Larangan Bagi Istri Ketika Masa Idah Ditinggal Mati Suami

 

Wanita yang sedang dalam masa iddah karena suaminya meninggal dunia tidak diperbolehkan keluar rumah, berdasarkan firman Alloh;

"Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber`iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis `iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. Allah mengetahui apa yang kamu perbuat." (QS. Al-Baqarah: 234)

Dan sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pada Furai’ah, seorang wanita yang ditinggal mati suaminya;

"Tinggallah di rumahmu hingga selesai masa 'iddahmu." (Sunan Abu Dawud,2300, Sunan Turmudzi, no.1204,Sunan Nasa’I, no.3530 dan Sunan Ibnu Majah, no.2031)

Wanita dalam masa iddah tidak diperkenankan keluar rumah, kecuali ada keperluan sangat mendesak, seperti pergi ke rumah sakit untuk berobat atau hal-hal lainnya, jika tidak ada seorangpun yang membantu dia untuk mengerjakan hal-hal tersebut. Demikian pula jika rumahnya runtuh, ia boleh keluar dari rumah itu menuju rumah yang lain atau takut terhadap keselamatan dirinya. Maka dalam kondisi-kondisi seperti ini, ia boleh keluar rumah sesuai dengan kebutuhan.

Diperbolehkannya wanita tersebut keluar rumah dengan catatan dengan tetap melaksanakan “ihdad” yang wajib bagi wanita yang ditinggal mati suaminya, yaitu dengan tidak berhias diri dan memakai minyak wangi. Sebagaimana sabda Rasulullah,

"Seorang wanita dilarang berkabung atas kematian seseorang di atas tiga hari, kecuali yang meninggal adalah suaminya, maka ia harus berkabung selama empat bulan sepuluh hari. Ia tidak boleh memakai baju yang dicelup kecuali baju tenunan Yaman. Tidak boleh memakai celak. Dan tidak boleh memakai wangi-wangian, kecuali dia suci dari haidh kemudian mengambil sedikit dari kusti dan adzfar." (HR. Muslim, kitab Ath-Thalaq, bab wujub al-ihdad fi iddah al-wafah, dan At-Tirmidzi, kitab Ath-Thalaq, no. 2739)

Wanita dalam masa iddah tidak boleh dipinang secara terang-terangan sampai berakhir masa iddahnya. Tetapi tidak ada larangan jika seorang lelaki yang meminangnya secara ta`ridh. Sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

"Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran..." (QS. Al-Baqarah: 235)

Allah Subhanahu wa Ta’ala membolehkan pinangan secara sindiran dan mengharamkan pinangan secara terus terang. Allah Subhanahu wa Ta’ala mempunyai hikmah atau rahasia tersendiri dalam hal itu.

Sedangkan wanita hamil lalu ditinggal mati suaminya maka masa idah nya sampai melahirkan bayi yang dikandungnya, ini karena keumuman firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbunyi,

"Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka ialah sampai mereka melahirkan kandungannya." (QS. Ath-Thalaaq: 4)

Ayat di atas, mengkhususkan keumuman ayat pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

"Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan istri-istri (hendaklah para istri itu) menangguhkan dirinya (ber`iddah) empat bulan sepuluh hari." (QS. Al-Baqarah: 234)

Diantara hikmah kenapa berakhirnya masa iddah terkait dengan kelahiran bayi adalah karena hamil merupakan hak mutlak bagi suami pertama. Maka jika sang wanita segera menikah setelah berpisah suami (apakah karena mati atau sebab lainnya) pada saat dia hamil, berarti suami kedua ini sama dengan menyiramkan airnya pada tanaman orang lain (yaitu suami pertama). Dan hal ini sangat dilarang sesuai dengan keumuman sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang berbunyi,

"Tidak halal bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir untuk menyiramkan airnya pada tanaman muslim yang lain." (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban, dari Ruwaifi` bin Tsabit Al-Anshari.)

Wallahu a'lam

Tidak ada komentar:
Write komentar