Hukum Laki-laki Memakai Kalung

 

Pertama, memakai kalung berbahan emas. Hukumnya haram dan bahkan ada ancaman khusus berupa api neraka.


Dari Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Emas dan sutra dihalalkan bagi para wanita dari ummatku, namun diharamkan bagi para lelaki’.” (HR. an-Nasai 5148 dan Ahmad 4/392 )


Dalam hadis lain, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, suatu ketika, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat ada sahabatnya yang memakai cincin dari emas. Beliaupun langsung mengambilnya dan membanting cincin itu sambil mengatakan, “Kalian sengaja mengambil sepotong neraka dan meletakkannya di tangan kalian.” (HR. Muslim 5593)


Kedua, memakai kalung selain emas, tapi untuk perhiasan. Seperti memakai kalung perak atau kuningan.


Perbuatan ini termasuk menyerupai wanita. Karena perhiasan berupa kalung adalah ciri khas wanita. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang menyerupai wanita atau sebaliknya.


Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Bukhari 5885).


Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menyatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, begitu pula wanita yang memakai pakaian laki-laki” (HR. Ahmad 8309 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).


Imam Ibnu Utsaimin mengatakan, "Lelaki yang memakai kalung untuk perhiasan hukumnya haram. Karena ini bagian dari ciri wanita. Sehingga lelaki ini meniru wanita. Sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat lelaki yang meniru wanita. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, jilid 11 – Bab al-Aniyah).


Ketiga, kalung yang tidak berfungsi sebagai perhiasan. Hukumnya dibolehkan, dan tidak ada bentuk pelanggaran syariat di sana. Misalnya kalung sebagai tanda pengenal, seperti tanda pengenal haji atau umrah yang dikalungkan. Kalung yang fungsinya bukan untuk perhiasan, umumnya orang merasa risih menggunakannya. Dia bersabar menggunakannya, karena pertimbangan kebutuhan.


Allahu a’lam


Tidak ada komentar:
Write komentar