Hukum Bersumpah untuk Diludahi

 

Terdapat riwayat dari Abu Rafi’, beliau menceritakan, Tuanku, Laila bintu al-Ajma’ pernah mengatakan kepada dirinya,

“Seluruh budakku merdeka, seluruh hewan ternaknya jadi sedekah, dan saya akan jadi yahudi atau nasrani, jika kamu tidak menceraikan istrimu atau kamu memisahkan diri dengan istrimu.”

Kemudian Abu Rafi’ medatangi Zainab bintu Ummu Salamah (istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), – yang ketika itu dikenal sebagai ahli fiqh – dan disampaikan bahwa Hafshah dan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhum, keduanya memfatwakan, untuk membayar kaffarah sumpah. (HR. Abdurrazaq dalam Mushannaf, 16000).

Berdasarkan riwayat ini, para ulama menjelaskan bahwa jika ada orang mengatakan sesuatu yang isinya ancaman yang merugikan dirinya jika terjadi hal tertentu, sementara dia tidak menghendaki ancaman itu terjadi maka statusnya adalah sumpah.

Dalam kasus di atas, Laila bintu Ajma’ mengatakan kepada Abu Rafi’,

Jika kamu tidak menceraikan istrimu atau pisah dengan istrimu, maka semua hartaku akan kusedekahkan, semua budakku kumerdekakan, dan aku akan jadi Yahudi atau Nasrani.

Padahal, andai Abu Rafi’ tidak menceraikan istrinya, Laila juga tidak menghendaki, semua hartanya jadi sedekah, dan budaknya merdeka, atau dia pindah agama.

Karena itulah, para sahabat memfatwakan, apa yang dilakukan Laila pada hakekatnya adalah sumpah. Dalam arti, jika Abu Rafi’ tidak menceraikan istrinya maka Laila  tidak perlu mensedekahkan semua hartanya atau membebaskan semua budaknya. Namun cukup bagi dia untuk membayar kaffarah sumpah.

Ini semisal dengan ancaman suami kepada istrinya,

“Jika kamu berani datang ke rumah si A, maka kamu tertalak.”

Sebenarnya suami tidak ingin menceraikan istrinya. Dan dia ucapkan itu, dengan tujuan untuk menghalangi istrinya agar tidak datang ke rumah si A. Sehingga dalam kasus ini, ulama menggolongkannya sebagai sumpah dan bukan talak menggantung.

Sehingga, andai istri melanggar dan mendatangi rumah si A, maka istri tidak otomatis tertalak. Tapi suami berkewajiban membayar kaffarah sumpah.

Hal diatas sama dengan kasus sekarang ini,

“kalau peserta aksi 212 lebih dari seribu orang, ludahi muka saya.”

Ini statusnya sumpah. Karena kita sangat yakin, orang yang ngomong semacam ini, sama sekali tidak ingin mukanya diludahi, ketika benar jumlah pendemonya lebih dari seribu.

Karena statusnya sumpah, maka jika ternyata jumlah peserta aksi lebih dari 1000, orang ini tidak harus pasang muka untuk diludahi bareng-bareng. Tapi dia cukup membayar kaffarah sumpah.

Allah a’lam

Oleh

Ustadz Ammi Nur Baits


Tidak ada komentar:
Write komentar