Apa yang Dimaksud dengan Mukjizat ?

 

Kata mukjizat turunan dari kata al-Ajz yang artinya tidak mampu untuk melakukan sesuatu. Sementara secara istilah syar’i, mukjizat adalah kejadian luar biasa yang Allah berikan kepada para nabi-Nya sebagai bukti status kenabian mereka. (ar-Rusul wa ar-Risalat, Umar al-Asyqar, hlm. 86).


Ar-Razi memberikan definisi mukjizat secara urf (istilah masyarakat), "Kejadian luar biasa, yang diiringi dengan tantangan, tanpa ada satupun perlawanan." (Lawami’ al-Anwar al-Bahiyah, 2/289)


Sementara itu, dalam al-Quran Allah menyebut mukjizat dengan ayat. Allah berfirman,


وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى تِسْعَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ


"Sungguh Aku telah berikan kepada Musa 9 ayat yang jelas." (QS. al-Isra: 101)


Yang dimaksud kata "9 ayat" pada ayat di atas adalah mukjizat. Semua mukjizat, datangnya dari Allah. Makhluk tidak mampu menciptakannya. Ini murni pemberian dari Allah. Hanya saja, dilihat dari sebabnya, bisa kita simpulkan ada 2:


[1] Mukjizat yang diberikan oleh Allah kepada nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum sang nabi itu menghadapi musuhnya. Seperti yang dialami Musa ‘alaihis shalatu was salam. Beliau diberi beberapa mukjizat sebelum beliau menghadapi Firaun. Allah berfirman menceritakan awal mula Musa diangkat jadi nabi,


فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الْأَيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ . وَأَنْ أَلْقِ عَصَاكَ فَلَمَّا رَآَهَا تَهْتَزُّ كَأَنَّهَا جَانٌّ وَلَّى مُدْبِرًا وَلَمْ يُعَقِّبْ يَا مُوسَى أَقْبِلْ وَلَا تَخَفْ إِنَّكَ مِنَ الْآَمِنِينَ . اسْلُكْ يَدَكَ فِي جَيْبِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ وَاضْمُمْ إِلَيْكَ جَنَاحَكَ مِنَ الرَّهْبِ فَذَانِكَ بُرْهَانَانِ مِنْ رَبِّكَ إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ


“Maka tatkala Musa sampai ke (tempat) api itu, diserulah dia dari (arah) pinggir lembah yang sebelah kanan(nya) pada tempat yang diberkahi, dari sebatang pohon kayu, yaitu: “Ya Musa, sesungguhnya aku adalah Allah, Tuhan semesta alam. Dan lemparkanlah tongkatmu. Maka tatkala (tongkat itu menjadi ular dan) Musa melihatnya bergerak-gerak seolah-olah dia seekor ular yang gesit, larilah ia berbalik ke belakang tanpa menoleh. (Kemudian Musa diseru): “Hai Musa datanglah kepada-Ku dan janganlah kamu takut. Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang aman. Masukkanlah tanganmu ke leher bajumu, niscaya ia keluar putih tidak bercacat bukan karena penyakit, dan dekapkanlah kedua tanganmu (ke dada)mu bila ketakutan, maka yang demikian itu adalah dua mukjizat dari Tuhanmu (yang akan kamu hadapkan kepada Fir’aun dan pembesar-pembesarnya). Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. al-Qashas: 30 – 32)


Allah tunjukkan kepada Musa beberapa Mukjizatnya, seperti tongkat bisa berubah menjadi ular, tangan dimasukkan ke kerah baju, ketika dikeluarkan memancar cahaya putih, dan beliau diminta mendekapkan kedua tangan ketika ketakutan. Setelah itu, beliau diperintahkan untuk mendatangi Firaun.


[2] Mukjizat yang diberikan Allah karena permintaan orang-orang kafir yang menentangnya. Seperti yang terjadi pada Nabi Soleh ‘alaihis salam, umatnya menantang beliau untuk menjadikan onta dari batu. Allah menceritakan hal ini di surat as-Syu’ara,


كَذَّبَتْ ثَمُودُ الْمُرْسَلِينَ . إِذْ قَالَ لَهُمْ أَخُوهُمْ صَالِحٌ أَلَا تَتَّقُونَ . إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ


Kaum Tsamud telah mendustakan rasul-rasul. Ketika saudara mereka, Shaleh, berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu..


Lalu mereka meminta bukti kenabian Soleh, dan dibuktikan oleh Allah,


قَالُوا إِنَّمَا أَنْتَ مِنَ الْمُسَحَّرِينَ . مَا أَنْتَ إِلَّا بَشَرٌ مِثْلُنَا فَأْتِ بِآَيَةٍ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ قَالَ هَذِهِ نَاقَةٌ لَهَا شِرْبٌ وَلَكُمْ شِرْبُ يَوْمٍ مَعْلُوم


Mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir; (153) Kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami; maka datangkanlah sesuatu mukjizat, jika kamu memang termasuk orang-orang yang benar”. (154) Shaleh menjawab: “Ini seekor unta betina, ia mempunyai giliran untuk mendapatkan air, dan kamu mempunyai giliran pula untuk mendapatkan air di hari yang tertentu.. (QS. as-Syu’ara’: 141 – 155)


Ibnu Katsir menjelaskan, "Para ahli tafsir menyebutkan, bahwa kaum tsamud berkumpul di pusat keramaian mereka. Lalu datang Nabi Soleh, mengajak mereka untuk kembali kepada Allah, menasehati mereka dan memerintahkan mereka untuk bertauhid.


Lalu mereka menantang, "Coba, bisa gak kamu mengeluarkan onta dengan sifat-sifat seperti ini dari batu besar ini..!!‘


Jawab Nabi Soleh, "Jika saya bisa mendatangkan seperti yang kalian minta, apakah kalian akan beriman kepada apa yang kusampaikan?’


‘Ya, kami beriman!’ Jawab mereka.


Kemudian Nabi Soleh mengambil janji mereka. Lalu Nabi Soleh mengerjakan shalat di mushola beliau, kemudian berdoa kepada Allah untuk mengabulkan permintaan mereka. Akhirnya Allah perintahkan batu besar itu untuk merekah dan mengeluarkan onta besar sesuai yang diminta orang kafir itu. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/157).


Allahu a’lam.


No comments:
Write komentar