Bolehkah Shalat Jum’at di Lapangan ?

 

Hadits sahabat Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu, beliau berkata:


أَوَّلُ مَنْ جَمَّعَ بِنَا فِى هَزْمِ النَّبِيتِ مِنْ حَرَّةِ بَنِى بَيَاضَةَ فِى نَقِيعٍ يُقَالُ لَهُ نَقِيعُ الْخَضِمَاتِ.


Orang pertama yang memimpin kami mendirikan sholat Jum’at di tanah bekas genangan air di kampung Bani Bayadhah, di tanah bekas genangan air yang dikenal dengan sebutan Naqi’ Al Khadhimaat.  (HR. Abu Dawud dan lainnya).


Dengan jelas pada kisah pelaksanaan shalat Jum’at pertama kali di Kota Madinah ini dilaksanakan di tempat terbuka tanpa bangunan sama sekali, apalagi Masjid.


Seusai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun Masjid Quba’, tepatnya pada hari Jum’at, beliau bergegas menuju lokasi Masjdi Nabawi. Di tengah jalan tepatnya di perkampungan Bani Salim bin ‘Auf, tiba waktu sholat Jum’at, maka beliau mendirikan sholat Jum’at bersama sahabatnya yang berjumlah 100 orang, tepatnya di lembah Ar Ranuna’. Dan kala itu, di perkampungan tersebut, belum ada bangunan masjid.


Imam Ibnu Qudamah mengutarakan bahwa sholat Jum’at adalah shalat ied yang dilakukan setiap pekan, sebagaimana sholat ied yang dilakukan sekali setahun boleh ditunaikan di lapangan, maka demikian pula halnya dengan shalat ied yang dilakukan setiap pekan.


Imam Ibnu Qudamah al hambali juga berkata: “Karena hukum asalnya tidak dipersyaratkan hal ini, dan tidak ada teks ayat atau hadits atau yang semakna dengan keduanya yang nyata-nyata mensyaratkan hal ini, karena itu hal ini tidak dapat dianggap sebagai syarat sahnya sholat Jum’at.”


Hanya imam Malik yang meyelisihi masalah ini, dan mewajibkan shalat jum’at di masjid. Namun dalil-dalil beliau kurang begitu kuat, bahkan karena menyadari bahwa secara pendalilan mazhab Imam Malik kurang kuat, maka Imam Ibnu Rusyud Al Maliky berkata: Imam Malik berpendapat bahwa Masjid merupakan syarat sahnya sholat Jum’at, karena lebih sejalan dengan maksud disyari’atkanya sholat Jum’at. Sampai sampai al mutaakkhirun dari penganut mazhab beliau bersilang pendapat apakah keberadaan atap termasuk syarat suatu bangunan dikatakan masjid atau tidak? Dan apakah disyaratkan pula bahwa masjid tersebut bisa digunakan untuk pelaksanaan sholat jum’at atau tidak dipersyaratkan?


Semua perincian ini lebih tepat dianggap sebagai bentuk menyusahkan diri sendiri, padahal agama Allah itu mudah. Dan sangat beralasan bila ada orang yang berkata: andai hal hal ini benar benar merupakan syarat sahnya sholat Jum’at, maka tidak mungkin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diam dan tidak menjelaskannya, karena Allah Ta’ala berfirman:


لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ


Agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka. (An Nahel 44)


لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُواْ فِيهِ


agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan. (An Nahel 64).


Allahu A'lam


No comments:
Write komentar