Cara Taubat Bagi Orang yang Pernah Melakukan Zina

 

Semua orang yang pernah berbuat dosa, punya kesempatan untuk mendapatkan ampunan ketika bertaubat kepada Allah. Apapun bentuk dosanya, sebesar apapun kualitas dosanya. Allah berfirman,


Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar: 53)


Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan, ayat ini memberikan harapan terbesar bagi para hamba.


Al-Hafidz Ibnu Katsir mengatakan, "Ayat mulia ini merupakan ajakan bagi semua tukang maksiat, baik orang kafir maupun yang lainnya untuk bertaubat dan kembali kepada Allah. Dan berisi informasi bahwa Allah mengampuni semua dosa bagi siapa yang mau bertaubat dan kembali ke jalan Allah. Apapun bentuk dosanya, meskipun sangat banyak, sebanyak buih di lautan." (Tafsir Ibnu Katsir, 7/106)


Tak terkecuali dosa zina. Allah membuka kesempatan bagi pelaku untuk bertaubat. Lalu bagaimana cara taubat dari zina? Ada beberapa tahapan yang bisa dilakukan,


[1] Menyesali dengan sungguh-sungguh terhadap kesalahan yang dia lakukan.


Bahkan itulah inti taubat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


Penyesalan adalah hakekat taubat. (HR. Ahmad 3568, Ibn Majah 4252 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).


Untuk bisa menyesal tidak harus menunggu ketangkap basah atau ketahuan orang yang disegani atau dipermalukan di depan orang lain. Penyesalan bisa dilakukan ketika merasa telah bertindak sangat bodoh, dengan kemaksiatan yang lakukan. Bayangan kenikmatan maksiat bisa jadi tetap terngiang. Tapi harus dia lawan dengan kesedihan.


[2] Meninggalkan dosa zina dan semua pemicu zina.


Konsekuensi dari dosa zina adalah meninggalkan dosa zina dan semua pemicunya. Dia harus menghindari jauh dari pasangan zinanya, kecuali setelah menikah.


[3] Bertekad untuk tidak mengulangi dosa zina


Tanamkan bahwa dosa ini berbahaya. Karena bisa menghalangi untuk mendapatkan apa yang diinginkan, cepat atau lambat.


[4] Dekatkan diri dengan banyak beribadah kepada Allah


Semoga ini bisa membantu untuk menggugurkan dosa. Karena ketaatan bisa menghapus dosa maksiat. Allah berfirman,


“Dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114)


[5] Carilah lingkungan yang baik


Cari teman yang baik yang bisa membimbing untuk menjadi muslim yang baik. Karena lingkungan bisa menjadi pengaruh terbesar bagi kehidupan kita. Kita bisa sibukkan diri kita dengan belajar agama. Semoga ini bisa menguras suasana kotor yang timbul tenggelam dalam pikiran.


Termasuk mencoba menghafal al-Quran. Ini bisa menjadi cara yang paling efektif untuk membuang pikiran kotor. Setiap manusia, jika tidak disibukkan dengan hal baik, dia akan memilih kesibukan di hal-hal yang buruk. Sibukkan diri dengan kebaikan, semoga bisa menjadi benteng bagi kita untuk melakukan maksiat.


[6] Rahasiakan… rahasiakan…


Rahasiakan dosa ini kepada siapapun sampai mati… Rahasiakan sekalipun dengan orang terdekat. Menceritakan hal ini kepada orang lain justru akan menimbulkan masalah baru. Simpan kejadian ini untuk diri sendiri, karena orang lain tidak memiliki kepentingan dengannya.


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang tertimpa musibah maksiat dengan melakukan perbuatan semacam ini (perbuatan zina), hendaknya dia menyembunyikannya, dengan kerahasiaan yang Allah berikan.” (HR. Malik dalam Al-Muwatha’, no. 1508)


Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan, "Berdasarkan kasus ini – Sahabat Maiz yang mengaku berzina – menunjukkan bahwa dianjurkan bagi orang yang terjerumus ke dalam kasus zina untuk bertaubat kepada Allah – Ta’ala – dan menutupi kesalahan dirinya, dan tidak menceritakannya kepada siapapun.


Lalu beliau mengatakan,


Dan ini juga yang ditegaskan as-Syafii Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, Saya menyukai bagi orang yang pernah melakukan perbuata dosa, lalu dosa itu dirahasiakan Allah, agar dia merahasiakan dosanya dan serius bertaubat kepada Allah… (Fathul Bari, 12/124).


Apakah harus dihukum rajam dan cambuk ?


Hukuman di dunia, seperti cambuk atau rajam, bisa menjadi kaffarah bagi pelaku zina. Namun hukuman ini hanya mungkin ditegakkan oleh negara. Sementara individu atau lembaga swasta tidak memiliki wewenang untuk melaksanakannya.


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Siapa yang pernah melakukan perbuatan maksiat ini kemudian dia mendapatkan hukuman di dunia, maka hukuman itu akan menjadi kaffarah baginya. Dan siapa yang pernah melakukannya, lalu Allah tutupi maksiatnya, maka urusannya kembali kepada Allah. Allah bisa mengmpuninya atau menghukumnya sesuai kehendak-Nya."(HR. Bukhari 18).


Hadis ini menunjukkan bahwa mereka yang pernah melakukan dosa zina, agar taubatnya diterima, tidak disyaratkan harus dihukum rajam atau cambuk. Karena dosa zina bisa tertutupi dengan hukuman, bisa juga dengan taubat.


Allahu a’lam.


No comments:
Write komentar