركب يوما فأخذ ابن عباس بركابه. فقال: تنح يا ابن عم رسول الله (صلى الله عليه وسلم). فقال: هكذا أمرنا أن نفعل بعلمائنا وكبرائنا.

 

 Zaid bin Tsabit pernah mengendarai hewan tunggangannya, lalu Ibnu ‘Abbaas mengambil tali kekangnya dan menuntunnya. Zaid berkata : “Jangan engkau lakukan wahai anak paman Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.

 

Ibnu ‘Abbaas berkata: “Beginilah kami diperintahkan untuk memperlakukan (menghormati) ulama kami”.

 

Imam Ahmad berkata pada kholaf bin Ahmar:


لا أقعد إلا بين يديك، أمرنا أن نتواضع لمن تعلمنا منه


Aku tidak akan duduk kecuali didepanmu, sebab kami diprintah untuk tawadhu' kepada org yang kami belajar darinya

 

Imam Syafi'i berkata :


كنت أصفح الورقة بين يدي مالك صفحًا رفيقًا هيبة له لئلا يسمع وقعها

 

“Dulu aku membolak balikkan kertas di depan Malik dengan sangat lembut karena segan padanya dan supaya dia tak mendengarnya”

 

Lihatlah bagaiamana Adab Imam Syafi'i kepada Gurunya Imam Malik, semoga Allah merahmati keduanya.

 

Berkata Rabi bin Sulaiman murid dari Imam Syafii :


 ما اجترأت أن أشرب الماء والشافعي ينظر إلي هيبة له.


"Aku tidak berani minum sedangkan Imam Syafi'i melihat kepadaku, semata-mata untuk menghormatinya"

 

10. Rihlah kepada Ulama, melakukan perjalanan untuk mengambil ilmu dari mereka.

 

Karena para ulama tidak hidup disatu tempat, jadi perlu bagi penuntut ilmu untuk pergi menemui mereka dan belajar ilmu kepada mereka, tentu sesuai kemampuan yang dimiliki (penuntut ilmu).

 

Imam Ibnul Qoyyim berkata :


 وأما سعادة العلم فلا يورثك إياها إلا بَذلُ الوسع ، وصدق الطلب ، وصحة النية.

 

“Adapun kebahagiaan ilmu, maka tidak diwariskan kepadamu kecuali dengan memberikan seluruh potensimu dan benar-benar serius serta ikhlas hati (benar niatnya)  dalam mencarinya."

 

Yahya bin Abi Katsir berkata :


لا يُستطاعُ العلم براحة الجسم


“Ilmu tidaklah dicapai dengan badan yang bersantai-santai.”

 

Jika menginginkan ilmu, maka harus lelah dalam mencarinya.

 

Imam Syafi'i berkata :


«حق على طلبة العلم بلوغ غاية جهدهم في الاستكثار من علمه، والصبر على كل عارض دون طلبه، وإخلاص النية لله تعالى في إدراك علمه نصاً واستنباطاً، والرغبة إلى الله تعالى في العون عليه».


"Wajib bagi penuntut ilmu untuk mengerahkan segala kemampuan untuk ilmu, bersabar atas segala rintangannya, niat yang ikhlas hanya untuk Allah dalam Meraih Ilmu, dan selalu meminta pertolongan dari Allah Ta’ala".

 

Di antara contoh Rihlah dari para ulama yang sangat indah, adalah pejalanan menuntut ilmunya Baqi bin Makhlad.

 

Beliau adalah orang Andalus (Spanyol), lalu pergi dalam rangka menuntut ilmu ke Baghdad (Irak) untuk belajar kepada Imam Ahmad Rahimahullah Ta'ala.

 

Ketika sampai di Baghdad, beliau mengetahui bahwa di Baghdad sedang terjadi fitnah orang dipaksa mengatakan "Al-Qur'an adalah Makhluk", mulai dari Khalifah Ma'mun, Mu'tasim dan Wastiq.

 

Ketika terjadi fitnah itu, Imam Ahmad disiksa dan dipenjara (karena tidak mau mengatakan bahwa Al-Qur'an adalah makhluk) selama 28 bulan ( 2 tahun, 4 bulan). Ketika keluar dari penjara, beliau dilarang untuk mengajar.

 

Lalu Baqi bin Makhlad datang ke rumah Imam Ahmad ditunjukkan oleh seseorang, beliau mengetuk pintu, lalu mengatakan :

Ana penuntut ilmu yang datang dari negeri yang sangat jauh (Spanyol) untuk mendengarkan darimu Hadist Rasulullah salallahu alaihissalam.

