Richard Branson Seorang Bintang Kreatif

 

Richard Branson bukan murid cemerlang ketika bersekolah, seperti yang mungkin Anda duga -ia menderita disleksia parah dan berjuang keras selama menempuh pendidikan akademisnya, ia merasa malu akan kekurangannya dalam membaca sehingga menghabiskan berjam-jam menghafal setiap kata dari teks bila ia tahu ia harus membaca di depan umum. Nilai tingkat kecerdasannya rendah dan bagi guru-gurunya ia jelas bukan siswa pandai.

Bagaimana Richard Branson beranjak dari posisi yang tidak menjanjikan semasa kanak-kanak menjadi seorang otak besar di belakang 150 perusahaan yang membawa nama Virgin, dengan kekayaan pribadi yang diperkirakan sekitar tiga miliar poundsterling?

Yang gagal diukur tes kecerdasan (IQ) adalah ambisinya yang menyala-nyala, yang mendorongnya menemukan jalan keluar kreatif terlepas dari apa pun masalahnya, dan untuk tekun bertahan manakala orang lain telah menyerah jauh sebelumnya. Tes-tes itu juga tak pernah mengenali kemampuannya membagi visi dan impiannya kepada orang lain, dan meleburkan impian mereka dengan impiannya.

Sebagai remaja, Richard Branson menjadi semakin frustrasi (seperti semua orang kreatif lainnya!) karena kekakuan aturan sekolah. Tindakan pemberontakan kreatif pertamanya adalah memulai koran siswanya sendiri.

Seorang penderita disleksia memulai sebuah usaha?  Ya.

Cara orisinal yang digunakan Branson untuk mengarahkan korannya adalah ia tidak memfokuskannya pada sekolah, tetapi memutuskan mengambil pandangan yang sebaliknya dan berfokus pada siswa. Daripada koran standar yang membosankan, Richard menginginkan korannya penuh warna dan semarak, yang menarik bagi setiap orang, dan terutama perusahaan-perusahaan besar yang akan membeli iklannya.

Branson memutuskan tampil beda, dengan bukan saja mengundang siswa wartawan, tetapi juga mengundang bintang musik rock, selebriti film, "nama-nama" kreatif, dan bintang olahraga untuk menyumbang artikel.

Tetapi Richard dan teman editornya, Johnnie Gems, bukan memulai tanpa uang. Mereka mempunyai 4 poundsterling untuk menutup biaya pos dan telepon, yang disumbang oleh ibunya. Kedua remaja ini bekerja di lantai bawah rumah Branson dan berusaha sehemat mungkin -tetapi bukan menghemat impian kreatif besar mereka, yang tetap menjadi daya dorong mereka.

Kepala sekolah Richard (yang jelas mulai mengenali bahwa tes IQ bisa keliru), suatu hari berkata padanya: "Selamat, Branson. Saya meramalkan kamu akan masuk penjara atau menjadi jutawan."

Mulai saat itu, Branson mengembangkan ide orisinalnya, memulai perusahaan-perusahaan baru, menciptakan produk-produk baru, memunculkan ide-ide baru, dan terus menarik bagi impian orang lain. Perusahaan penerbangannya, Virgin Airlines, adalah contoh sempurna kreativitas. Bukannya ikut-ikutan memotong harga tiket dan mengurangi layanan, ia justru memutuskan membalik pemikiran normal, dengan mempertahankan harga tiket tetapi menambah layanan, yang termasuk ide-ide yang sangat orisinal seperti pesan-pesan selama penerbangan, es krim dan film, shower, sarana olah raga, dan kamar tidur pribadi.

Richard Branson sendiri, yang dikenal sebagai orang yang flamboyan, penuh warna, dan sangat kreatif, mengaitkan keberhasilannya pada kemampuannya untuk memunculkan dan mengikuti visi-visi kreatif, dan kemampuannya mengenal hal yang sama dalam diri orang lain serta mengajak mereka bersama-sama sebagai tim, mengejar impian mereka.

No comments:
Write komentar