Penjelasan Ijarah atau Sewa Menyewa

 


Ijarah atau sewa menyewa adalah akad pengalihan  hak penggunaan atas suatu barang atau jasa untuk jangka waktu tertentu dengan kompensasi pembayaran uang sewa tanpa diikuti oleh perubahan kepemilikan atas barang tertentu.

Sebagai salah satu bentuk tolong menolong antara sesama manusia adalah saling memberi kemudahan, salah satu bentuknya adalah adanya akad ijarah atau sewa-menyewa. Banyak lembaga kita temukan pada zaman ini yang memperaktekkan akad ijarah, tapi tidak semua lembaga ini sesuai dengan perspektif islam, yang di dalam prakteknya masih ada pelanggaran menurut agama islam. Maka perlu bagi setiap muslim untuk mengetahui fiqih ijarah sesuai dengan pandangan islam.

Allah subhanahu wataala berfirman

قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ

 “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata wahai bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja dengan kita karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (QS. AlQashas:26)

وَإِنْ أَرَدْتُمْ أَنْ تَسْتَرْضِعُوا أَوْلَادَكُمْ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُمْ مَا آتَيْتُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِير

“Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, tidak dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al-Baqarah:233)

Kedua ayat di atas telah melukiskan dua konteks dimana Si majikan telah menyewa tenaga pekerjanya dengan bayaran berupa upah tertentu. Dan, yang menjadi dalil dari ayat tersebut di atas adalah ungkapan “apabila kamu memberikan pembayaran yang patut”. Ungkapan tersebut menunjukkan adanya jasa yang diberikan berkat kewajiban membayar upah (fee) secara patut. Dalam hal ini termasuk didalamnya jasa penyewaan.

Hadits Nabi yang dapat dijadikan dasar hukum beroperasionalnya kegiatan ijarah, meliputi :

عن ابن عنر قال رسول الله: أعطوا الاجير أجره قبل أن يجف عرقه

“Dari Ibnu Umar r.a. bersabda Rasullah Saw. Berikanlah upah (sewa) Buruh itu sebelum kering keringatnya”. (HR. Ibnu Majah)

Dari Abi Said al-Hudry r.a. bahwa Rasullah Saw. Telah bersabda:

من استأجر اجيرا فليعلمه أجره

“Barang siapa memperkerjakan pekerja hendaklah menjelaskan upahnya”.[ lihat dalam kitab al-Wajiz fi al-Fiqhi al-Islami hal. 119 Vol. III]

Diriwatkan Dari Ibnu Abbas Bahwa Rasullah Saw. Bersabda:

 ان النبي صلى الله عليه و سلم احتجم و اعطى الحجام أجره

“Bahwasanya Rasulullah berbekam keudian meberikan upah pada tukang bekam itu”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ibnu Rusyd berkata dalam bukunya Bidayatul Mujtahid mengatakan: “Sunguh ijarah itu diperbolehkan oleh semua fuqaha amshar (semua kota)”.

Sebagaimana perkataan Ibnu Qudamah bahwa :”Seluruh ahli ilmu disegala zaman dan semua tempat telah bersepakat mengenai kebolehan sewa menyewa kecuali apa yang dikatakan Abdurrahman bin Ashim “Bahwa tidak diperbolehkan (sewa menyewa) karena terdapat ketidak jelasan/gharar  yakni melakukan akad terhadap suatu manfaat yang belum ada” pendapat ini keliru karena pendapatnya tidak dapat menolak kesepakatan ijma yang telah terjadi dimasa-masa sebelumnya dan telah berlaku diberbagai negeri”.[ al-Mughni, (Riyad, Maktabah Riyadh al-Haditsiyah, tt) vol. 8, hlm. 6]

Dilihat dari segi objeknya, Ijarah dibagi menjadi 2 macam, yaitu Ijarah manfaat benda (barang ) dan Ijarah pekerjaan (jasa).

Ijarah manfaat benda (barang) dibagi menjadi 3 macam, diantaranya:

Pertama Ijarah benda yang tidak bergerak (‘iqar), yaitu mencakup benda-benda yang tidak dapat dimanfaatkan kecuali dengan menggunakannya, seperti: sewa rumah untuk ditempati atau sewa tanah untuk ditanami.