 

Lalu Imam Ahmad berkata : Apakah kamu tidak tau apa yang terjadi kepadaku? Yaitu aku dilarang untuk mengajar.

 

Baqi bin Makhlad menjawab : Naam, saya mengetahui itu dari orang-orang saat kakiku menginjakkan tanah Baghdad.

 

Akan tetapi bisa disiasati, aku menyamar sebagai seorang pengemis, yang setiap hari datang ke rumahmu. Lalu engkau membacakan kepadaku satu atau dua Hadist, itu sudah mencukupi bagiku.

 

Imam Ahmad mengatakan : Akan tetapi ada syaratnya.

 

Baqi bin Makhlad menjawab : Apa itu?

 

Imam Ahmad : Jangan kau hadir majelis ilmu siapapun. Karena jika engkau hadir majelis ilmu, polisi akan mengetahui. Dan itu mudhorot bagimu dan bagiku.

 

Akhirnya mereka melakukan hal itu setiap hari.

 

Baqi bin Makhlad datang setiap hari ke rumah Imam Ahmad dengan baju yang sangat lusuh, dan Imam Ahmad pun menyambut beliau dengan memberi makan dan sekaligus ilmu.

 

Hal ini berlalu sangat lama, hingga akhirnya Imam Ahmad diizinkan lagi untuk mengajar di zaman Khalifah Mutawakkil.

 

Imam Ahmad sangat memuliakan Baqi bin Makhlad karena semangatnya dan kesabaran setelah beberapa waktu selalu menyamar sebagai pengemis demi untuk mendapatkan ilmu.

 

Contoh lain, adalah Rihlahnya Ulama Jarh wa Ta'dhil, Abu Hatim Ar- Rozi

 

Beliau berkata :


أحصيت ما مشيت على قدمي زيادة على ألف فرسخ, لم أزل أحصي حتى زاد على ألف فرسخ تركته


" Aku menghitung langkah kakiku dalam Menuntut ilmu, lebih dari 1000 farsakh, setelah itu aku tidak menghitung lagi"

 

(1000 farsakh sekitar 5000 km = Jarak Sabang sampai Merauke)

 

 سرت أنا من الكوفة إلى بغداد فمالا أحصي كم مرة، ومن مكة إلى المدينة مرات كثيرة، وخرجت من البحرين من قرب مدينة صلا، إلى مصر ماشيا، ومن مصر إلى الرملة ماشيا، ومن الرملة إلى بيت المقدس، ومن الرملة إلى عسقلان، ومن الرملة إلى طبرية، ومن طبرية إلى دمشق، ومن دمشق إلى حمص، ومن حمص إلى أنطاكية، ومن أنطاكية إلى طرسوس، ثم رجعت من طرسوس إلى حمص، وكان بقي علي شئ من حديث أبي اليمان فسمعت، ثم خرجت من حمص إلى بيسان، ومن بيسان إلى الرقة، ومن الرقة ركبت الفرات إلى بغداد، وخرجت قبل خروجي إلى الشام من واسط إلى النيل، و من النيل إلى الكوفة


Aku bersafar mulai dari Kufah menuju Baghdad, saya tidak tau sudah berapa kali bolak balik. Berlanjut dari Mekkah ke Madinah juga berkali-kali. Lalu aku safar lagi dari laut dekat dengan Kota Sala (Maroko) menuju Mesir berikutnya ke Ramla (Palestina) hingga Baitul Maqdis, Asqalan, Tobariyah. Setelah itu menuju Dimaskus, hingga Himsh, lalu Anthokiyah sampai ke Thursus.

 

Dari Thursus balik lagi ke Himsh, karena ada satu Hadist Abil Yaman yang tertinggal hingga aku mendengarkannya.

 

Dari Himsh menuju ke Baisan, Raqqah, Furot hingga Baghdad. Lalu kembali lagi ke kufah melewati Syam, dari Wasit menuju Nil.

 

Semua itu dilakukan dengan jalan kaki. Menghabiskan waktu selama 7 tahun.

 

11. Memiliki semangat untuk menghafal dan mengokohkan hafalan

 

Imam Ahmad ditanya :


ما الحفظ؟ قال: الإتقان هو الحفظ


Apa itu Hafalan? Mengokohkan sesuatu itulah hafalan

 

Abu Ishaq Asy-Syirozi jika ingin menghafal sebuah pelajaran, maka beliau mengulanginya sebanyak 100 kali.

 

Mengulang-ulang mempelajari ilmu mengokohkan sebuah ilmu di dalam dada.

