Status Nikah Orang Gila

 

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Pena catatan amal diangkat untuk 3 orang: orang yang tidur sampai ia bangun, dari orang yang gila sampai dia sadar, dan anak kecil sampai baligh. (HR. Ahmad 24703, Abu Daud 4400, Ibnu Majah 2041)

Orang gila, salah satu yang tidak dinilai perbuatannya, baik bentuknya ibadah maupun muamalahnya (interaksinya dengan orang lain).

Syaikhul Islam mengatakan,

Orang gila yang amalnya tidak dicatat, tidak sah ibadahnya dengan sepakat ulama. imannya, kufurnya, shalatnya dan ibadah lainnya, tidak sah. Bahkan umumnya orang menilai dia tidak boleh melakukan aktivitas dunia, seperti berdagang dan melakukan produksi. Tidak boeh jadi tukang tenun, penjual minyak wangi, pande besi, atau tukang kayu.

Kemudian beliau melanjutkan,

Demikian pula tidak sah akad-akadnya dengan sepakat ulama. Tidak sah jual belinya, nikahnya, talaknya, pengakuannya, persaksiannya, maupun yang lainnya, yang dia ucapkan. Bahkan semua ucapannya laghwun(tidak dinilai). Sama sekali tidak berlaku hukum syar’i, tidak ada pahala maupun dosa. (Majmu’ al-Fatawa,11/191).

Kecuali jika hilang akalnya karena sebab yang haram, seperti mabuk atau nyabu. Syaikhul Islam menegaskan,

Karena itu, dijelaskan oleh syariah bahwa pena catatan amal diangkat untuk orang tidur, orang gila, orang pingsan (tidak sadar). Dan mereka (para ulama) tidak berbeda pendapat kecuali untuk orang yang hilang akalnya disebabkan yang haram. (Majmu’ al-Fatawa, 5/254)

Karena itu, pernikahan orang gila tidak sah dan tidak mungkin untuk dinikahkan.

Allahu a’lam.

Oleh

Ustadz Ammi Nur Baits

Tidak ada komentar:
Write komentar