Cara Islam Menyelesaikan Sengketa

 

Dalam hadits dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu‘anhuma, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“Bukti itu menjadi tanggung jawab penuntut (mudda’i) dan sumpah menjadi pembela bagi yang dituntut (mudda’a ‘alaih).” (HR. Turmudzi 1391, Daruquthni 4358 dan dishahihkan al-Albani).


Dalam sebuah sengketa, di sana ada 2 pihak,


[1] Pihak yang menuntut. Dialah yang mengajukan klaim. Dalam hadis di atas, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallammenyebutnya dengan mudda’i.


[2] Pihak yang dituntut. Dia yang diminta untuk memenuhi klaim. Dalam hadits di atas, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya dengan mudda’a alaih.


Kewajiban dan tanggung jawab masing-masing berbeda,


[1] Untuk pihak penuntut (mudda’i), dia diminta mendatangkan bukti atau saksi.


[2] Untuk pihak yang dituntut (mudda’a alaih), ada 2 kemungkinan posisi;


(a) Jika  mudda’i bisa mendatangkan bukti yang bisa diterima, maka dia bertanggung jawab memenuhi tuntutannya.


(b) Sebaliknya, Jika mudda’i tidak bisa mendatangkan bukti yang dapat diterima, maka mudda’a alaih diminta untuk bersumpah dalam rangka membebaskan dirinya dari tuntutan. Jika dia bersumpah maka dia bebas tuntutan.


Allahu A'lam


No comments:
Write komentar