Keutamaan Meninggal di Madinah

 

Dalam hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang bisa memilih mati di Madinah, silahkan dia lakukan. Karena saya akan memberi syafaat bagi mereka yang mati di Madinah.” (HR. Ahmad 5437, Turmudzi 4296 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Kita memahami, siapapun manusia tidak pernah tahu di mana dia meninggal? Tempat meninggal itu pilihan Allah bukan pilihan manusia. Allah berfirman,

“Tidak ada satu jiwa yang mengetahui di bagian bumi mana dia akan meninggal.” (QS. Luqman: 34).

Lalu apa makna hadis di atas?

Al-Mubarakfuri menjelaskan,

“Siapa yang bisa memilih mati di Madinah” maksudnya adalah tinggal di sana, sampai meninggal dunia di Madinah. Sehingga hadis ini berisi motivasi untuk menetap di Madinah."

Kemudian al-Mubarokfuri menukil keterangan at-Tibi,

"Perintah meninggal di Madinah, padahal pilihan tempat meninggal di luar pilihan manusia, tapi kembali kepada Allah, sehingga perintah ini adalah perintah untuk tinggal di Madinah, tidak keluar darinya. Dan ini akan menjadi sebab bisa meninggal di Madinah." (Tuhfatul Ahwadzi, 10/286)

Namun bukan berarti semua manusia yang mati di Madinah akan mendapatkan keistimewaan. Di kota Madinah pula gembong munafik Abdullah bin Ubay bin Salul meninggal dan di makamkan di Madinah.

Karena bagian bumi yang mulia tidak akan membuat seseorang menjadi suci. Namun orang baik yang meninggal di tempat yang baik akan menjadi semakin baik. Salman  al-Farisi mengatakan,

Sesungguhnya bumi tidak akan menjadikan seseorang menjadi suci. Namun yang menyebabkan sucinya seseorang adalah amalnya. (HR. Imam Malik dalam al-Muwatha’, no. 2842)

Allahu a’lam.

Tidak ada komentar:
Write komentar