Antara Pemimpin dengan Pelayan

 

SETIAP dari kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya. Jika kita sebagai kepala rumah tangga, maka yang kita pimpin adalah keluarga. Jika kita sebagai pemimpin negeri, maka yang kita pimpin adalah warga yang berada di negeri tersebut. Paling tidak kita adalah pemimpin bagi diri kita sendiri. Baik buruknya pribadi tergantung bagaimana kita dalam memimpin diri.


Rasulullah SAW bersabda, “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim). Walaupun hadits ini lemah, namun masih dikuatkan dengan hadits yang serupa, tidak bertentangan dengan akidah, dan tidak terkait dengan halal-haram. Sehingga bisa kita gunakan sebagai amal dan panduan dalam menjalani sebagai pemimpin.


Maka, salah satu ciri pemimpin sejati ialah melayani. Ibarat pelayan pada suatu restoran yang selalu rela melayani semua pengunjung tanpa terkecuali. Yang memenuhi kebutuhan pengunjung satu per satu dengan sigap dan rendah hati. Yang senantiasa mendengarkan berbagai keluhan dan saran sehingga kedepannya bisa lebih baik lagi.


Konsep pelayan mencerminkan pemimpin sejati. Jika yang dipimpin ialah diri sendiri, maka ia akan sepenuh hati melayani dirinya. Memenuhi segala kebutuhan dalam jiwa dan raganya. Kebutuhan jiwa ialah berupa iman dan takwa. Karena tanpanya, hidup menjadi kosong dan hampa. Sedangkan kebutuhan raga berupa kesehatan. Sehingga kita harus melayani tubuh kita dengan mengatur apa yang kita makan dan berolahraga secara rutin dalam sepekan.


Dan jika yang dipimpin ialah suatu negeri, maka ia akan melayani warganya dengan rasa tulus untuk mengabdi. Memastikan segala kebutuhan warganya terpenuhi, yaitu kebutuhan akhirat dan duniawi. Kebutuhan akhirat dengan menjamin bahwa setiap warga memahami ajaran agamanya masing-masing dan mengamalkannya dengan damai. Kebutuhan duniawi dengan menjamin bahwa yang dilayani bisa menjalani hidup layak sebagai manusia yang mempunyai martabat diri.


Jika semua pemimpin bersikap seperti ini, maka kesejahteraan untuk semua bukanlah mimpi. Jika kita tidak menemui sikap pemimpin seperti ini, maka mari menjadi pemimpin dengan sikap seperti ini. Bisa jadi karena tidak adanya suatu kebaikan, maka itulah kita yang Allah tunjuk sebagai penegak kebaikan tersebut. Semoga kita semua menjadi pemimpin yang bisa melayani. Paling tidak pemimpin bagi diri kita sendiri. Serta semoga kita semua dianugerahi pemimpin senantiasa bisa melayani


Pemimpin sejati bukanlah seberapa banyak orang yang melayaninya, tetapi seberapa banyak orang yang dilayaninya.


No comments:
Write komentar