Tidak Selamanya Musuh Itu Menghancurkan

 

Lord Voldemort, Darth Vader, Joker, Prof. James Moriarty, Sepiroth, Ramsay Bolton dan Cersei Lannister adalah beberapa tokoh antagonis yang sering membuat penikmat cerita fiksi menjadi begitu kesal, marah bahkan meraung-raung. Padahal sesungguhnya, mereka memegang peranan yang sangat penting dalam cerita-cerita yang mengisahkan tokoh-tokoh protagonis favorit kita.


Para villain inilah yang memaksa karakter utama untuk berkembang, mengalahkan dirinya hingga akhirnya berhasil mencapai resolusi. Kehidupan nyata juga tidak begitu berbeda dengan fiksi, bahkan cenderung lebih ajaib dari fiksi.


Musuh kita membuat kita menyadari kelemahan dan kekurangan kita. Pada umumnya, kita terlalu percaya diri dan menganggap diri kita sudah melakukan yang terbaik. Sampai saat serangan itu datang dan menghempaskan kita bertubi-tubi, barulah kita belajar untuk memperbaiki bagian-bagian diri kita yang masih perlu dibenahi.


Tapi sebelum kita mulai berpikir buruk tentang arah tulisan ini, ada baiknya kita luruskan sedikit. Barusan kita membahas ‘keuntungan’ atau sisi positif denganm memiliki musuh, tapi bukan berarti kita sedang mengajak ribut orang lain supaya jadi musuh. Nyari musuh di sekitar rumah atau lingkungan kita cuma bakal bikin perang saudara.


DJ Khaled—salah satu influencer besar dengan jutaan follower di seluruh dunia—sering memotivasi para followernya dengan menciptakan sosok musuh imajiner. Dalam postingan-postingannya dia menyebutnya ‘They’ (Mereka). Sosok ‘mereka’ ini adalah manifestasi imajiner dari siapapun (atau apapun) di dunia ini yang tidak menginginkan kamu berhasil.


Kita bisa membayangkan sosok imajiner ini sebagai orang-orang yang tidak ingin kita maju, orang-orang yang akan menertawakan saat kita jatuh, orang-orang yang selalu sinis dan mencibir. Kita tidak perlu mendefinisikan ‘mereka’ secara spesifik. Kita cukup meyakini bahwa ‘mereka’ selalu ada mengawasi dan menunggu kegagalan kita.


Kita tidak perlu membayangkan wajahnya, Kita kamu tidak perlu memupuk kebencian yang tidak penting. Tujuan utama dari kehadiran ‘mereka’ adalah untuk memaksa kita terus berkembang dan bertumbuh, tidak merasa cepat puas dan terus mengevaluasi kinerja kita.


Sebenarnya ini adalah sebuah trik psikologis yang mempengaruhi alam bawah sadar kita untuk terus waspada dan tidak malas. Dengan mempercayai bahwa ada pihak-pihak yang menjadi ‘musuh’, maka naluri kompetitif akan muncul.


Ada sebuah cerita lama yang selalu Kita ingat sebagai pelajaran kehidupan. Cerita ini sangat menggelitik sekaligus menampar. Tahukah kalau rombongan nelayan yang melaut untuk menangkap ikan bisa sampai berhari-hari di laut lepas? Mereka baru akan pulang saat tangkapan mereka sudah cukup banyak. Orang-orang di pasar mengharapkan ikan-ikan yang segar, sehingga setiap ikan tangkapan nelayan ini diharapkan masih bertahan hidup (setidaknya sampai mereka hampir tiba di darat). Masalahnya, kumpulan ikan ini jumlahnya ribuan, dan semakin lama disimpan di dalam tangki, ikan-ikan ini akan stress dan mati.


Bagaimana solusinya? Apakah dengan menyiramkan formalin? Ups, jalan pintas memang tampak lebih mudah. Tapi nelayan-nelayan ini menemukan caranya. Mereka memasukkan seekor ikan besar (predator yang biasa memakan ikan-ikan tadi) ke dalam tangki penyimpanan ikan-ikan itu. Predator itu terus memaksa ikan-ikan itu untuk bergerak, karena apabila ada yang terpisah dan tertinggal dari rombongan pasti akan dimakan ikan yang lebih besar itu. Hasilnya, sampai nelayan kembali ke darat, mayoritas ikan-ikan tersebut masih hidup. Ikan-ikan itu hidup karena memiliki ‘musuh’.


Aziziah, 27 Rabiutsani 1439 H


No comments:
Write komentar