Inilah Hadist Seputar Keutamaan Bulan Rajab

 

1. Sungai di surga

Derajat hadits: Lemah

Sesungguhnya di dalam surga terdapat sebuah sungai yang disebut Rajab. Airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Barangsiapa puasa sehari di bulan Rajab, maka Allah akan memberinya minum dari air sungai itu. [HR. Ashbahani di "At-Targhib (1847)

Al-Hafizh Ibnu Hajar menyimpulkannya:

Secara umum sanadnya lemah. Akan tetapi tidak sampai ke palsu. Penyebab lemahnya adalah seorang rawi yang bernama Musa bin 'Umair al-Anbari. [Lihat: Tadzkiratul Huffaz (288)].

2. Ibadah 700 tahun

Derajat hadits: SANGAT LEMAH

Barangsiapa yang berpuasa tiga hari pada bulan haram; Kamis, Jumat dan Sabtu, maka Allah tulis baginya (pahala) ibadah selama 700 tahun.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata,

Diriwayatkan ke kami dalam buku "Fawaid Tamam Ar-Razi". Di sanadnya ada sekian perawi lemah dan sekian perawi majhul.

3. Pahala Puasa Rajab

Derajat hadits: PALSU

"Barangsiapa berpuasa tiga hari di bulan Rajab, maka Allah akan menuliskan baginya puasa sebulan. Barangsiapa berpuasa tujuh hari di bulan Rajab, maka Allah akan menutup baginya tujuh pintu neraka. Barangsiapa puasa delapan hari di bulan Rajab, maka Allah akan membukakan baginya delapan pintu surga. Barangsiapa yang mempuasakan setengah bulan Rajab, maka Allah akan tuliskan baginya ridhaNya. Dan siapa yang telah Allah tuliskan baginya ridhaNya, Dia tidak akan mengazabnya. Dan siapa yang mempuasakan semua Rajab, maka Allah akan menghisabnya dengan hisab yang mudah. [HR. Ashbahani di "At-Targhib (1847)].

Imam Ibnul Jauzi (w 597 H) -Rahimahullah- berkata,

Hadis ini tidak shahih. Dalam sanadnya terdapat perawi bernama Aban. Syu'bah berkata, “Berzina lebih aku sukai dari meriwayatkan hadits dari Aban.” Kata Ahmad, Nasai dan Daruquthni, “Dia perawi matruk (ditinggalkan).” Dalam sanadnya juga ada perawi 'Amru bin Azhar. Ahmad berkata, “Dia memalsukan hadits.”  Nasai berkata, “Matruk.” Daruquthni berkata “.Pendusta berat.”

PERNYATAAN IMAM SYAFI'I

Setelah di cek, betul bahwa itu adalah perkataan Imam Syafi'i –Rahimahullahu-.

"Dan telah sampai kepada kami bahwa pernah dikatakan: Sesungguhnya doa dikabulkan di lima malam; malam jumat, malam 'id Adha, malam 'id Fitri, malam pertama bulan Rajab, dan malam pertengahan Sya'ban."

Lalu beliau berkata,

"Dan aku menganjurkan setiap yang kusampaikan pada malam-malam ini, tanpa menjadikannya hal wajib."

Pernyataan ini beliau tulis di bawah judul:

Ibadah di malam 2 hari raya.

Lalu beliau menyebutkan 2 dalil tentang menghidupkan malam 'id, tapi tidak menyinggung sama sekali dalil keutamaan malam pertama Rajab.

Al-Hafizh Ibnu Hajar –Rahimahullahu- berkata,

"Tidak ada satupun hadits shahih yang layak dijadikan pegangan tentang keutamaan bulan Rajab, atau mempuasainya, atau hari tertentu darinya, atau menghidupkan malam tertentu darinya."

Kemudian beliau berkata,

"Akan tetapi telah masyhur dari ulama bahwa mereka bertoleran menyampaikan hadits-hadits di fadhilah amal, meskipun ada kelemahan padanya, selagi ia tidak palsu. Akan tetapi disyaratkan bahwa orang yang beramal berkeyakinan hadits itu lemah dan tidak mengobralnya. Hal ini supaya seseorang tidak beramal dengan hadits lemah, sehingga mensyariatkan (menetapkan) apa yang bukan syariat, atau terlihat orang awam sehingga menduganya sebagai sunnah yang shahih"

Imam Ibnu Taimiyah –Rahimahullahu- berkata,

"Adapun mengkhususkan puasa Rajab, maka semua haditsnya lemah, bahkan palsu. Ulama tidak berpegang kepadanya satupun. Dan ia tidak termasuk hadits dhaif yang boleh diriwayatkan di fadhilah amal. Akan tetapi kebanyakannya termasuk hadits-hadits palsu dan dusta."

Imam Ibnul Qayyim –Rahimahullahu- berkata,

"Setiap hadits yang menyebutkan puasa Rajab dan shalat sebagian malam, maka itu dusta lagi dibuat-buat."

Puasa di bulan rajab oleh saja, selagi tidak dikhusus-khususkan. Bahkan dianjurkan oleh sebagian ulama memperbanyak ketaatan padanya, karena Rajab termasuk bulan haram.

Allah berfirman,

"...Diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu!" [QS. At-Taubah (9) ayat 36].

Imam Qurthubi –Rahimahullahu- berkata,

"Siapa yang mentaati Allah di bulan Haram di tanah Haram, pahalanya tidak sama dengan pahala yang mentaatinya di bulan Halal di tanah Haram."

Imam Ibnu Katsir –Rahimahullahu- berkata,

Allah berfirman, " maka janganlah kamu menganiaya diri kamu padanya!", maksudnya di bulan-bulan Haram ini, karena dosanya lebih kuat dan lebih dahsyat dari bulan lainnya."

KESIMPULAN
1. Tidak ada satupun hadits yang shahih tentang keutamaan ibadah hari atau malam tertentu di bulan Rajab, sehingga tidak boleh dijadikan pegangan beramal.

2. Yang ada adalah keutamaan umum beramal di bulan-bulan Haram; Dzul Qaedah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab, sehingga boleh meningkatkan amal di bulan-bulan ini.

3. Perkataan Imam Syafi'i –Rahimahullah- memang betul ada di bukunya  "Al-Umm" akan tetapi beliau tidak menyebutkan dalil keutamaan khusus malam pertama Rajab.

Wallahu A'lam

Tidak ada komentar:
Write komentar