Hukum Daging Lele Pemakan Kotoran Manusia

 

Jika ikan lele dikasih makan kotoran yang mengalir dari septik tank sehingga berubah bau dagingnya. Hal ini menyebabkan ikan tersebut dikatagorikan sebagai hewan jallalah.


Hewan Jallalah adalah jenis hewan pemakan benda najis, baik itu merupakan kebanyakan makanannya atau tidak, sebab yang menjadi illat (penyebab) kenajisannya adalah bau busuk yang ditimbulkan dari najis yang dimakan. Jadi, kalau tercium bau busuknya maka termasuk jallalah dan jika tidak terdapat baunya maka tidak termasuk jallalah.


Sedangkan mengenai hukum mengkonsumsi daging hewan jenis ini, terdapat perbedaan diantara ulama', perbedaan pendapat ini muncul karena terdapat perbedaan dalam memahami pelarangan pada hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar ;


"Rosululloh shollallohu 'alaihi wasallam melarang memakan hewan jallalah dan meminum susunya." (Sunan Abu Dawud, no.3785)


1. Menurut Imam Rofi'i, pelarangan dalam hadits ini mengarah pada hukum harom, sebab daging hewan yang berubah karena biasa memakan benda najis termasuk dalam kategori "khoba'its" (perkara-perkara yang menjijikkan) yang harom dikonsumsi. Pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Ahmad bin Hanbal


2. Menurut Imam Nawawi, hukum mengkonsumsi daging jallalah adalah makruh, alasannya adalah bahwa pelarangan ini berdasarkan pada najis yang dimakan, jadi tidak sampai menimbulkan hukum harom. Ini adalah pendapat yang dikuti oleh mayoritas ulama', bahkan Imam Rofi'i sendiri dalam kitab "Syarhul Kabir" meriwayatkan bahwa pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama'. Pendapat ini juga merupakan pendapat Imam Abu Hanifah dan Imam Malik.


Solusinya bila kita telah terlanjur membeli hewan jallalah, maka sebelum mengkonsumsi dagingnya atau air susunya, hendaknya terlebih dahulu hewan tersebut dikarantina dalam waktu tertentu. Menurut sebagian ulama’ minimal 3 hari. Akan tetapi menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, pendapat yang paling kuat ialah pendapat yang mengaitkan hukum karantina dengan keadaan daging dan susunya. Bila aroma, warna dan rasa pakan najis telah sirna dari hewan ternak, baik itu setelah dikarantina 3 hari atau kurang darinya, maka telah halal, untuk dikonsumsi. Akan tetapi walaupun telah dikarantina 3 hari, akan tetapi aroma, rasa atau warna najis masih melekat pada hewan itu, maka karantina harus diteruskan hingga tanda-tanda najis benar-benar hilang darinya.


Singkat kata bila ikan lele dibudi daya dengan cara-cara yang baik, tidak diberi pakan najis, maka halal, dan bila dibudidaya dengan pakan najis, maka sebelum dikonsumsi atau dipasarkan, wajib dikarantina dengan diberi pakan yang bersih tidak najis hingga pengaruh pakan najis benar-benar bersih darinya.


Allahu a'lam


Tidak ada komentar:
Write komentar