Bersyukur yang Tak Pernah Mudah

 

BERSYUKUR seringkali terlihat mudah. Padahal itu bukan sekadar mengucap Alhamdulillah. Atau mengadakan syukuran dari sederhana hingga mewah. Ada pula yang mewujudkan dalam bentuk sedekah. Namun justru pasca itu kegelisahan kembali merekah.


Ada hal-hal yang seringkali kita lupakan dari syukur itu sendiri. Ketika kita melalaikan amanah jabatan, padahal tak semua orang mendapat kesempatan memegang tampuk amanah yang telah dipercayakan. Ketika kita bermalas-malasan dalam pekerjaan, padahal di luar sana masih banyak pengangguran.


Bahkan terkadang ada hal-hal kecil yang kita anggap itu biasa, namun barangkali itu bentuk kekufuran. Makanan yang tidak kita habiskan, padahal nun jauh di papua sana masih ada anak-anak yang kelaparan. Listrik yang kita hambur-hamburkan, lampu yang tak dimatikan, sementara masih banyak masyarakat yang mengharapkan.


Termasuk hal-hal yang Allah anugerahkan kepada fisik kita. Kedua mata yang mampu melihat normal, justru tak kita pergunakan menambah hafalan. Padahal banyak mereka yang tak berpenglihatan menjadi hafidz-hafidzah Al-Quran. Lisan yang jarang mengucap nama-Nya dan bershalawat kepada RasulNya, padahal Allah dan MalaikatNya pun senantiasa bershalawat, juga seluruh makhlukNya yang tak pernah putus dalam zikir. Kedua telinga yang jarang sekali diajak untuk mendengar sepatah dua kata dalam kajian. Tangan dan kaki yang belum istiqomah untuk berlari menuju panggilanNya.


Sebab itulah, jangan lelah bermuhasabah. Memang benar firmanNya bahwa nikmatNya takkan mampu kita hitung. Bahkan barangkali tak semua nikmatNya telah kita syukuri. Karena syukur, bukan tentang apa yang terucap di lisan. Tapi syukur, juga tentang apa yang terpatri dalam tindakan.


No comments:
Write komentar