 

Ibnu Utsaimîn berkata :


درسوا العلم حتى يثبت عندكم


Ajarkan Ilmu hingga ilmu itu kokoh dalam dirimu.

 

Seseorang bertanya kepada Imam Malik


هل يصلح لهذا الحفظ شيء قال : إن كان يصلح له شيء فترك المعاصي .


Apa Tips dalam menghafal :


Di antara tips menghafal agar kuat adalah meninggalkan maksiat.

 

Berdoa juga salah satu tips agar dimudahkan dalam mengahafal.

 

Imam Ibnu Hajar berkata :


شرِبْتُ ماء زمزم، وسألتُ الله - وأنا حينئذٍ في بداية طلب الحديث - أنْ يرزقني حالةَ الذهبي في حفظ الحديث


"Aku minum air zamzam, lalu berdoa kepada Allah minta diberi Hafalan seperti Imam Adzahabi dalam mengahafal Hadist dan Rijal Hadist"

 

Asy-Syakhowi (murid Ibnu Hajar) berkata : Allah telah mengabulkan doa Ibnu Hajar sehingga menyamai Imam Adzahabi bahkan melebihi. (meskipun hal ini perlu peninjauan ulang).

 

12. Meraih Ilmu Membutuhkan Semangat yang Tinggi

 

Imam Nawawi berkata :


 إذا غلبني النوم استندت إلى الكتب لحظة وأنتبه.


"Jika aku tidak terdaya untuk menahan rasa mengantuk, aku bersandar kepada kitab-kitab sekejap, kemudian aku tersedar."

 

Ibnu Jamaah berkata :


"Saat aku mengunjungi Imam Nawawi, beliau meletakkan kitab-kitabnya di atas yang lainnya agar aku mendapatkan tempat untuk duduk"

 

Hal ini menunjukkan banyaknya kitab-kitab yang dimiliki Imam An-Nawawi Rahimahullah Ta'ala.

 

Abu Ubaid Qosim bin Sallam berkata : Tidaklah aku mendatangi seorang Alim pun melainkan aku menunggu di depan pintunya , dan aku tidak memanggil dan mengetuknya karena takut mengganggunya. Aku bersabar menunggu hingga mereka keluar, lalu aku bertanya suatu masalah kepada mereka.

 

Lihat bagaimana adab beliau, sabarnya serta semangatnya dalam menuntut ilmu.

 

Ibnu Abi Hatim berkata :


كنا في مصر سبعة أشهر لم نأكل فيها مرقة، كل نهارنا مقسم لمجالس الشيوخ وبالليل النسخ و‍المقابلة، فأتينا يوما أنا ورفيق لي شيخا، فقالوا: هو عليل، فرأينا في طريقنا سمكة أعجبتنا فاشتريناها فلما صرنا إلى البيت حضر وقت مجلس فلم يمكنا إصلاح هذه السمكة ومضينا إلى المجلس، فلم نزل حتى أتى على السمكة ثلاثة أيام وكادت أن تتغير فأكلناها نيئة، لم يكن لنا فراغ أن نشوي السمك.

 

Kami berada di Mesir selama 7 bulan, selama itu kami tidak pernah makan maroqoh (Kua berisikan daging), karena waktu kami di siang hari kami gunakan untuk belajar kepada para masyayikh. Sedangkan malam hari kami gunakan untuk mencocokan hasil belajar kami antara satu teman dan lainnya hingga catatan menjadi sempurna.

 

Suatu ketika kami dan teman-teman mendatangi Syaikh, akan tetapi dikabarkan bahwa Syaikh sakit sehingga tidak bisa mengajar. Lalu kami bersama teman-teman inisiatif untuk membeli makan berupa ikan. Ketika hampir sampai rumah, ternyata waktu belajar sudah hampir tiba dengan Syaikh yang lain.

 

Akhirnya ikan tersebut ditinggalkan belum sempat dimasak. Hingga berlalu waktu sampai tiga hari. Karena takut basi, hingga mereka makan ikan secara mentah tanpa masak karena sudah tidak ada waktu lagi untuk masak-masak.

 

12. Bertahap dalam belajar

 

Perlu diketahui bahwa ilmu itu terbagi menjadi dua secara garis besar :


- Ilmu Ushul (Asli), ahli ilmu mengatakan ada 4 ilmu : Aqidah, Fiqh, Hadits dan Tafsir

 

- Ilmu Far'i (Cabang/Ilmu Alat), semisal Ulumul Qur'an, Ilmu Muqoddimah Tafsir, Mustholah Hadits, Ushul Fiqh,, Ilmu Nahwu, Shorof, Balaghoh, Siroh (Sejarah) dll.




No comments:
Write comments