Hukum Muadzin Menyambung Bacaan Takbir Imam dengan Keras

 

Mengeraskan bacaan imam yang dilakukan salah satu makmum agar bisa didengar yang lain, disebut tabligh. Orang yang mengeraskan bacaan imam disebut al-Muballigh. Masalah tabligh imam, bukan termasuk hal yang baru dan tidak hanya terbatas untuk kejadian di masjid masjidil haram maupun masjid nabawi. bahkan ini sudah sering dilakukan oleh masyarakat di masa silam, karena mereka butuh hal ini.


Ada 2 pertimbangan ketika kita hendak menyimpulkan hukum tabligh,


[1] Pertimbangan tingkat kabutuhan (al-Hajah). Dengan memperhatikan sampai dan tidaknya jangkauan suara imam kepada makmum.


[2] Pertimbangan tujuan muballigh


Di sini kita fokus pada pertimbangan tingkat kaebutuhan dilakukannya tabligh terhadap suara imam. Pertimbangan tingkat kebutuhan dengan melihat jangkauan suara imam sampai ke makmum.


Para ulama sepakat, dianjurkan bagi imam untuk mengerasakan bacaan takbir, tasmi’ (ucapan sami’allahu liman hamidah), dan salam, agar bisa didengar makmum. (al-Fiqh al-Islami wa Adillatuh, 2/914)


Sementara, menurut Hanafiyah jika kerasnya imam melebihi kebutuhan, terhitung berlebihan dan tidak baik, namun tidak sampai makruh. (Rad al-Muhtar, 1/296)


An-Nawawi mengatakan, "Dianjurkan bagi imam untuk mengeraskan bacaan takbiratul ihram dan takbir intiqal, agar bisa didengar para makmum, sehingga mereka bisa mengetahui shalatnya imam. Jika suara imam lemah karena sakit atau yang lainnya, maka yang sesuai sunah hendaknya muadzin atau makmum lainnya mengeraskan suar imam, sehingga bisa didengar jamaah. Dan tidak ada perbedaan dalam hal ini." (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 3/398).


Kemudian an-Nawawi menyebutkan beberapa dalil, diantaranya hadis dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma,


اشْتَكَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّيْنَا وَرَاءَهُ، وَهُوَ قَاعِدٌ وَأَبُوبَكْرٍ يُكَبِّرُ لِيُسْمِعَ النَّاسَ تَكْبِيرَهُ


“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah sakit, lalu kami shalat di belakang beliau, sedangkan beliau dalam posisi duduk. Sementara Abu Bakr mengeraskan takbir beliau agar takbir beliau bisa didengar jamaah. (HR. Muslim 413, Abu Daud 606 dan yang lainnya).


Dalam riwayat lain, dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha,


فَأُتِيَ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أُجْلِسَ إِلَى جَنْبِهِ وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِالنَّاسِ وَأَبُو بَكْرٍ يُسْمِعُهُمُ التَّكْبِيرَ


“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dipapah, lalu didudukkan di samping Abu Bakr. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengimami jama’ah, sementara Abu Bakr mengeraskan takbir beliau, sehingga didengar mereka (jamaah).” (HR. Muslim 418).


Bagaimana dengan Tabligh di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi ?


Jika anda berada di sudut-sudut tempat sa’i atau di tempat tertentu, terkadang suara imam tidak terdengar jelas. Terutama ketika imam bergerak turun sujud atau atau bangkit ke rakaat berikutnya. Sementara banyak diantara mereka yang tertutup tembok, sehingga tidak melihat makmum depannya. Kondisi ini pernah kami alami sendiri ketika mengikuti shalat jamaah di mas’a (tempat sa’i). Sehingga, tabligh di masjidil haram dan masjid nabawi, sangat dibuhkan.


Bisakah ini diterapkan di masjid yang lain? Sekali lagi, ini kembali kepada kebutuhan.


Allahu a’lam.


No comments:
Write komentar