17 Ulama yang Tidak Menikah

 


Sebagian ulama yang tidak menikah bukan karena membenci sunnah, melainkan alasan lain. Seperti tidak sempat menikah karena wafat pada usia muda, sibuk dengan mencari ilmu, menyebarkan ilmu serta mendakwahkannya, keluar masuk penjara karena penguasa yang zalim, atau sebab-sebab lain yang tidak kita ketahui. Berikut diantara ulama-ulama yang tidak menikah selama hidupnya:

1. Abu Abdurahman Yunus bin Habib al-Bashri 90-182 H

Beliau seorang sastrawan dan ahli nahwu. Banyak ulama’ yang belajar kepadanya seperti, Imam Sibawaih, al-Kisa’i dan al-Farra’.

2. Husain bin Ali al-Ju’fi 119-203 H

Orang yang sabar dan tsiqah dari Kufah. Humaid bin Rabi’ al-Khazza berkata, “Kami telah menulis 10.000 hadits lebih dari Husain bin Ali al-Ju’fi.”

3. Abu Nashr bin al-Harits 150-227 H

Lahir di Marwa 150 H kemudian pindah ke Baghdad. Beliau meriwayatkan hadits dari Hammad bin Ziad, Abdullah bin Mubarak, Abdurrahman bin Muhdi, Malik bin Anas, Abu Bakr bin Iyasy, Fudhail bin Iyadh dan lain-lain. Dan banyak yang meriwayatkan hadits darinya seperti, Imam Ahmad bin Hanbal, Ibrahim al-Harbi, Zahir bin Harb, Sari as-Saqathi, Abbas bin Abdul Adzim, Muhammad bin Hatim dan lain-lain. Usia 77 tahun. .

4. Hannad bin as-Sariy 152-243 H

Ulama’ yang suka menangis, ulama’ hadits dari Kufah. Diberi gelar raghib kufah (pendeta kufah) karena tidak menikah. Meninggal dunia pada usia 91 tahun.

5. Abu ja’far ath-Thabariy 224-310 H

Beliau ahli tafsir, hadits, dan fiqih. Lahir di daerah Amula Negara Tabaristan. Suka mengembara ke Khurashan, Irak, sayam, dan Mesir untuk menuntut ilmu. Telah hafal al-Qur’an pada umur 7 tahun, menjadi imam shalat sejak umur 8 tahun, menulis hadits sejak umur 9 tahun, mengembara ke daerah lain untuk menuntut ilmu sejak umur 12 tahun (236 H), menulis kitab sebanyak 40 lembar setiap harimya selama 40 tahun. Beliau memasuki kota Baghdad setelah Imam Ahmad wafat (241 H), sehingga tidak sempat bertemu dengannya.

Karya beliau yaitu Jami’ al-Bayan fi Wujuhi Ayi al-Qur’an, Tarikh ar-Rasuli wal Anbiya’ wal Muluk wal Umam, Tadzib al-Atsari wa Tafshil ats-Tsabit an Rasulillah n min al-Akhbari (belum selesai), Adab an-Nufus al-Jayyidah wal Akhlaq an-Nafisah

Abu Ja’far menulis hadits dari Ibnu Humaid sebanyak 100.000 hadits lebih ketika mengadakan perjalanan ke Kufah. Beliau mendengar hadits dari Abu Kuraib 100.000 hadits lebih.  Meninggal dunia pada usia 86 tahun.  Banyak orang yang menshalatinya di atas kuburannya selama berbulan-bulan siang dan malam.

6. Abu bakar bin al-Anbariy 271-328 H

Lahir di Baghdad, hafal 300.000 bait sya’ir yang memperkuat makna-makna al-Qur’an, hafal 120 tafsir al-Qur’an lengkap dengan sanad-sanadnya, cepat meghafal.  Beliau meninggalkan sekitar 30 kitab masing-masing kitab terdiri dari 50.000 lembar halaman lebih.

