Inilah Perbedaan Antara Ustadz dan Kiyai

 

Dalam al-Quran, Allah menyebut orang yang memiliki pemahaman agama yang benar dengan istilah “ulama” atau “ulul ilmi” (orang yang memiliki ilmu) atau “orang yang diberi ilmu” atau “Orang yang kokoh ilmunya”


Firman Allah,


إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ


“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28).


Di ayat lain, Allah berfirman,


وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا


“Tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” (QS. Ali Imran: 7)


Di ayat yang lain, Allah berfirman,


شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ


“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu).” (QS. Ali Imran: 18).


Kemudian, di ayat lain, Allah berfirman,


قَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ إِنَّ الْخِزْيَ الْيَوْمَ وَالسُّوءَ عَلَى الْكَافِرِينَ


“Berkatalah orang-orang yang telah diberi ilmu: “Sesungguhnya kehinaan dan azab hari ini ditimpakan atas orang-orang yang kafir.” (QS. An-Nahl: 27)


Dalam hadis, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut orang yang memiliki ilmu agama dengan istilah alim atau ulama. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِى السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِى الأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِى جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ


“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” (HR. Abu Daud 3641 dan dishahihkan al-Albani).


Ulama berarti orang yang memiliki ilmu agama. Dan mereka berbeda-beda tingkatan ilmunya. Siapa yang ilmunya membuat dia semakin takut kepada Allah, maka semakin tinggi tingkatan dan derajatnya. Karena itu, tidak menutup kemungkinan, ada orang yang dinggap berilmu, sehingga disebut ulama. Meskipun bisa jadi, kenyataan sejatinya berbeda dengan anggapan yang tersebar di tengah masyarakat.


Apapun itu, kita bisa membedakan antara istilah dengan panggilan. Ustad, Syaikh, Kiyai, Tuan Guru, Tengku, Ajengan, Buya, Bendoro, Datu, atau Gus, semua itu adalah panggilan untuk orang yang berilmu sesuai dengan bahasa masing-masing.


Untuk yang mengacu kepada bahasa arab ada 2:


[1] Ustad dalam bahasa arab [الأستاذ] artinya guru atau pengajar.


[2] Syaikh secara bahasa [الشيخ] artinya orang tua.


Sementara yang lain, berasal dari bahasa daerah.


Kiyai, sebutan untuk orang yang dihormati dalam masyarkat jawa, Tuan Guru di Nusa Tenggara, Teungku di Aceh


Ajengan di Jawa Barat (Sunda), Buya di Sumatra Barat, Bendoro di Madura, Datu di Kalimantan Timur. Semua itu hanya panggilan untuk menyebut orang yang berilmu di daerah atau komunitasnya masing-masing.


Allahu a’lam.


Sumber Referensi :
- QS. Fathir: 28
- QS. Ali Imran: 7
- QS. Ali Imran: 18
- QS. An-Nahl: 27
- HR. Abu Daud 3641


No comments:
Write komentar