Ketika Ada Ketegangan Rakyat dan Pemerintah

 

Salah satu sumber terbesar hilangnya rasa aman adalah ketika terjadi sengketa antara pemerintah dengan rakyatnya. Ketika pemerintahnya muslim dan rakyatnya juga muslim, ketegangan ini sangat merugikan bagi umat muslimin. Apapun yang terjadi, korbannya adalah kaum muslimin. Karena itulah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama mengajak sebisa mungkin jangan sampai terjadi pemberontakan dari rakyat muslim kepada pemerintah muslim.

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Akan ada pemimpin yang membuat hati menjadi tenang, kulit tidak tegang… kemudian akan ada pemimpin yang membuat hati gregetan dan kulit jadi tegang.”

Lalu seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bolehkah kita perangi mereka?”

Jawab beliau, “Jangan, selama dia masih menjalankan shalat.” (HR. Ahmad 11005 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Dalam hadis lain, dari sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Akan ada setelahku para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dariku dan tidak mengikuti ajaranku. Dan di tengah mereka akan ada beberapa penguasa ber-hati setan yang bersemayam di badan manusia…

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu bertanya,

Apa yang harus aku lakukan Ya Rasulullah, jika aku menjumpai hal itu?

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Dengarkan dan taati pemimpinmu. Meskipun punggungmu dipukul, hartamu dirampas, dengarkan dan taati.” (HR. Muslim 4891).

Dan hadis yang semisal sangat banyak…

Barangkali ada orang yang berfikir, jika seperti ini caranya, berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat memihak pemimpin. Hadis ini terlalu menguntungkan pemimpin…

Mohon baca dan renungkan hadis tersebut dengan baik…

Apa kepentingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap pemimpin? Apakah beliau mengharapkan dukungan dari mereka?

Tentu tidak.. beliau sama sekali tidak butuh para pemimpin di kalangan umatnya. Beliau tidak memiliki kepentingan terhadap harta maupun jabatan mereka.

Lalu mengapa beliau sangat menekankan rakyat untuk mentaati pemimpinnya? Apakah beliau tidak membela rakyat?

Justru nasehat ini beliau sampaikan, karena Beliau sangat mencintai rakyat kaum muslimin…

Orang cerdas akan memandang semua potensi dampak yang muncul ketika terjadi masalah…

Siapapun manusia yang diberi oleh Allah kelebihan duniawi, sementara iman dan taqwanya terbatas, bisa dipastikan itu akan menjadi potensi baginya untuk melakukan penyimpangan. Termasuk ketika dia mendapatkan jabatan sebagai pemimpin. Sehingga hampir semua pemimpin punya potensi untuk mendzalimi rakyatnya. Jika realita ini tidak bisa dipungkiri, sementara rakyat dibiarkan bebas untuk memberontak pemimpinnya, maka selamanya negeri muslim akan selalu tegang dengan pemimpinnya. Lantas kapan mereka bisa hidup nyaman… kapan mereka bisa membangun negaranya… sementara mereka terus ber-seteru…

Sehingga nasehat ini, hakekatnya bukan merugikan rakyat, bukan menyudutkan rakyat, tapi demi kemaslahatan rakyat… karena beliau sangat mencintai rakyatnya…

Allahu a’lam.

Oleh

Ustadz Ammi Nur Baits

Tidak ada komentar:
Write komentar