7. Abu Ali al-Farisi 288-377 H

Lahir di kota Fasa Negara Persia. Pada tahun 307 H pergi ke Baghdad untuk mencari ilmu lalu tinggal di sana, setelah itu melakukan perpindah tempat dan kota.  Meninggal pada usia 89 tahun.  Meninggalkan sekitar 25 kitab tentang ulumul qur’an dan bahsa Arab.

8. Abu Nashr as-Sijzi wafat 444 H

Nama lengkapnya Ubaidilah bin Said Hakim bin Ahmad al-Waili al-Bakari.  Beliau hafidz, imam para ahli hadits pada masanya.  Abu Ishaq al-Habbal berkata, “Pada suatu hari, aku berada di rumah Abu Nashr .  Tiba-tiba ada seorang yang mengetuk pintu, maka aku berdiri membukakannya.

Ternyata, dia seorang wanita yang membawa sebuah kantong uang berisi 1000 dinar.  Dia meletakkkannya dihadapan Abu Nashr dan berkata, “Gunakanlah uang ini sesukamu !’ Abu Nashr pun bertanya, “Apa maksudmu?` Wanita itu menjawab, “Menikahlah denganku.

Sebenarnya aku tidak ingin menikah, tetapi aku hanya ingin membantumu.” Mendengar itu, syaikh Abu Nashr menyuruh wanita tersebut untuk mengambil kantong berisi uang itu dan membawanya keluar. Setelah wanita itu keluar syakh Abu Nasrh berkata, “Aku datang dari negeriku Sajastan dengan niat menuntut ilmu. Jika aku menikah, maka niatku itu akan luntur dan melemah.  Oleh karena itu, aku tidak akan melakukan sesuatu yang dapat memalingkanku dari menuntut ilmu.` Beliau wafat di Makah.

9. Abu Sa’ad as-Samman 371-445 H

Beliau seorang hafidz, zuhud, menguasai ilmu qira’at, hadits, rijal, fara’id dan hisab. Beliau belajar kepada 3000 ulama` pada masanya. Dengan melakukan perjalanan ke Irak, Syam, Hijaz dan Maghrib.  Beliau berkata, “Barangsiapa yang tidak menulis hadits, maka ia tidak bisa merasakan manisnya islam.”  Wafat di kota Rayyi dalam keadaan senyum, dan dimakamkan di gunung Tabarak, dekat makam imam asy-Syaibani, dalam usia 74 th.

10. Abu Barakat al-Baghdadi 462-538 H

Beliau seorang hafidz, alim dan ahli hadits dari Baghdad. Beliau mendengarkan hadits dari Abu Muhammad Hazarmurdi ash-Sharifini, Abu Husain bin Naqur, Abu Qasim Abdul Aziz bin Ali Anmathi, Ali bin Muahammad al-Bundar dan lain-lain. Karya beliau seperti kitab al-Ja`diyat, Musnad Ya’kub al-Fasawi, Musnad Ya`kub al Fawasi, Musnad Ya’kub as-Sadusi dan intiqa al-Baqqal. Meninggal pada usia 76 tahun. Dan banyak juga ulama` yang meriwayatkan hadits darinya, seperti Ibnu Jauzi, Abu Sa’ad as-sam’ani, Ibnu Sakir dan Ibnu Asakir dan lain-lain.

11. Ibnu Khasyab 492-567 H

Nama aslinya Abdullah bin Ahmad bin Khasyab al-Hanbali al-Baghdadhi.  Seorang ahli nahwu pada zamannya, bahkan ada yang mengatakan bahwa derajatnya setingkat dengan Abu Ali al-Farisi, ahli tafsir, hadits, fara’id, mantiq, filsafat, lughah, dan hisab.