Kedua Ijarah kendaraan (kendaraan tradisional maupun modern) seperti: unta, kuda dan benda-benda yang memiliki fungsi sama seperti mobil, pesawat dll.

Ketiga Ijarah barang-barang yang bisa dipindah-pindahkan, seperti: baju, perabotan dan tenda.

Hukum ijarah manfaat ini berkonsekuensi pada penggunaan barang yang disewakan, seperti menyewa rumah, maka boleh menggunakannya sesuai dengan keinginan penyewa selagi tidak berlebihan dan dilarang oleh syar’i. Jika penyewa menggunakan barang sewaan sesuai dengan prosedur/aturan pakai dan barang sewaan itu rusak maka yang bertanggung jawab adalah yang memiliki barang (memberi sewa).

Ijarah yang berupa manfaat manusia merupakan Ijarah yang objeknya adalah pekerjaan atau jasa seseorang, seperti: buruh bangunan, tukang jahit, dan buruh pabrik. Ijarah jenis ini dibagi menjadi 2 macam, yaitu:

Pertama Ijarah manfaat manusia yang bersifat khusus (khas), yaitu seseorang yang disewa tenaga atau keahliannya secara khusus oleh penyewa untuk waktu tertentu dan hukumnya dia tidak boleh melakukan pekerjaan lain kecuali pekerjaan atau jasa untuk penyewa tersebut, seperti pembantu rumah tangga yang hanya mengerjakan pekerjaan untuk majikannya bukan pada yang lain.

Kedua Ijarah manfaat manusia yang bersifat umum (musytarik), yaitu pekerjaan atau jasa seseorang yang disewa atau diambil manfaatnya oleh banyak penyewa. Misal: tukang besi, tukang laundry, dan tukang jahit.

Jumhur ulama mengemukakan bahwa ijarah mempunyai 3 rukun

Pertama adalah sighat (ucapan) yang terdiri dari tawaran (ijab) dan penerimaan (qabul).

Kedua adalah pihak yang berakad (berkontrak) yang terdiri dari pemberi sewa (lessorpemilik asset), serta penyewa (lesee-pihak yang mengambil manfaat dari penggunaan asset).

Ketiga adalah objek sewa yang terdiri dari manfaat dari penggunaan asset dan pembayaran sewa (harga sewa).

Penyewa tidak wajib mengganti barang sewaan yang rusak kecuali jika dia lalai dari mejaganya. Karena hal-hal yang menjadikan penyewa itu bertanggungjawab mengganti barang sewaan ketika ia lalai dari menjaganya atau memang sengaja merusaknya dan melanggar syarat orang yang menyewakan (pemilik barang). Tapi Malikiyah dan kedua murid besar imam Abu Hanifah -abu yusuf dan asy-syaibani- berpendapat penyewa tetap harus bertanggungjawab terhadap barang sewaan meskipun rusaknya tidak disengaja, kecuali jika karena kebakaran umum, atau tenggelam dan sejenisya, sebagaiman yang dilakukan Umar untuk kehati-hatian terhadap harta orang lain.

Menurut Jumhur Ulama, akad Ijarah tidak batal dengan wafatnya salah seorang yang berakad, karena menurut Jumhur Ulama manfaat itu boleh diwariskan dan Ijarah sifatnya mengikat kedua belah pihak.

Tenggang waktu yang disepakati dalam akad Ijarah telah berakhir. Apabila yang disewakan itu rumah, maka rumah itu dikembalikan kepada pemiliknya dan apabila yang disewa itu jasa seseorang maka ia berhak menerima upahnya.

Menurut jumhur ulama, uzur yang boleh membatalkan akad Ijarah itu hanyalah apabila objeknya mengandung cacat atau manfaat yang dituju dalam akad itu hilang, seperti kebakaran atau dilanda banjir.

Berakhir dengan Iqalah yaitu pembatalan akad atas dasar kesepakatan antara kedua belah pihak. Hal ini karena Ijarah merupakan akad pertukaran harta dengan harta yang diambil manfaatnya.

Allahu A'lam




No comments:
Write komentar