Kebahagiaan dan Harapan

 

Kebahagiaanku ketika mendengar tawa istriku. Ketika istriku senang dengan yang aku lakukan. Ketika istriku bersyukur atas apa yang aku berikan. Itulah kebahagiaan dari kerja kerasku.


Aku bersyukur kebutuhan keluargaku dapat tercukupi. Bukan karena aku sukses mengumpulkan uang, tapi karena Allah memudahkan pekerjaanku. Allah bukakan pintu kemudahan dalam setiap urusanku. Maka tidak ada yang bisa aku banggakan atas semua pencapaianku sampai saat ini.


Aku pun berterimakasih kepada orang-orang yang selalu mendoakanku, termasuk istriku. Dia yang selalu terbangun disaat aku terlelap. Mulutnya mendoakanku ketika aku bermimpi dengan kesibukan dunia. Dia yang selalu membuatku tenang walaupun jauh aku tinggalkan. Karena aku percaya dengan izin Allah dia sanggup menjaga kehormatannya. Dia sanggup menjaga nama baik keluarganya dan menutupi kekurangan suaminya. Aku percayakan anak-anakku kepadanya. Aku yakin dia bisa menjadikan keturunanku sebagai mujahid dan hafidzah yang siap membela agama Allah.


Mungkin perjuanganku membela islam tidak seperti ulama salafu soleh. Tapi aku mempunyai harapan, kelak keturunanku lebih dahsyat perjuangannya daripada aku. Tongkat ekstapet perjuangan ini jangan sampai berhenti dengan kematianku. Perjuangan membela agama Allah ini harus terus berlanjut sampai dunia ini hancur.


Kelak keturunanku membela agama Allah dari segi pendidikan dengan membagun pesantren internasional. Dari segi kesehatan dengan menjadi dokter spesialis tibunnabawi. Dari segi kekuatan dengan menjadi panglima TNI. Dan dari segi pemerintahan dengan menjadi presiden. Sehingga islam menjadi agama yang disegani oleh seluruh manusia. Kejayaan islam kembali dan kedamaian tercipta menyelimuti bumi.


Tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini. Aku punya Allah yang bisa merubah sesuatu yang mustahil menjadi kenyataan. Mendatangkan sesuatu yang telah hilang. Mendekatkan sesuatu yang sangat jauh. Akal manusia tidak sanggup menjangkau kuasa Allah. Hanya keimanan dan keyakinan yang bisa merasakan dahsyatnya kekuasaan Allah.


Semoga keluargaku mempunyai keyakinan seperti imannya Abu Bakar As Shidiq. Mempunyai kedermawanan seperti Abdurrahman bin Auf. Mempunyai keberanian seperti umar bin khatab. Fakih dalam ilmu agama seperti muadz bin jabal. Dan berakhlaq mulia seperti akhlak baginda Muhammad shalallahu alaihiwasallam.


Makkah Al Mukarramah, 30 Rabiul Awal 1439 H


No comments:
Write komentar