Apakah Sikat Gigi Termasuk Siwak ?

 

Beberapa hadis menerangkan keutamaan bersiwak, diantaranya sabda Nabi shallallahu’alaihiwasallam berikut ini,


“Siwak dapat membersihkan mulut dan mendapat keridhaan Rabb.” (HR. Ahmad, Irwaul Ghalil no 66).


Namun timbul pertanyaan, apakah bersiwak yang dimaksud pada hadis ini, harus menggunakan kayu siwak, atau boleh menggunakan benda lain seperti sikat gigi?


Ada dua pendapat ulama dalam hal ini :


Pertama, Syafi’iyah dan Malikiyah, bersiwak boleh menggunakan benda apa saja, asal dapat menghilangkan kotoran mulut. Meski menggunakan kayu arok (kayu siwak), ranting dan kayu bassyam (Sejenis tumbuhan berduri yang memiliki aroma harum, tumbuh di Saudi Arabia dan sekitarnya), itu lebih utama.


Dalam Kifayatul Akhyar, fikih ringkas mazhab Syafi’i dinyatakan,


Ketahuilah bahwa bersiwak itu bisa dilakukan dengan potongan kain atau segala benda kasar, yang dapat menghilangkan kotoran. Namun bersiwak menggunakan ranting atau kayu arok itu lebih utama. (Kifayatul Akhyar, hal. 15).


Ibnu Abdil Bar Al-Maliki rahimahullah, menyatakan,


Siwak yang biasa dipakai oleh masyarakat dahulu adalah kayu arok dan bassyam, juga setiap benda yang dapat membersihkan gigi, dan tidak mencederainya. (Al-Istidzkar 3/272)


Kedua, Hanafi dan Hambali, dikatakan bersiwak bila menggunakan kayu arok, ranting tumbuhan dan yang sejenisnya.


Dalam Hasyiyah Ibnu Abidin; salahsatu referensi fikih hanafi diterangkan,


Siwak, dengan (huruf sin) dibaca kasrah, maknanya adalah sepotong batang yang digunakan untuk bersiwak. Siwak juga dapat dimaknai mashdar (kata kerja yang dibendakan). Dalam kitab Ad-Durar dikatakan, “Makna inilah yang dimaksud dalam hal ini. Maka tidak perlu memaknai siwak dengan tidak mempergunakan siwak." (Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/232).


Al-Buhuti, seorang ulama bermazhab hambali, menjelaskan dalam Syarah Muntaha al-Iradat,


Bab tentang bersiwak. Kata siwak merupakan bentuk mashdar dari kata tasawwuk, yang maknanya adalah menggosok gigi menggunakan ranting. Dan inilah makna siwak. Sedangkan ‘uud adalah benda untuk bersiwak (ranting). (Syarah Muntahal Iradat 1/72)


Dari dua pendapat di atas dapat ditarik kesimpulan :


1. Menurut mazhab Syafi’i dan Maliki, hakikat siwak adalah fungsinya, yakni dapat membersihkan mulut, bukan benda yang digunakan. Sehingga, seorang yang membersihkan gigi menggunakan sikat gigi, mendapatkan keutamaan bersiwak yang tertera pada hadis di atas.


2. Menurut mazhab Hanafi dan Hambali, hakikat siwak adalah benda yang dipergunakan. Sehingga, yang mendapatkan keutamaan bersiwak adalah mereka yang mempergunakan kayu siwak dalam membersihkan gigi.


3. Seluruh ulama empat mazhab sepakat, bahwa bersiwak menggunakan kayu arok (kayu siwak), kayu bassyam, ranting tumbuhan dan yang semisalnya, adalah lebih utama.


Pendapat Syafi’iyah dan Malikiyah adalah yang lebih tepat. Hal ini karena alasan berikut :


Pertama, dari tinjauan bahasa arab. Secara bahasa, siwak dapat diartikan tindakan menggosok gigi, tanpa membatasi benda yang dipergunakan.


Imam Az-Zubaidi rahimahullah menjelaskan,


Saaka asy-syai’, yasuukuhu-saukan, yang artinya menggosok sesuatu. Dari kata tersebutlah diambil penamaan untuk alat menggosok gigi. (Taj Al-‘Arus 27/215).


Dalam kitab ‘Aunul Ma’bud ‘Ala Sunan Abi Dawud diterangkan,


Siwak dimaknai tindakan menggosok gigi dan dimaknai benda untuk menggosok gigi. Namun makna yang dimaksud dalam hal ini adalah makna yang pertama. (‘Aunul Ma’bud, 1/59).


Kedua, bersiwak bukanlah ibadah mahdoh (perbuatan yang murni ibadah). Akan tetapi, siwak adalah ibadah gahoiru mahdoh (tidak murni ibadah), karena tujuan dari bersiwak dapat dicerna oleh akal (ma’qulatulma’na), yaitu membersihkan mulut. Dan tujuan ini, dapat dicapai menggunakan benda apa saja, seperti sikat gigi.


Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,


Bersiwak diperintahkan, untuk tujuan memperindah, mensucikan dan membersihkan mulut. (Syarah Umdah Al-fiqh 1/203)


Ketiga, nabi shallallahu’alaihi wa sallam tidak membatasi siwak beliau menggunakan benda tertentu saja, seperti kayu arok (kayu siwak) saja. Disebutkan dalam hadis dari Aisyah radhiyallahu’anha, saat menceritakan detik-detik sebelum Nabi meninggal dunia, beliau bersiwak menggunakan dahan kurma,


Abdurrahman bin Abu Bakr berlalu dengan membawa kayu kurma di tangannya. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam melihat kepadanyanya. Sayapun mengira beliau butuh pada dahan kurma itu. Lalu saya ambil, saya kunyah ujungnya, kemudain saya bersihkan. Lalu saya berikan ke beliau. (HR. Bukhori).


Allahu A'lam


No comments:
Write komentar