Hukum Menceritakan Pernah Berzina Kepada Calon Suami

 

Bukan syarat taubat dari zina harus menceritakan dan melaporkan dosa zina itu kepada orang lain, siapapun dia. Baik calon suaminya, orang tuanya, saudaranya, ustadnya, gurunya, bahkan termasuk pemimpin yang ada di negerinya.


Buraidah bin Hashib Radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita, Suatun ketika Maiz bin Malik datang menghadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, sucikan aku…”


Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Jangan lancang…, pulang dan memohon ampun kepada Allah, taubat kepada-Nya.”


Pulanglah Maiz. Tidak berselang lama, dia datang lagi. Dia tetap melaporkan, “Ya Rasulullah, sucikan aku…”


Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, Jangan lancang…, pulang dan memohon ampun kepada Allah, taubat kepada-Nya.”


Pulanglah Maiz. Tidak berselang lama, dia datang lagi. Dia tetap melaporkan yang sama dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan jawaban yang sama sampai 3 kali. Hingga di kedatangan yang keempat, baru Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima pengaduan Maiz. (HR. Muslim 1695 dan Nasai dalam al-Kubro 7125).


Hadis ini dengan tegas menunjukkan bahwa bukan syarat taubat harus mengaku. Karena inti dari taubat adalah memohon ampun kepada Allah karena menyesali perbuatannya. Bahkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyarankan sebisa mungkin dirahasiakan.


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, no. 1508)


Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, "Berdasarkan kasus ini – Sahabat Maiz yang mengaku berzina – menunjukkan bahwa dianjurkan bagi orang yang terjerumus ke dalam kasus zina untuk bertaubat kepada Allah – Ta’ala – dan menutupi kesalahan dirinya, dan tidak menceritakannya kepada siapapun. Dan ini juga yang ditegaskan as-Syafii Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, Saya menyukai bagi orang yang pernah melakukan perbuata dosa, lalu dosa itu dirahasiakan Allah, agar dia merahasiakan dosanya dan serius bertaubat kepada Allah…" (Fathul Bari, 12/124).


Orang lain tidak memiliki kepentingan dengan maksiat kita yang sifatnya pribadi. Sehingga sekalipun dia tidak tahu, tidak akan memberikan pengaruh apapun bagi kehidupannya. Sebaliknya, ketika dia tahu, tidak akan semakin memperbaiki dirinya. Karena itu, bertaubatlah dan jangan ceritakan dosa zina kepada siapapun sampai mati.


Allahu a’lam.


No comments:
Write komentar