Balok Balas Balok

 

Allah mengajarkan satu kaidah, siapa yang melakukan kedzaliman maka dia berhak untuk dibalas dengan yang setimpal.

Allah berfirman,

Siapa yang melakukan kebaikan maka dia mendapatkan 10 kali yang semisal. Dan siapa yang melakukan kejahatan maka dia tidak dibalas kecuali yang semisal, dan mereka tidak didzalimi. (al-An’am: 160)

Allah juga berfirman di ayat yang lain,

“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal..” (QS. Yunus: 27)

Dan itulah keadilan. Siapa yang bertindak jahat, dia dibalas yang setimpal. Karenanya, prinsip qishas yang diajarkan dalam islam, bahwa balasan disamakan dengan bentuk kejahatan.

Allah berfirman,

Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. (QS. an-Maidah: 45).

Jika ada orang yang memukul dengan balok, maka dia berhak untuk mendapatkan hukuman yang sama, yaitu dipukul dengan balok pula. Jika sampai patah tulang, dia juga harus dipukul hingga patah tulang.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita,

Ada seorang wanita terkapar karena kepalanya dipukul dengan dua batu dari samping kanan-kirinya. Para sahabatpun bertanya kepadanya, siapa yang melakukan ini kepadamu, apakah si A, si B, hingga mereka menyebut nama seorang Yahudi, lalu wanita itu mengangguk. Orang yahudi itupun ditangkap. Setelah dia mengaku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kepalanya juga dipukul dengan batu. (HR. Muslim 4458 & Ibnu Hibban 5993).

Inilah keadilan. Batu balas batu, balok balas balok, dan siapapun tidak berhak untuk melindunginya, hingga korban memaafkannya.

Melindungi pelaku tindak kriminal adalah kejahatan. Seharusnya dia merasa malu untuk melakukan semacam itu. Berusaha mengalihkan hukum dan kebenaran, sementara dia hanyalah seorang makhluk.

Lihatlah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Andaipun yang melakukan pelanggaran kriminal adalah Fatimah, beliau akan tetap tegakkan hukuman untuknya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya umat sebelum kalian binasa, karena bila terdapat pencuri dari kalangan terhormat, maka mereka membiarkan dan bila terdapat pencuri dari kalangan lemah, maka mereka menegakkan hukuman atasnya, demi Allâh Azza wa Jalla andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya.” (HR. Bukhari 3475, Muslim 4505 dan yang lainnya).

Karena itulah, Allah melaknat manusia yang melindungi pelaku kejahatan. Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang melindungi muhdits.” (HR. Muslim 1978)

Siapa yang dimaksud Muhdits ?

As-Syaukani mengatakan,

Muhdits adalah orang yang berbuat kerusakan, seperti tindak kedzaliman kepada orang lain atau semacamnya. Sementara orang yang melindungi, artinya orang yang menghalangi pihak terdzalimi untuk menuntut qishahs (balas). (Nailul Authar, 8/158).

Pelindung tidak melakukan tindak kedzaliman secara langsung. Tapi dia telah berbuat dzalim karena menghalangi pelaku untuk mendapatkan hukuman yang setimpal. Karena itu, dia berhak untuk mendapat laknat dari Allah.

Allahu a’lam.

Oleh

Ustadz Ammi Nur Baits

Tidak ada komentar:
Write komentar