Monday, April 19, 2021

Bolehkah Lelaki Menggunakan Jam Tangan Mengandung Emas ?

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu,  bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengambil sutera lalu beliau angkat dengan tangan kanannya, dan beliau mengambil emas lalu diangkat dengan tangan kirinya, kemudian beliau bersabda,


إِنَّ هَذَيْنِ حَرَامٌ عَلَى ذُكُورِ أُمَّتِي


Dua benda ini haram untuk dipakai para lelaki di kalangan umatku. (HR. Abu Daud 4057, Nasai 5144 dan dishahihkan al-Albani).


Berdasarkan hadis ini, para ulama mengharamkan asesoris apapun yang berbahan emas atau yang mengandung emas bagi lelaki.


An-Nawawi mengatakan, “Cincin emas hukumnya haram bagi lelaki dengan sepakat ulama. Demikian pula cincin dengan bahan campuran, sebagian emas dan sebagian perak. Bahkan para ulama madzhab kami (syafi’iyah) mengatakan, “Jika bagian mata cincin berbahan emas atau disepuh dengan emas sedikit, hukumnya haram.” (Syarh Shahih Muslim, 14/32)


Jam tangan berbahan emas, boleh bagi wanita, dan haram bagi lelaki. Bagaimana jika hanya mengandung sedikit emas?


Dalam fatwa Lajnah Daimah ada pertanyaan tentang jam tangan emas,


Jika jam tangan itu berbahan emas atau kalungnya emas maka tidak boleh dipakai lelaki. Jika tidak berbahan emas, boleh dipakai lelaki. (Fatwa Lajnah Daimah, 24/63).


Bagaimana jika unsur emasnya hanya sedikit?


Syaikhul Islam memberikan rincian pendapat Imam Ahmad tentang status aksesori lelaki yang mengandung sedikit emas.


Mengenai kandungan emas yang sedikit (di pakaian lelaki), keterangan Imam Ahmad ada beberapa riwayat,


Pertama, Ada keringanan (rukhshah), berdasarkan hadis dari Muawiyah, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang emas kecuali hanya potongan kecil”. Mungkin pendapat ini yang lebih kuat dibanding yang lain. Dan ini pendapat Abu Bakar.


Kedua,  Ada keringanan (rukhshah) namun hanya untuk senjata saja.


Ketiga, keringanan hanya untuk pedang.


Syaikhul Islam melanjutkan, “Dan ada alasan kuat untuk menilai haram secara mutlak, berdasarkan hadis dari Asma, “Tidak boleh ada emas ataupun al-Kharishah”. Namun ini dipahami untuk emas yang berdiri sendiri dan bukan tabi’ (mengikuti). (Majmu’ al-Fatawa, 21/87)


Dalam as-Syarh al-Mumthi’, Ibnu Utsaimin menjelaskan, “Jika jam tangan bukan emas dan tidak disepuh dengan emas, namun ada salah satu elemennya yang berbahan emas, apakah boleh?


Jawabannya: Betul, tidak masalah. Karena jika itu adalah elemen yang ada di dalam, emas itu tidak kelihatan dan tidak diketahui. Dan jika emas itu ada di bagian luar, seperti misalnya jarum jam, maka statusnya hanya mengikuti dan ini tidak berpengaruh. (as-Syarh al-Mumthi’, 6/119)


Di luar itu, Imam Ibnu Utsaimin juga memiliki catatan, Bolehkah seseorang yang membeli jam tangan namun ada unsur emasnya?


Jawab: dalam hal ini ada rincian, jika jam tangan semacam ini bagi dia termasuk aksesori terlalu mewah maka tergolong israf (pemborosan). Dan jika tidak termasuk pemborosan maka hukum asalnya dibolehkan. (as-Syarh al-Mumthi’, 6/119)


Allahu  a’lam


No comments:
Write comments