Sunah Tidur Siang (Qailulah)

 

Tidur siang disebutkan dalam Al-Quran. Allah Ta’ala berfirman,


“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan” (Ar-Ruum :23)


Demikian juga diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,


“Qailulah-lah (istirahat sianglah) kalian, sesungguhnya setan-setan itu tidak pernah istirahat siang." (HR. Abu Nu’aim dalam Ath-Thibb, dikatakan oleh Al-Imam Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1637: isnadnya shahih)


Demikian juga perbuatan para sahabat.


“Pernah suatu ketika ada orang-orang Quraisy yang duduk di depan pintu Ibnu Mas’ud. Ketika tengah hari, Ibnu Mas’ud mengatakan, “Bangkitlah kalian (untuk istirahat siang), Yang tertinggal hanyalah bagian untuk setan.” Kemudian tidaklah Umar melewati seorang pun kecuali menyuruhnya bangkit.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1238)


Di riwayat yang lain,


“Dahulunya ’Umar bila melewati kami pada tengah hari atau mendekati tengah hari mengatakan, “Bangkitlah kalian! Istirahat sianglah! Yang tertinggal menjadi bagian untuk setan.” (Shahih Al-Adabil Mufrad no. 939: hasanul isnad)


Al-Khalal berkata,


“Disunnahkan qailulah pada pertengahan siang, Abdullah (bin Ahmad) berkata, “Ayahku tidur siang pada musim panas dan dingin, ia tidak meninggalkannya.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah wal minahil mar’iyyah hal 161)


Terdapat ikhtilaf ulama kapan waktu qailulah, apakah sebelum dzuhur atau sesudah dzuhur atau keduanya.


Syarbini rahimahullah berkata, “tidur sebelum zawal (waktu dzhur)”


Al-Munawi rahimahullah berkata, “Qailulah adalah tidur di pertengahan siang ketika zawal atau mendekati waktu zawal sebelum atau sesudahnya.”


Al-Badri Al-Aini berkata, “Qailulah maknanya: tidur di waktu dhuzur (petengahan siang).”


Dan yang rajih adalah qailulah itu waktunya setelah zawal (dzuhur) sebagaimana hadits dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu berkata, “kami (dahulunya) tidaklah melakukan qailulah dan makan kecuali setelah shalat jumat di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Muttafaq alaihi, lafadz Muslim)


Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Mereka (para sahabat) dulu biasa melaksanakan shalat Jum’at, kemudian istirahat siang ( qailulah).” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no.1240)


Allahu a'lam


Tidak ada komentar:
Write komentar