Saya Bukan Orang Cina

 

Tadi malam waktu duduk depan kabah sambil menunggu shalat isya, tiba-tiba datang orang nigeria duduk samping saya. Kulitnya hitam khas orang afrika. Bajunya longgar dengan corak peradaban negaranya. Dia memandang saya sambil menjulurkan tangannya mengajak salaman. Saya lihat tangannya mempunyai dua warna. Punggung tangannya berwarna hitam dan perut tangannya berwarna coklat sedikit merah.


Saya tersenyum sambil menjabat tangannya. Dia bilang "I am from nigeria". Saya hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Lalu dia bilang lagi "You from China". Mendengar perkataan ini senyum saya semakin lebar. Dalam hati emang saya ada potongan wajah cina ya..hehe. Tak lama kemudian saya menjawab "I am from Indonesia". Dia pun tersenyum dan melanjutkan kegiatannya berdoa menghadap kabah.


Kejadiaan seperti ini bukan pertama kalinya saya disebut orang cina. Tidak sedikit orang yang berkenalan menanggap saya orang cina. Padahal saya asli keturunan indonesia. Ibu Bapa saya suku sunda tulen dan mereka tinggal dalam satu daerah. Maklum zaman dulu orang sunda hanya boleh nikah sama orang sunda lagi. Begitu pepatah yang saya dengar dari nenek.


Sebenarnya saya tidak risih dibilang dari Cina. Karena hadist maudhu yang tersebar di indonesia mengatakan "Carilah ilmu walau ke negri Cina". Hal ini menandakan orang cina mempunyai kelebihan sehingga dianjurkan untuk belajar ke negri mereka. Lihatlah, hampir semua barang yang ada di dunia ini bertuliskan "Made in China". Bukankah ini sebuah alamat bahwasannya produk buatan orang cina sudah mendunia. Hal ini tidak akan terjadi jika orang cina perilakunya pemalas dan bukan pekerja keras.


Namun celakanya tahun 2018 di Indonesia adalah tahun panasnya suhu politik. Dan orang cina menjadi salah satu faktor penambah panasnya suhu politik indonesia. Bayangkan saja Indonesia hutang ke cina. Pekerja asing banyak datang dari cina. Gaji pekerja cina lebih besar dari pekerja lokal padahal bidangnya sama. Narkoba ratusan ton datangnya dari cina. Dan klimaksnya ahok penista Al Quran juga keturunan cina.


Maka faktor itulah yang membuat saya tidak mau dikatakan seperti orang cina. Saya lebih bangga dikatakan orang Indonesia. Terlebih jika saya dikatakan orang sunda. Jadi jangan bilang saya orang cina. Pokonya jangan dan jangan. Sudah cukup orang nigeria tadi yang terakhir mengatakan saya orang cina. Tidak ada lagi yang boleh mengatakan saya orang cina. Tidak ada.


Makkah, 07 Al Muharam 1440


No comments:
Write komentar