Manusia yang Dicintai Allah

 


Allah subhanahu wa ta'ala menjadikan rasa cinta ada di dalam hati hamba-hambaNya. Dengan rahmat Allah subhanahu wa ta'ala, seekor hewan mengasihi anaknya hingga seekor kuda mengangkat kakinya karena khawatir anaknya terinjak olehnya. Dengan rahmatNya, seorang ibu mencintai anak kandungnya. Dengan rahmatNya pula seorang lelaki mencintai istrinya yang shalihah, begitu pula sebaliknya.

Merupakan keutamaan yang luar biasa ketika seorang hamba mendapat kecintaan dari Allah subhanahu wa ta'ala, karena Dialah Yang Maha Indah. Dialah Yang Maha Pemurah Maha Penyayang. Dialah yang memberi petunjuk ketika hambaNya tersesat. Dialah yang memberi kecukupan ketika hambaNya berada dalam kekurangan. Jika Allah telah mencintai seorang hamba maka hamba tersebut akan dicintai oleh penduduk langit (para malaikat) dan penduduk bumi.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam  pernah bersabda: “Jika Allah mencintai seorang hamba maka Allah menyeru Jibril, Wahai Jibril sesungguhnya Aku mencintai fulan maka cintailah ia. Maka Jibril pun mencintai hamba tersebut dan menyeru penduduk langit: Sesungguhnya Allah mencintai fulan. Maka penduduk langit pun mencintai hamba tersebut dan diletakkan penerimaan untuk hamba tersebut di bumi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kecintaan Allah akan didapat oleh seoarang hamba, andaikan hamba tersebut beriman dan beramal dengan amalan yang sesuai dengan cara Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam dalam keadaan hatinya ikhlas mengharap keridhaan Allah semata. Allahsubhanahu wa ta’ala  berfirman:

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan beramal shaleh (Allah) Yang Maha Pemurah akan jadikan kasih sayang di dalam hati mereka (manusia).” (QS. Maryam : 96)

Al Imam Ibnu Katsir berkata mengenai ayat ini: Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwasanya Dia menanamkan kecintaan dan kasih sayang di dalam hati orang-orang shalih, yaitu hamba-hambaNya yang beriman dan mengerjakan amalan shalih, yaitu amalan yang membuat Allah subhanahu wa ta’ala ridha karena sesuai dengan syariat yang dituntunkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini adalah perkara yang tidak dapat dielakkan siapapun.  -kemudian beliau menyebutkan sebagaimana hadits yang telah lalu -.

Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu’anhu pernah berkata: Suatu hari lewatlah sebuah jenazah, maka para sahabat menyebut-nyebutnya dengan kebaikan. Maka berkatalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam: "wajabat (pasti)". Kemudian lewat pula sebuah jenazah, maka para sahabat menyebut-nyebutnya dengan kejelekan. Maka berkatalah Nabi shallallahu alaihi wa sallam: "wajabat (pasti)". Lalu berkatalah Umar Ibnu Khattab: Apa artinya wajabat itu? Beliau bersabda: "Jenazah pertama yang kalian sebut-sebut dengan kebaikan itu, maka pastilah dia berhak memperoleh Surga. Sedangkan yang kalian sebut-sebut dengan kejelekan, pastilah dia berhak memperoleh neraka. Kalian adalah para saksi Allah di muka bumi." (HR Al Bukhari (3/28) dan Muslim (2/665) )

Akan tetapi jangan dipahami bahwa ketika ada orang shalih yang wafat, maka dia dipastikan akan masuk Surga. Oleh karena itu tidak boleh bagi manusia untuk menyatakan bahwa fulan akan masuk Neraka karena demikian dan demikian, atau fulan akan masuk Surga karena demikian dan demikian. Hal tersebut tidak dibenarkan, karena akidah yang shahih (benar) menegaskan, tidak boleh seseorang memastikan bahwa orang tertentu pasti masuk Surga atau pasti masuk Neraka, meskipun dia dari kalangan ahli Islam (muslim), kecuali orang-orang yang dipersaksikan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Al Imam Ath Thahawi mengatakan tentang ahli kiblat (kaum muslimin): Kita tidak boleh mengatakan siapapun dari mereka bahwa dia akan menempati Surga atau Neraka. Akan tetapi kita berharap orang yang berbuat baik itu akan memperoleh Surga dan kita khawatir orang yang berbuat jelek akan memperoleh neraka.

Allah tidak akan menerima amal perbuatan seorang hamba sampai hamba tersebut memenuhi 2 syarat, yaitu ikhlas/mengharap ridha Allah subhanahu wa ta’ala semata dan mutaba'ah (mencontoh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam). Landasan dalil yang menerangkan hal tersebut adalah Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman:

“Dan tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama untukNya.” (QS. Al Bayyinah : 5)

Dalam ayat lain Allah subhanahu wa ta’ala  berfirman:

“Barangsiapa yang mengharap (meyakini) pertemuan dengan Rabbnya hendaknya beramal shalih dan tidak berbuat syirik sedikitpun dalam beribadah kepada Rabbnya.” ( QS. Al Kahfi : 110)

Kedua ayat di atas menjelaskan, bahwasanya ketika seseorang dalam beramal, maka dia  harus ikhlas melakukannya karena Allah subhanahu wa ta’ala. Ia tidak mengharapkan pujian dari makhluk, ia tidak mengharapkan harta, kedudukan, dan selainnya dari perkara-perkara duniawi. Barangsiapa beramal untuk tujuan-tujuan tersebut maka amalannya gugur bahkan dia termasuk orang yang celaka.

Selain ikhlas, amalan shaleh pun harus dibarengi dengan mutaba'ah Rasul (sesuai dengan tata cara Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam).

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Katakanlah (wahai Rasulullah): Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian dan Dia akan mengampuni dosa-dosa kalian. (QS. Al ‘Imran : 31)

Maka wajib bagi kita sebagai umat nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, untuk berusaha  mendalami ilmu syar'i (Al Qur'an dan Hadits), agar amalan-amalan yang kita lakukan sesuai dengan bimbingan Nabi. Karena jika amalan-amalan kita sesuai dengan bimbingan Nabi dan hati kita ikhlas dalam melaksanakannya, maka akan turun kecintaan Allah kepada kita.

Allahu a'lam bish shawab.



No comments:
Write komentar