Beliau dalam bidang hadits dikenal dengan perawi yang tsiqah, jujur, mulia dan menjadi hujjah. Akan tetapi beliau kurang menjaga sikap dan penampilan sebagai orang yang berilmu.  Beliau bakhil baik dalam berpakaian dan segi-segi kehidupan lainnya, senang bermain catur di pinggir jalan, berkumpul dengan para pecinta binatang kera dan binatang lainnya, suka bercanda dan bermain-main.  Sorban di kepalanya tidak pernah dicuci sampai hitam. Disamping itu tidak ada seorang ulama pun yang wafat kecuali Ibnu Khasab telah membeli kitabnya, sehingga hampir memiliki semua kitab karangan para ulama’ dalam berbagai bidang.

12. Ibnu al-Manni 501-583 H

Nama aslinya Abu Fathi Nasihuddin al-Hanbali ulama’ Irak ahli fiqih belajar dari Abu Bakr ad-Dinawari. Meninggal pada hari Sabtu 4 Ramadhan dan dimakamkan pada hari Ahad. Masyarakat datang dari berbagai daerah dan sangat banyak. Karena merasa khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diingginkan, maka para penguasa menugaskan sejumlah pasukan bersenjata untuk mengawal jenazah beliau.

13. Jamaluddin Abu al-Hasan 586-646 H

Dilahirkan di kota Qifthi, Mesir dan dibesarkan di Kairo. Beliau seorang qadhi (hakim). Mengarang banyak kitab. Sebelum wafat beliau mewasiatkan agar kitab-kitabnya diserahkan kepada Nashir (pemua Halab). Kitab-kitabnya bernilai 50.000 dinar.

14. Imam Nawawi 631-676 H

Nama lengkapnya Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi al-Hizami al-Haurani asy-Syafi’i. Beliau menghafal kitab at-Tanbih dalam waktu empat setengah bulan.  Dalam tahun yang sama beliau berhasil membaca dan menghafal seperempat kitab al-Muhadzdzab.

Beliau tidak pernah memakan buah-buahan.  Beliau berkata, “Aku tidak mau memanjakan tubuhku, karena hal itu akan menyebabkan kantuk selalu datang.”  Dalam satu hari satu malam, beliau hanya makan dan minum sekali saja ketika sahur.
Karya beliau: Syarh shahih muslim, Riyadhus shalihin, al-Adzkar, al-Arba’in, al-Irsyad fie Ulum al-Hadits, al-Mubhamaat, Tahrir al-Alfadz li at-Tanbih, al-Umdah fie Tashhih at-Tanbih, al-Idhah fi Manasik, at-Tibyan fie Adabi Hamlati al-Qur’an, Fatawa, ar-Raudhah, al-Majmu’

15. Ibnu Taimiyah 661-728 H

Beliau telah mengarang 500 kitab. Dalam usia 19 tahun telah memberikan fatwa dan menyusun kitab. Beliau ahli nahwu, hadits dan tafsir. Beliau sering keluar masuk penjara sehingga wafat dalam penjara. Ketika wafat sekitar 60.000 orang datang melayat dan memakamkan jenazahnya.

16. Basyir al-Ghazzi 1274-1330 H

Lahir di kota Halab. Nama lengkapnya Muhammad Basyir bin Muhammad Hilal al-Halabi. Dijuluki al-Ghazzi, karena beliau dibesarkan di rumah saudara seibunya yang bernama Syaih Kamil al-Ghazzi al-Halabi. Beliau mulai menghafal al-Qur’an umur 7 tahun dan berhasil mengahafalnya selama satu tahun. Beliau ahli ilmu jam tangan, nahwu, menghafal al-Fiyah dalam waktu 20 hari.

17. Karimah binti Ahmad al-Marwaziyyah 365-463 H

Lahir di Marwa dan wafat di Makkah. Nama lengkapnya Karimah binti Ahmad bin Muhammad bin Abu Hatim al-Marwaziyah. Beliau seorang ahli hadits dan mengarang banyak kitab sekitar 100 kitab.

Allahu A'lam



No comments:
Write komentar