Hukum Membeli Ayam Tiren

 

Ayam Tiren, atau ayam mati kemarin hakikatnya adalah bangkai (Maitah). Dan semua bangkai diharamkan, Allah berfirman


حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ


“Telah diharamkan atas kalian bangkai dan darah dan daging babi”. (QS; Al-Maidah 3)


Allah juga berfirman :


إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةَ وَالدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِ اللَّهِ


“Sesungguhnya yang telah diharamkan atas kalian hanyalah bangkai dan darah, dan daging babi, dan hewan-hewan yang disembelih kepada selain Allah”. (Qs: Al-Baqarah 173)


Sesuatu yang telah diharamkan Allah, maka harganya pun haram, Nabi shallallahu ‘Alaihi Wasallam sabdanya,


إِنَّ اللهَ تَعَالى إِذَا حَرَّمَ شَيئًا حَرَّم ثَـمَنَه


“Sesungguhnya Allah Ta’ala apabila telah mengharamkan sesuatu, Allah haramkan juga harganya”. (Hadits riwayat Addaruquthniy dan Al-Baihaqiy dari Ibnu Abbas Radliyallahu ‘Anhuma, Syaikh Al-Albaniy menshahihkannya dalam Ghayatul Maram Fi Takhriji Ahaditsil Halali Wal Haram No. 318 )


Dengan demikian maka ayam tiren tidak boleh dijual belikan, walau pun digunakan untuk pakan lele, dan uang yang didapat dari jual beli tersebut haram. Keharaman menjual belikan bangkai juga disebutkan dengan sangat jelas oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda:


إِنّ اللهَ وَرَسُولَه حَرَّمَ بَيعَ الخَمرِ وَالميتَةِ وَالخِنزِيرِ وَالأَصْنَام


“Sesungguhnya Allah dan rasul-Nya telah mengharamkan khamr, dan bangkai, dan babi, dan berhala”. (Muttafaqun ‘Alaihi)


Imam Ibnu Qudamah Al-Hanbaliy Rahimahullah berkata, “Dan tidak boleh menjual-belikan babi, tidak juga bangkai, dan darah, Ibnul Mundzir berkata: “Ahli Ilmu telah ber-Ijma’ berpendapat dengannya dan mereka telah ber-Ijma’ atas keharaman bangkai dan khamr, dan atas menjual dan membeli babi haram”. (Al-Mughniy 6/358 / cet. Ke-5 Alamul-Kutub – Saudi Arabia)


Mungkin mereka menyangka dari pada bangkai ayamnya dibuang percuma dan sia-sia lebih baik dijual walau pun harganya murah. Namun ketahuilah, alasan ini tidak dapat diterapkan dalam masalah ini, sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selain mengharamkan jual beli bangkai, juga melarang memanfaatkan bangkai menjadi apa pun, Beliau bersabda,


لَا تَنتَفِعُوا مِنَ الـمَيتَة بِشَيءٍ


“Jangan kalian memanfaatkan bangkai untuk apa pun” (Hadits Shahih, telah di-Takhrij oleh Al-Albaniy dalam Silsilah Ash-Shahihah No. 3133)


Dan seorang muslim dituntut agar menerima ketentuan hukum yang datang dari Nabinya sehingga barulah imannya sempurna di sisi Allah,


فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا


“Maka tidaklah – demi Rabb-mu – tidaklah mereka beriman sampai mereka menghukumkan dirimu dalam masalah-masalah yang mereka perseterukan di antara mereka kemudian mereka tidak mendapatkan dalam diri mereka kesusahan dengan keputusan yang telah engkau putuskan dan mereka menerimanya dengan berserah.” (Qs; Annisa’ 65)


Setelah diketahui bahwa memperjual belikan bangkai ayam hukumnya haram, maka wajib bagi seorang muslim meninggalkannya, dan tidak perlu seorang merasa risau dan khawatir, sebab meninggalkan yang haram karena bertakwa kepada Allah keutamaannya akan diberikan ganti yang lebih baik dari apa yang telah ditinggalkan , Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :


إِنّكَ لَن تَدَعَ شَيئًا اتِّقَاء الله إِلّا أَعطَاكَ اللهُ خَيرًا مِنْهُ


“Sesungguhnya tidaklah engkau meninggalkan sesuatu karena takut kepada Allah kecuali Allah akan memberikanmu yang lebih baik darinya”. (HR: Imam Ahmad No. 20739 dalam Al-Musnad dan dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Arna’uth beserta timnya.)


Allahu a’lam.


No comments:
Write komentar