Pekerjaan Para Anbiya Menurut Ibnu Abbas

 


Ibnu abbas berkata, “Nabi adam adalah petani, nabi nuh tukang kayu, nabi idris penjahit, nabi Ibrahim dan nabi luth petani, nabi shalih pedagang, nabi dawud pandai besi. Nabi musa, nabi syuaib dan nabi muhamad adalah penggembala.” (Kitab minhajul qasihidn)

Allah subhanahu wataala berfirman,

وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

“Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,” (QS ; an naba ayat 11)

Merupakan nikmat dari Allah bahwasannya siang merupakan waktu untuk bekerja karena kekuatan manusia lebih besar diwaktu siang daripada diwaktu malam. Sehingga waktu malam cocok untuk beristirahat, namun boleh juga digunakan untuk bekerja selama tidak mengganggu kewajiban untuk beribadah kepada Allah.

Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan mengatakan, “Penghidupan manusia, waktu siang dalam mengais rejeki sesuai dengan kedudukan-kedudukan dan kondisi-kondisi mereka. Ini adalah di antara nikmat dari Allah Subhaanahu Wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya.’’

Allah subhanahu wataala berfirman,

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ ۗ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

“Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur.” (QS. Al araf ayat 10)

Allah telah menjadikan bumi penuh dengan fasilitas dan kebutuhan bagi manusia sampai hari kiamat. Bahkan kebutuhan hewan pun telah Allah sediakan di bumi. Ini merupakan nikmat dari Allah untuk mahluknya, namun sangat sedikit dari manusia yang bersyukur atas pemberian ini.

Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah dalam kitabnya Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir menafsirkan ayat diatas, “Wahai anak Adam, sungguh Kami telah menciptakan bagi kalian tempat tinggal di bumi, dan Kami sediakan bagi kalian di dalamnya berbagai sebab-sebab kehidupan berupa tempat tinggal, makanan, minuman dan pakaian, dan kalian sangat kurang mensyukuri nikmat tersebut.”

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

طلب الحلال جهاد

“Mencari rizki yang halal adalah jihad”

Hadits diatas diriwayatkan oleh al qudha’I dari ibnu abbas dan abu nu’aim dari ibnu umar dan ia tercantum dalam dhaif al jami, no.3619 dan silsilah ad dhaifah no.1301

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda,

إن الله يحب العبد المحترف

“Sesungguhnya Allah benar-benar mencintai hamba yang berusaha” (HR. Baihaqi dalam syuaib al imam, dhaif al jami 3619 dan silsilah ahadits ad dhaifah 1301)

Sebuah atsar diriwayatkan bahwa lukman al hakim berkata kepada putranya, ‘’Putraku, jadikanlah usaha halal sebagai penolongmu, seseorang tidak jatuh miskin kecuali ditimpa tiga perkara : kelemahan pada agamanya, kelemahan pada akalnya dan lenyap kehormatannya. Yang lebih parah adalah orang lain merendahkan kehormatannya.’’ (Kitab minhajul qasihidn)

Imam ahmad bin hambal ditanya, “ Apa pendapatmu tentang seorang laki-laki berpangku tangan di rumahnya atau masjidnya lalu ia berkata, ‘aku tidak bekerja, rizkiku akan datang sendiri.’ ?” Imam ahmad menjawab,’’Dia adalah laki-laki bodoh, apakah dia tidak mendengar sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam,’Sesungguhnya Allah menjadikan rizkiku dibawah baying-bayang tombakku’ (HR. Ahmad disahihkan al albani)

Para sahabat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berniaga di darat dan di laut. Orang anshar bekerja mengurusi kebun kurma mereka dan orang muhajirin berdagang di pasar. Mereka adalah generasi terbaik dari umat Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Abu sulaim ad-darani berkata, ‘’ibadah bagi kami bukan berarti kamu menekuk kedua kakimu sementara orang lain berlelah-lelah bekerja untuk menghidupimu, akan tetapi mulailah dengan berusaha sampai mendapatkan dua potong roti setelah itu beribadahlah.’’

Apabila ada orang yang menukil perkataan abu darda bahwasannya beliau berkata,’’aku menekuni perdagangan dan ibadah, namun keduanya tidak bisa digabungkan, maka aku memilih ibadah.’’

Maka katakana kepada orang tersebut bahwasannya berdagang bukan merupakan tujuan utama dalam hidup, akan tetapi berdagang merupakan sarana agar tidak menggantungkan diri kepada orang lain, agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan apabila ada lebih dari hasil berdagang maka bisa diberikan kepada saudara. Adapun bila tujuan utama berdagang adalah mencari harta dan mengumpulkannya sehingga membanggakannya maka hal itu tercela.

Allahu A’lam





No comments:
Write komentar