Kompetisi Seorang Muslim

 


Berbagai macam kompetisi menghiasi kehidupan manusia. Para penuntut ilmu berlomba dalam meraih prestasi belajar. Para pegawai berlomba meraih suatu jabatan. Para pedagang berlomba melariskan barang dagangannya. Para pengusaha berlomba mengembangkan usahanya. Para pemimipin berlomba memakmurkan daerah kekuasaannya. Masing-Masing berlomba. Akan tetapi, yang paling besar dari semua kompetisi yang ada dalam kehidupan ini adalah kompetisi untuk meraih apa yang ada di sisi Allah berupa Jannah dan semua kenikmatan yang menghiasinya beserta keridhaan Ar Rahman.

Hal ini harus dipersiapkan dengan serius oleh setiap insan karena siapa yang berhasil memenangkannya mereka akan mendapat kebahagiaan yang abadi. Mereka bergembira mendapatkan kenikmatan yang tidak pernah disangka, tidak pernah dilihat oleh mata manusia, tidak pernah didengar oleh telinga manusia dan tidak pernah terbetik di dalam hati manusia. Allah  berfirman dalam hadits qudsi :

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

“Aku sediakan bagi hamba-hambaKu yang shaleh apa-apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terlintas dalam hati.”

Selain itu kebahagiaan yang dirasakan oleh seseorang yang mendapat kesuksesan di hari kiamat mereka akan mendapat kecerahan pada wajah mereka. Allah  berfirman menyifati keadaan ashabul jannah (penghuni surga):

تَعْرِفُ فِي وُجُوهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيمِ

“Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan.” (Al Muthoffifin: 24)

Adapun bagi mereka yang kalah mereka adalah orang yang mendapat kerugian terbesar. Tidaklah Allah  menyebutkan dalam kitab-Nya bahwa orang yang rugi adalah yang orang yang usahanya bangkrut, bukan mereka yang kehabisan harta benda, bukan pula mereka yang kedudukannya rendah di mata manusia. Akan tetapi, kerugian yang Allah sebutkan adalah orang yang rugi di hari kiamat. Mereka yang amalan kejelekannya mengalahkan amalan kebaikannya. Mereka yang membawa amalan kesyirikan di hari kiamat. Mereka yang bertemu dengan Allah dalam keadaan Allah murka kepada-Nya. Merekalah orang-orang yang merugi. Allah  berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:

 قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلَا ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat". Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (Az Zumar: 15 )

Kompetisi ini tidak bisa dianggap remeh. Seseorang yang hendak menjadi pemenang di sisi Allah perlu mengorbankan harta, jiwa, perasaan, dsb. Akan tetapi hal itu akan mudah bagi siapa yang dimudahkan oleh Allah. Pengorbanan tersebut tidaklah sulit bagi seseorang yang hatinya dipenuhi dengan iman. Mereka melihat apa yang Allah janjikan dan yang Dia ancamkan lebih jelas daripada apa yang mereka lihat di dunia ini. Karena apa yang ada di dunia ini akan sirna sedangkan apa yang ada di akhirat akan kekal. Dan mereka akan mendahulukan kepentingan akhirat dibanding kepentingan dunia mereka. Allah  berfirman :

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni'matan) duniawi.” (Al Qoshosh: 77)

Apa yang manusia usahakan untuk meraih kesuksesan akhirat tidaklah sebanding dengan balasan yang akan Allah  berikan. Allah  berfirman:

مَّثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنبُلَةٍ مِّئَةُ حَبَّةٍ وَاللّهُ يُضَاعِفُ لِمَن يَشَاءُ وَاللّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Al Baqarah: 261)

Dalam ayat yang mulia ini, seseorang yang mengeluarkan hartanya di jalan Allah dengan mengharap pahala dari Allah akan dilipatgandakan hingga 700 kali lipat bahkan lebih. Sehingga dapat diambil faidah bahwa usaha berupa amal shaleh yang dilakukan seorang muslim dengan syarat amalan tersebut ikhlas, akan mendapat balasan yang jauh lebih besar dibanding amalan itu sendiri. Lalu bagaimana balasan bagi amalan-amalan yang memiliki keutamaan lebih besar?

