Apakah Shalat Jama Takhir Harus Sesuai Urutannya ?

 

Seperti yang kita pahami, men-jamak ada yang taqdim dan ada yang takhir. Untuk jamak taqdim sebagian menegaskan bahwa ulama sepakat harus sesuai urutan. Sehingga mereka yang menjamak shalat dzuhur dengan asar di waktu dzuhur, harus mendzahulukan dzuhur sebelum asar.


An-Nawawi menyebutkan, "Imam as-Syafii dan para ulama Syafiiyah mengatakan, apabila seorang musafir melakukan jamak di waktu yang pertama, ada 3 syarat agar jamaknya sah. yang pertama, tertib (sesuai urutan shalat). Wajib mendahulukan shalat yang pertama, karena shalat yang kedua sifatnya mengikuti, sehingga harus mendahulukan yang diikuti. Dan karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan jamak taqdim seperti ini, dan beliau bersabda, “Lakukanlah shalat sebagaimana kalian melihatku shalat.” Jika dia mulai dengan shalat yang kedua, maka tidak sah shalatnya, dan wajib diulangi dengan mengerjakan shalat pertama (al-Majmu’, 4/374).


Sementara untuk jamak takhir, apakah harus dikerjakan berurutan sesuai urutan shalat? Ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.


[1] Jumhur ulama berpendapat, wajib dilakukan sesuai urutan shalat.


Sehingga jamak takhir dzuhur dengan asar di waktu asar, harus mendahulukan dzuhur baru kemudian shalat asar.


Dalam Fatwa Lajnah dinyatakan, "Wajib tertib ketika jamak. dimana dia shalat dzuhur dulu, kemudian shalat asar. Dia shalat maghrib dulu, kemudian shalat isya. Baik jamak taqdim maupun jamak takhir. (Fatwa Lajnah Daimah, no. 425).


Keterangan yang lain disampaikan Ibnu Utsaimin, "Disyaratkan harus tertib, dimulai dengan shalat yang pertama kemudian shalat yang kedua. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Lakukanlah shalat sebagaimana kalian melihatku shalat.’ Karena syariat mengajarkan urutan waktu dalam shalat.


[2] Jamak takhir tidak wajib tertib sesuai urutan shalat. Artinya, boleh saja dikerjakan tanpa memperhatikan urutan shalat. Ini merupakan pendapat Syafiiyah.


Abdurrahman al-Jaziri menyebutkan pendapat Syafiiyah, "Tertib dan muwalah (berkelanjutan) ketika mengerjakan kedua shalat dalam jamak takhir hukumnya anjuran dan bukan syarat." (al-Fiqh ala al-Madzahib al-Arba’ah, 1/441)


Diantara dalil yang mendukung hal ini adalah hadis yang menceritakan tentang jamak ketika peristiwa perang Khandaq, "Kaum musyrikin membuat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak bisa mengerjakan shalat 4 waktu ketika perang Khandaq. Lalu beliau perintahkan Bilal untuk adzan, kemudian iqamah lalu shalat dzuhur, kemudian iqamah lagi lalu shalat asar, kemudian iqamah lagi lalu shalat maghrib, kemudian iqamah lagi lalu shalat isya." (HR. Ahmad 3555, Nasai 669 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)


Allahu a’lam


No comments:
Write komentar