Apakah Makmum Masbuq Harus Membaca Doa Iftitah ?

 

Jumhur ulama mengatakan bahwa doa iftitah hukumnya anjuran. Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bercerita, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam punya kebiasaan seusai takbiratul ihram, sebelum membaca al-Fatihah, beliau diam sejenak. Akupun bertanya ke beliau,


“Ya Rasulullah, anda diam antara takbiratul ihram dan fatihah, apa yang anda baca?”


Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,


Aku membaca, “Allahumma baaid bainii wa baina khathaayaaya… dst.” (Muttafaq ‘alaihi).


Hadis ini menunjukkan, doa iftitah hukumnya sunah, bagi yang membacanya mendapatkan pahala dan jika tidak dibaca, shalat tidak batal.


Ibnu Qudamah mengatakan, "Doa iftitah termasuk sunah dalam shalat menurut pendapat mayoritas ulama." (al-Mughni, 1/341).


Sementara al-Fatihah hukumnya rukun dalam shalat. Dalam hadis Ubadah bin Shamit Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah.” (Muttafaq ‘alaih).


Dan kaidah baku yang berlaku adalah dahulukan yang wajib dari pada yang sifatnya anjuran.


Berangkat dari sini, kita akan memberikan rincian untuk kasus makmum masbuq, apakah perlu membaca doa iftitah ataukah tidak?


[1] Jika waktunya tidak memungkinkan untuk membaca doa iftitah dan al-Fatihah, maka dahulukan al-Fatihah dari pada doa iftitah. Dahulukan yang wajib dari pada yang sunah.


An-Nawawi juga mengatakan, "Jika makmum masbuq tahu bahwa memungkinkan bagi dia untuk melakukan sebagian doa iftitah, ta’awudz dan Fatihah, sementara tidak mungkin bisa membaca semuannya, maka dia baca yang memungkinkan untuk dibaca. Demikian yang ditegaskan dalam al-Umm." (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 3/319)


[2] Jika masih memungkinkan untuk membaca doa iftitah, dianjurkan membacanya


An-Nawawi mengatakan, "Jika makmum masbuq menjumpai imam sedang berdiri, dan dia tahu bahwa memungkinkan baginya untuk membaca doa iftitah, ta’awudz dan al-Fatihah, maka dia dianjurkan membaca iftitah. Demikian yang ditegaskan as-Syafii dalam kitab al-Umm, dan ini yang menjadi pendapat Syafi’iyah." (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 3/319)


An-Nawawi juga menukil keterangan al-Baghawi, Al-Baghawi mengatakan, "ketika makmum masbuq melakukan takbiratul ihram, lalu imam sampai pada bacaan amin seusai makmum masbuq takbiratul ihram, maka makmum langsung membaca amin, kemudian membaca doa iftitah. Karena bacaan amin hanya sebentar." (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 3/318)


[3] Jika kesempatan untuk membaca iftitah sudah selesai, maka tidak perlu membaca doa iftitah. Misalnya, makmum masbuq takbiratul ihram sementara imam sedang duduk tasyahud. Dalam kondisi ini, seusai takbirtaul ihram, makmum masbuq langsung duduk dan ketika bangkit, tidak perlu membaca doa iftitah.


an-Nawawi menyebutkan keterangan al-Baghawi, "Jika makmum masbuq menjumpai imam sedang tasyahud akhir, lalu dia takbiratul ihram, lalu duduk tasyahud. Dan ketika makmum duduk, imam salam, maka makmum berdiri dan tidak perlu membaca doa iftitah, karena kesempatan membaca doa iftitah sudah terlewatkan. (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzab, 3/318)


Allahu a’lam.


No comments:
Write komentar