Bagi seseorang yang beramal shaleh mereka benar-benar harus memerhatikan amalan hatinya. Hatinya harus dipenuhi rasa cinta, roja (harap) dan khouf (takut) kepada Allah. Semakin tinggi ketiga perasaan tersebut dalam hati seorang muslim maka semakin sempurna peribadahannya kepada Allah. Ia pun semakin menghakikatkan penghambaannya kepada Allah dan telah merealisasikan firman Allah :

                                                           وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56)

Ketiga perasaan tersebut seluruhnya harus muncul dalam hati. Tidak seperti keyakinan sebagian orang bahwa perasaan yang harus ada dalam hati seorang muslim adalah perasaan cinta saja sedangkan yang dua lainnya tidak.

Sebagaimna atsar yang disandarkan pada sebagian salaf:

“Ya Allah, jika aku beribadah kepada-Mu karena mengharap Jannah-Mu maka jangan masukkan aku kedalam Jannah-Mu. Jika aku beribadah kepada-Mu karena takut Neraka-Mu maka masukkan aku ke dalam Neraka-Mu. Sedangkan jika aku beribadah kepada-Mu karena aku mencintai-Mu maka terimalah ibadahku.”

Atsar ini perlu dilihat kembali keshahihannya(kebenarannya) riwayatnya. Karena tidak semua perkataan yang disandarkan kepada Rasulullah itu benar. Disana ada riwayat palsu yang sebenarnya bukan ucapan Rasulullah akan tetapi disandarkan kepada beliau. Begitu pula ucapan yang disandarkan kepada para shahabat, tabi’in, dan seterusnya dari kalangan salaf (pendahulu kita), penyandaran tersebut ada yang dha’if (lemah).

Jika suatu riwayat ucapan belum jelas keshahihannya maka cukup bagi kita riwayat yang jelas keshahihannya.

Diriwayatkan oleh Al Bukhori dan Muslim, shahabat Jabir berkata: Pada perang Uhud ada seseorang yang berkata kepada Nabi : ”Beritahukanlah kepadaku dimanakah tempatku seandainya aku terbunuh?” Beliau menjawab: “Di dalam Jannah.” Kemudian orang itu langsung melemparkan beberapa biji buah kurma yang ada di tangannya lalu dia terjun ke kancah peperangan hingga mati terbunuh.
Shahabat yang mulia ini termotivasi ketika mendengar kabar dari Rasulullah . Yaitu bahwa jika dia terbunuh di dalam perang tersebut dia akan mendapatkan Jannah. Sehingga dia tidak menunda-nuda lagi untuk terjun berperang. Diapun terbunuh dan menjadi seorang yang syahid dalam perang Uhud.

Diriwayatkan pula oleh Al Bukhori dan Muslim dari shahabat Anas bin Malik, bahwa Nabi Bersabda: “Seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui (tentang kengerian akhirat) niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” Sehingga para shahabat Rasulullah menutup wajah-wajah mereka sambil menangis terisak-isak.

Mereka para shahabat menangis karena takut akan menghadapi negeri akhirat. Mereka takut akan kedahsyatan dan kengerian yang ada di sana.

Sehingga dari kedua hadits tersebut dapat diambil ibroh(pelajaran) bahwa ibadah yang disertai rasa roja dan khouf tidaklah tercela, bahkan merupakan sesuatu yang disyariatkan.

Hal inipun diperjelas dalam Al Qur’an. Allah  berfirman memberi peringatan dan menakut-nakuti hambanya:     

                                                وَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Dan takutlah kalian dari api neraka yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (Alu Imran: 131)

Kemudian pada ayat yang setelahnya Allah  memerintahkan manusia untuk bersegera untuk meraih ampunan dan Jannah-Nya.

وَسَارِعُواْ إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada jannah yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Alu Imran: 133)

Maka semestinya bagi seorang muslim untuk semangat dalam beramal shaleh. Berlomba-lomba meraih kesuksesan akhirat yang disana tidak ada kematian. Semua hamba Allah akan terus hidup, baik mereka yang dalam keadaan bergembira maupun mereka yang dalam keadaan sengsara. Akhirat adalah negeri yang tidak ada akhirnya. Kampung halaman yang sebenar-benarnya bagi umat manusia. Semoga Allah  memudahkan langkah kita semua agar dapat meraih kesuksesan akhirat. Aamiin.



No comments:
Write komentar