Kisah Abu Lahab

 

Abu Lahab nama aslinya Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. Urutan nasabnya: Abdul Uzza bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab. Lebih dikenal dengan nama Kun-yah: Abu Lahab dibandingkan nama aslinya. Lahab artinya menyala-nyala. Ada yang mengatakan bahwa yang menggelari Abu Lahab adalah ayahnya, Abdul Muthalib, karena Abu Lahab wajahnya sangat cerah. Abu Lahab termasuk salah satu paman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekaligus penentang dakwah beliau.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ketika turun ayat,

“Berikanlah peringatan kepada kerabat dekatmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam naik bukit shafa, beliau memanggil-manggil,

“Wahai Bani Fihr!, wahai Bani Adi!, beliau panggil beberapa suku Quraisy…”

Hingga mereka semua berkumpul. Jika ada yang tidak bisa datang, mereka mengirim utusan untuk menyaksikan apa yang terjadi. Datanglah Abu Lahab dan beberapa suku Quraisy. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai nasehatnya,

"Bagaimana  menurut kalian, jika saya kabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di balik bukit ini yang akan menyerang kalian. Apakah kalian akan mempercayaiku?"

Mereka serentak mengatakan, “Ya, kami mempercayainya, kami tidak pernah menilai kamu kecuali orang yang benar.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

“Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan (utusan) sebelum adanya adzab (kiamat).”

Mendengar ceramah ini, Abu Lahab marah besar dan langsung mengatakan,

“Celaka kamu sepanjang hidupmu… apakah hanya untuk tujuan ini kau kumpulkan kami?”

Kemudian Allah turunkan surat al-Lahab yang berisi ancaman keras untuk Abu Lahab.

Para ulama memahami bahwa turunnya surat al-Lahab merupakan salah satu mukjizat. Karena surat ini berisi ancaman untuk Abu Lahab dan istrinya dalam bentuk adzab di neraka, kekal selamanya. dan Abu Lahab beserta istrinya keduanya mati kafir, selalu menentang islam. Padahal surat ini turun 10 tahun sebelum meninggalnya Abu lahab. Pada saat perang Badar, Abu Lahab tidak ikut perang. Tapi dia meminta al-Ashi bin Hisyam bin Mughirah untuk menggantikannya, dengan membayar 4000 dirham.

Abu Lahab meninggal 7 hari pasca-perang Badar karena sakit parah, seperti Tha’un, yang mereka sebut dengan al-Adasah. Setelah mati, jasadnya tidak diurusi selama 3 hari, hingga berbau. Ketika mereka merasa khawatir bisa membahayakan, mereka menggali tanah, lalu mayat Abu Lahab dimasukkan lubang dengan kayu. Setelah masuk, mereka mengubur dengan melempari kerikil dan tanah dari kejauhan ke dalam kuburan sampai semua terkubur, karena mereka tidak kuat dengan baunya.

Allahu a'lam

Tidak ada komentar:
Write komentar