Ketika Seseorang Dikatakan Dewasa

 

Kedawasaan sejatinya dewasa yang hanya bukan sebatas usia. Dalam praktek dan konteks detail, pemikiran kita belumlah cukup untuk dikatakan dewasa. Sifat kekanak-kanakan masih melekat erat dalam diri, memutuskan hal dengan tergesa, menonjolkan ego sehingga enggan mendengar nasehat dan tidak mau menerima saran.


Gegabah dalam bertindak akibatnya terjatuh dan terinjak, menyebabkan orang lain ikut menanggung namun tidak mau disalahkan. Lari dari tanggung jawab, gemar berspekulasi akan tetapi tiada keberanian memikul beban jika terjadi kegagalan. Berteriak paling lantang, berkoar usul ini itu, begini begitu tapi tidak beraksi dalam tindakan pembuktian.


Namun kedewasaan sama seperti kematangan, dan kematangan itu adalah keadaan sudah berkembang penuh, dewasa sepenuhnya, dan telah mencapai keadaan atau standar yang diinginkan.


Contohnya kita bisa mengatakan buah tertentu matang, bila buah itu sudah menjalani siklus pertumbuhannya secara alami, dengan lengkap dan rupa, warna, aroma serta rasanya sudah mencapai apa yang diinginkan. Oleh karena itu, kematangan bersinonim dengan keunggulan, kelengkapan, bahkan kesempurnaan.


Dalam hal manusia, orang yang dewasa atau matang ditandakan sebagi orang yang punya pengendalian diri. Bayi yang baru lahir atau anak kecil tidak memiliki pengendalian diri. Pakar perilaku anak menjelaskan, Pengendalian diri tidak terjadi secara otomatis atau tiba-tiba. Bayi dan anak kecil membutuhkan bimbingan dan dukungan orang tua untuk memulai proses mempelajari pengendalian diri. Dengan bimbingan orang tua selama proses itu, pengendalian diri meningkat selama masa bersekolah.


Suatu penelitian terhadap anak-anak berusia empat tahun menyingkapkan bahwa mereka yang telah belajar memperlihatkan suatu kadar pengendalian diri secara umum tumbuh menjadi remaja yang lebih mudah menyesuaikan diri, lebih disukai, berjiwa petualang, percaya diri, dan dapat diandalkan. Anak-anak yang belum mulai mempelajari hal ini lebih besar kemungkinannya menjadi kesepian, mudah kecil hati, dan keras kepala. Mereka menyerah di bawah tekanan dan menghindari tantangan. Jelaslah, untuk menjadi orang dewasa yang mudah menyesuaikan diri, sseeorang harus belajar mengendalikan diri sejak kecil.


Kurangnya pengendalian diri mengindikasikan bahwa kita masih kanak-kanak, masih belum dewasa, berapapun usia kita. Kitab suci menasihati kita untuk ’menjadi orang dewasa dalam kesanggupan untuk mengerti’.


Orang yg dewasa juga punya daya pengamatan yg terlatih karena sering digunakan—caranya dengan menerapkan apa yang mereka pelajari dari org tua—yang membantu mereka membedakan yang benar dari yang salah.


Ajyad Sud, 23 Rabiutsani 1439 H


No comments:
Write komentar