Shalat Diawal Waktu Membuka Pintu Rizki

 

Suatu hari saya ketemu dengan mabahis saudi dalam sebuah pekerjaan. Saya tidak bisa menjelaskan pekerjaan tersebut disini. Ketika kita menaiki lift hotel zamzam pullman pada sore hari, mabahis itu berkata.


“Abdurrahman, saya belum solat ashar ?”


“Kenapa ?” Saya menjawab dengan heran.


“Saya sibuk keliling-keliling bekerja.” Jawabnya.


“Kamu tetap harus solat walaupun kamu sibuk.” Saya menimpalinya.


Setelah itu dia memberikan isyarat akan solat setelah pekerjaan selesai. Namun saya melihat diwajahnya ada penyesalan karena tidak bisa solat tepat waktu.


Saya merenungi dari kejadian itu bahwa tidak sedikit orang yang mengakhirkan waktu solat bahkan meninggalkan solat karena tuntutan pekerjaan. Ini merupakan hal yang keliru dan harus dirubah. Seseorang bekerja pasti harapannya agar mendapatkan uang sehingga hidupnya menjadi lebih baik. Tetapi dia lupa bahwasannya Allah akan menjamin rizki seseorang apabila dia menjaga waktu solatnya.


Allah berfirman yang artinya,


"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, kamilah yang memberi rizki kepadamu, dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakqwa." (QS. Toha : 132)


Lantas kenapa manusia lebih percaya kepada pekerjaan yang memberikan rizki dan melupakan jaminan Allah dengan meninggalkan shalat. Percayalah rizki akan datang lebih banyak jika manusia shalat tepat waktu. Dan keluarga yang menjaga shalat pada waktunya akan Allah jamin kesejahteraan hidupnya.


Sedangkan orang yang mengakhirkan shalat karena disengaja akan mendapatkan ancaman siksa neraka. Allah subhanahu wata’ala berfirman,


"Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang salat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya." (Al-Ma'un: 4-5)


Ata ibnu Dinar mengatakan bahwa segala puji bagi Allah yang telah mengatakan dalam firman-Nya: yang lalai dari salatnya. (Al-Ma'un: 5) Dan tidak disebutkan "yang  lalai dalam salatnya". Adakalanya pula karena tidak menunaikannya di awal waktunya, melainkan menangguhkannya sampai akhir waktunya secara terus-menerus atau sebagian besar kebiasaannya. Dan adakalanya karena dalam menunaikannya tidak memenuhi rukun-rukun dan persyaratannya sesuai dengan apa yang diperintahkan. Dan adakalanya saat mengerjakannya tidak khusyuk dan tidak merenungkan maknanya. Maka pengertian ayat mencakup semuanya itu. Tetapi orang yang menyandang sesuatu dari sifat-sifat tersebut berarti dia mendapat bagian dari apa yang diancamkan oleh ayat ini. Dan barang siapa yang menyandang semua sifat tersebut, berarti telah sempurnalah baginya bagiannya dan jadilah dia seorang munafik dalam amal perbuatannya. (Tafsir Ibnu Katsir)


Inilah kenapa shalat harus diutamakan dari pekerjaan apapun, karena shalat adalah ibadah yang paling utama disisi Allah. Sehingga pekerjaan yang paling baik adalah shalat diawal waktu.


Dari Ummu Farwah, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya, amalan apakah yang paling afdhol. Beliau pun menjawab, “Shalat di awal waktunya.” (HR. Abu Daud no. 426)


Mulai sekarang kita rubah “mindset” kita dalam menjalankan kehidupan ini. Jadikanlah pekerjaan kita untuk menunggu waktu shalat, jangan jadikan shalat menunggu waktu pekerjaan kita selesai.


Allahu a’lam.


Makkah Al Mukarramah, 21 Rabiul Awal 1439 H


No comments:
Write komentar