Debat Capres Kedua Tanpa Audiens di Belakang Capres

 


Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengubah format tempat duduk untuk para audiens yang akan hadir pada debat ke-2 Pilpres 2019 esok. Pasalnya KPU mendapat keluhan dari berbagai pihak karena pada debat pertama 17 Januari 2019 lalu, para audiens di belakang Pasangan Calon (Paslon) dinilai mengganggu.

Hal tersebut diungkapkan oleh Komisioner KPU RI Wahyu Setiawan yang mengatakan terutama pemirsa televisi dan warganet yang menonton melalui streaming.

"Jadi dalam tata panggung itu kemarin ada masukan dari berbagai komponen masyarakat, audien di belakang kandidat itu mengganggu pemirsa TV dan warga net dalam menonton," ujar Wahyu.

Sehingga Wahyu menjelaskan pada debat ke-2 besok seluruh audien berada di depan kedua Capres Jokowi dan Prabowo.

"Debat kedua format panggung kita perbaiki, dibelakang kandidat tidak ada audien sehingga tidak ada riuh rendah yang ada dibelakang kandidat," ungkap Wahyu.

"Karena debat ini tidak hanya untuk undangan yang hadir, tapi untuk seluruh rakyat Indonesia. Jadi kalau ada yang merasa terganggu dengan format itu, ya harus kami perbaiki," tambah Wahyu.

Diketahui debat ke-2 yang hanya mempertemukan Capres 01 Joko Widodo dan Capres 02 Prabowo Subianto itu rencananya akan dimulai pukul 20.00 WIB besok, Minggu (17/2/2019) di Ballroom Hotel Sultan Tanah Abang Jakarta Pusat.

Pekerja menyiapkan panggung untuk debat kedua Calon Presiden Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (15/2/2019). Debat kedua akan berlangsung pada Minggu 17 Februari 2019 pukul 20.00 WIB dengan tema energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup.

Komisi Pemilihan Umum ( KPU) menggelar geladi kotor debat kedua Pilpres 2019 pada Sabtu (16/2/2019). Geladi dilakukan bersama pihak media penyelenggara debat dan moderator.

Panggung debat telah tertata rapi. Panggung berbentuk setengah lingkaran, dengan layar besar di bagian tengah dan dua layar kecil di bagian kanan dan kiri panggung.

Terdapat pula dua layar yang ukurannya lebih kecil yang ditempatkan di samping kanan dan kiri panggung. Dua layar itu menunjukkan penghitung waktu. Di atas panggung, ada empat pilar yang mengapit ketiga layar.

Adapun peserta debat akan ditempatkan di sisi kanan dan kiri panggung, disiapkan masing-masing sebuah kursi dan meja kecil untuk para capres. Di atas panggung, juga terdapat meja panjang dan dua kursi yang disiapkan untuk dua moderator.

Sementara itu, kursi-kursi penonton tengah ditata petugas dan dilapisi dengan kain berwarna hitam Di luar ruangan debat, terbentang karpet panjang berwarna merah yang menghubungkan pintu masuk ballroom hotel hingga ke ruangan debat. Terdapat wall of fame yang diletakkan di luar ruangan debat dan di luar ballroom.

Pada debat besok, Ketua KPU Arief Budiman telah memilih dua moderator yakni Tommy Tjokro dan Anisha Dasuki. Arief mengatakan dipilihnya finalisasi penentuan nama moderator telah disetujui dalam rapat bersama kedua tim pemenangan capres-cawapres 01 dan 02 pada akhir Januari Lalu.

Sementara diketahui pertanyaan debat untuk kedua pasangin ini disusun oleh tim panelis yang beranggotakan sejumlah rektor dari perguruan tinggi.

Diantaranya ada Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember Joni Hermana, Rektor Institut Pertanian Bogor Arif Satria, Ahli Pertambangan Institut Teknologi Bandung Irwandy Arif, Pakar Energi Universitas Gadjah Mada Agus Setiawan dan Pakar Lingkungan Hidup Universitas Diponegoro Sudharto Prawata Hadi. Adapula Direktur Eksekutif Walhi Nur Hidayati serta Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika. Debat akan disiarkan oleh empat stasiun televisi yakni RCTI, GTV, MNC TV dan INews TV.

Pakar psikologi politik dan juga politikus PKS Irfan Aulia Syaiful menilai bahwa Joko Widodo (Jokowi) tampil agresif dalam debat Capres-Cawapres perdana yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Hotel Bidakara, Jakarta, (17/1/2019).

Salah satunya yakni saat menanyakan kepada Prabowo mengenai adanya caleg mantan koruptor di Partai Gerindra. Menurutnya pertanyaan tersebut mencerminkan Jokowi sedang tertekan.

"Pak Jokowi terlalu cepat menembak, gak sabar. Dan orang yang cepat nembak biasanya karena tertekan. Saya lebih suka yang empiris saja, kalau dari teman-teman survei, memang dia (Jokowi) mungkin dikalahkan dan itu menurut saya cukup mengganggu," katanya dalam acara Pojok Jubir 'Debat Pilpres Perdana, Antara Gaya atau Subtansi' di Media Center Prabowo-Sandi, Jalan Sriwijaya I, Jakarta Selatan, Senin (21/1/2019).

Ia menduga bahwa sikap agresif tersebut karena faktor perbedaan elektabilitas kedua pasangan calon yang kian menipis. Apalagi berdasarkan sejumlah survei masih banyak masyarakat yang belum menentukan pilihan di Pilpres 2019.

"Pilpres ini masih ada sekitar 3 bulan lagi dan masih banyak orang yang belum menentukan pilihan, di atas 10 persen. Di pilpres Amerika saja angka 1 persen itu angka yang sangat menentukan siapa yang jadi presiden, apa lagi di Indonesia yang lebih cair," tuturnya.

Hal tersebut berbeda dengan Prabowo. Mantan Danjen Kopassus tersebut, kata Irfan, justru tampil mengejutkan di luar prediksi. Prabowo tampil tenang padahal merupakan oposisi.

"Memang Prabowo itu otentik ya, gak bisa diatur tapi itulah dia. Saya agak kaget juga kok dia tampilkan sesuatu yang unik, baru dan tidak ditampilkan sebelumnya, yaitu lebih tenang dan lebih sopan, bahkan terlalu sopan untuk oposisi," katanya.

Irfan mengatakan bahwa para pemilih pemula yang belum menentukan pilihannya akan tergantung bagaimana ke dua pasangan calon berkampanye di menit menit akhir.

Ia mengatakan bila perbedaan elektabilitas ke dua pasangan calon tersebut masih tipis, maka para pemilih pemula itulah yang akan menentukan siapa pemenang Pilpres 2019.

"Jadi orang-orang ini akan memilih di menit terakhir. Menit terakhir ini yang menang adalah yang berlari maraton, bukan yang sprint, karena mereka akan memilih di tujuh hari terakhir. Di situ Pak Jokowi nembaknya kecepatan. Di sinilah stamina penting, endurance penting," pungkasnya.




No comments:
Write komentar