Apakah Wanita Haid Tetap Mendapat Pahala Puasa Sunnah ?

 

Orang yang tidak mampu beramal karena udzur, sementara ada keinginan besar darinya untuk beramal, maka dia tetap mendapatkan pahala. Mereka tidak beramal bukan karena malastapi Mereka tidak beramal karena udzur.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat berangkat jihad, ada beberapa orang yang udzur, sehingga tidak ikut berangkat. Beliau mengatakan,

Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang, setiap kali kalian menempuh perjalanan atau melintasi lembah, mereka selalu berama kalian.

Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, meskipun mereka diam saja di Madinah?”

Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Meskipun mereka di Madinah. Mereka tidak ikut jihad karena udzur. (HR. Bukhari 4423).

Dalam hadis lain, dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Apabila seorang hamba mengalami sakit atau safar (sehingga tidak bisa beramal) maka tetap dicatat untuknya sebagaimana amal rutinnya ketika dia tidak safar dan dalam kondisi sehat. (HR. Ahmad 19679 & Bukhari 2996)

Hadis ini berlaku untuk amalan yang dirutinkan seorang mukmin, kemudian dia tidak mampu melaksanakannya karena udzur.

Syaikh Dr. Khalid al-Mushlih mengatakan,

Para ulama menyamakan status wanita haid dan nifas sebagaimana orang sakit, dimana mereka tetap mendapat pahala shalat ketika haid. Karena mereka memiliki penghalang yang diterima oleh syariat. dan ini tentu dengan syarat, disertai keinginan yang jujur dan tekad kuat untuk beramal, andai dia tidak memiliki udzur.

Sumber: http://ar.islamway.net/fatwa/33637/هل-المرأة-الحائض-لها-أجر-في-شهر-رمضان

Sehingga wanita haid atau nifas tetap bisa mendapatkan pahala puasa ayyamul bidh atau puasa senin kamis, jika dia memiliki rutinitas puasa sunah tersebut dan ada tekad kuat untuk mengamalkannya andai tidak ada udzur.

Allahu a’lam.

Oleh

Ustadz Ammi Nur Baits

Tidak ada komentar:
Write komentar