Benarkah Cinta Tanah Air Bagian dari Iman ?

 

Terdapat perkataan yang sangat terkenal,


حُبُّ الوَطَنِ مِنَ الِإيمَانِ


“Cinta negeri bagian dari iman…”


Selanjutnya, ada beberapa catatan terkait perkataan ini,


Pertama, bahwa perkataan ini BUKAN hadis Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Para ulama hadis menegaskan perkataan ini sebagai hadis palsu. Diantaranya,


[1] as-Shaghani dalam al-Maudhu’at (daftar hadis palsu), memasukkan hadis ini pada daftar hadis palsu no. 81


[2] Muhammad al-Fattani dalam Tadzkiratul Maudhu’at (hlm. 11), dan beliau menegaskan bahwa tidak dijumpai sanadnya.


[3] Ali al-Qori dalam al-Maudhu’at al-Kubro (no. 164). Dan beliau sebutkan beberapa penilaian ulama hadis yang semuanya menegaskan bahwa hadis ini palsu.


[4] Ahmad al-Amiri dalam al-Jiddul Hatsits (no. 125). Beliau menegaskan, kalimat ini bukan hadis.


Kedua, apakah kalimat ini bisa diterima maknanya? Benarkah cinta negeri bagian dari iman?


Sebagian ulama seperti as-Sakhawi mengatakan bahwa makna kalimat ini benar. Namun pernyataan beliau dibantah oleh Ali al-Qori, dengan menukil keterangan al-Manufi,


Al-Manufi mengatakan, klaim bahwa kalimat ini benar maknanya sangat aneh. Karena tidak ada keterkaitan antara cinta negeri dengan iman. Kemudian beliau menyebutkan alasannya, bahwa sebatas bela negara, cinta negeri, orang kafir sekalipun bisa melakukannya. Allah berfirman menceritakan kondisi orang munafiq,


وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ


“Sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka…”(QS. an-Nisa: 66)


Andai orang munafiq diperintahkan seperti yang pernah diperintahkan Musa kepada kaumnya, yaitu taubat dengan bunuh diri atau meninggalkan kampung halamannya, niscaya mereka tidak akan mau melakukannya. Lalu Ali al-Qori mengatakan, “Ayat ini menunjukkan betapa cintanya mereka kepada negerinya, padahal mereka tidak beriman. Karena kata ganti ‘mereka’ di sini kembali kepada orang-orang munafiq.”


Selanjutnya Ali Qori menjelaskan, andai pernyataan tetap dipaksakan untuk diterima, beliau menyebutkan beberapa pendekatan makna yang benar, "Tidak diragukan bahwa makna hadis, ‘Cinta negeri bagian dari tanda iman’, ini tidak terjadi kecuali jika cinta ini khusus dimiliki orang yang beriman. Jika makna cinta berlaku bagi mukmin dan yang bukan mukmin, maka tidak bisa dipahami sebagai tanda iman."


Lalu beliau mengatakan, "Yang dzahir (nampak) mengenai makna hadis, jika shahih latar belakangnya, dibawa kepada pemahaman bahwa yang dimaksud dengan al-wathan (negeri asal) adalah surga. Karena tempat pertama bapak kita, Adam. Terlepas dari perbedaan, apakah Adam diciptakan di surga atau Allah memasukkannya ke dalam surga setelah tercipta sempurna. Atau maksudnya adalah kota Mekah, karena Mekah adalah ummul qura dan kiblat seluruh alam.


Beliau melanjutkan, "Atau bisa juga dipahami negara pada umumnya, namun dengan syarat, sebab cintanya kepada negerinya adalah untuk menyambung silaturahmi atau berbuat baik kepada penduduk negerinya, seperti orang miskin atau anak yatim di negaranya. (al-Maudhu’at al-Kubro, hlm. 181 – 183)


Allahu a’lam.


No comments:
Write komentar