Apa Itu Ibadah Mahdah ?

 

Mahdhah artinya murni. Ibadah mahdhah berarti ibadah murni. Istilah ini disampaikan para ulama untuk membedakan dengan ibadah ghairu mahdhah yaitu ibadah yang tidak murni. Karena ada konsekuensi yang berbeda antara ibadah mahdhah dengan ibadah ghairu mahdhah.


Ibnu Rusyd dalam Bidayatul Mujtahid pernah menjelaskan perbedaan antara ibadah mahdhah dengan ghairu mahdhah, berikut perbedaan konsekuensinya.


Ketika membahas perbedaan pendapat ulama mengenai wudhu, apakah harus berniat atau tidak, beliau mengatakan,


"Sebab perbedaan mereka adalah perselisihan dalam memandang wudhu, apakah termasuk ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang tidak bisa dipahami secara logika (Ghair Ma’qul al-Ma’na), akan tetapi tujuannya murni untuk beribadah kepada Allah semata, seperti shalat dan yang lainnya. Atau wudhu termasuk ibadah yang bisa dipahami secara logika, seperti membersihkan najis."


Lalu beliau menegaskan,


“Karena mereka sepakat bahwa ibadah mahdhah membutuhkan niat, sementara ibadah yang bisa dipahami secara logika, tidak butuh niat. Sementara wudhu mirip dengan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Karena itulah, terjadi perbedaan pendapat terkait wudhu, karena wudhu menggabungkan antara amal ibadah dengan bersuci.” (Bidayatul Mujtahid, 1/8).


Kita bisa mengenali ibadah yang Ghair Ma’qul al-Ma’na (tidak bisa dipahami secara logika) dengan cara menimbang posisi keberadaan syariat. Andaikan tidak ada syariat yang diturunkan oleh Allah, tentu manusia tidak bisa melakukannya. Karena tidak terbayang dalam logika mereka.


Andai tidak ada ajaran syariat, kita tidak akan pernah tahu shalat 5 waktu. Kita juga tidak tahu jumlah rakaatnya.


Andai tidak ada ajaran syariat, kita juga tidak tahu mengapa zakat mal itu 2,5%, hanya dikeluarkan untuk 8 ashnaf (golongan).


Andai tidak ada ajaran syariat, kita juga tidak tahu bagaimana cara dzikir yang benar setelah shalat.


Dan seterusnya logika manusia tidak bisa menjangkaunya.


Berbeda dengan ibadah yang Ma’qul al-Ma’na (bisa dipahami berdasarkan logika). Meskipun tidak ada wahyu, orang bisa memahaminya. Seperti membersihkan kotoran dan najis, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada sesama, amar ma’ruf nahi mungkar, memberi nafkah keluarga, dst. Dengan nalurinya, orang bisa melakukannya.


Kaitannya dengan ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah, ada 2 hal yang perlu kita bedakan,


[1] Keabsahan ibadah


[2] Mendapatkan pahala dari ibadah


Ibadah mahdhah hanya akan bernilai sah dan berpahala, jika dilakukan dengan niat yang ikhlas.


Berbeda dengan ibadah ghairu mahdhah. Jika dilakukan dengan niat yang benar, untuk mendapatkan pahala dari Allah, maka ada nilai pahalanya. Namun jika dilakukan tanpa diiringi niat yang benar, statusnya tetap sah, hanya saja, tidak ada nilai pahalanya.


Seorang anak sah disebut berbakti kepada kedua orang tuanya, ketika dia berbuat baik kepada mereka, meskipun bisa jadi tidak ada keinginan untuk mengharap pahala dari Allah.


Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan, "Terdapat hadis shahih bahwa nafkah seorang suami kepada keluarganya bernilai sedekah… dan dinyatakan dalam riwayat yang lain dengan batasan, ‘dalam rangka mencari wajah Allah.’ Maka hadis yang bersifat mutlak (tanpa batasan), dibawa kepada hadis yang ada batasannya. (Jami’ al-Ulum wal Hikam, 2/63)


Allahu a’lam.


No comments:
Write komentar