Apakah Bayi yang Sudah Meninggal Harus Selalu Didoakan ?

 

Pertama, bahwa menshalati jenazah anak kecil yang belum baligh, termasuk yang baru dilahirkan, hukumnya wajib. Ini merupakan pendapat jamahir ulama (hampir semua ulama).

An-Nawawi mengatakan,

Jenazah anak kecil, pendapat kami dan madzhab mayoritas ulama salaf (terdahulu) dan khalaf (generasi setelahnya) adalah wajib menshalatinya. Bahkan dinukil oleh Ibnul Mundzir rahimahullah, adanya kesepakatan ulama akan hal ini. (al-Majmu’ 5/217).

Pernyataan yang sama juga disampaikan Ibnu Qudamah,

Ulama sepakat bahwa jenazah anak yang ketika lahir diketahui dalam kondisi hidup, dan nangis, maka dia dishalati. (al-Mughni, 2/328).

Kedua, anak kecil yang meninggal sebelum usia baligh, tidak memiliki dosa

Ketentuan syariat, manusia yang belum baligh, tidak ada catatan amal dosa. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Pena catatan amal diangkat untuk 3 orang: orang yang tidur sampai ia bangun, dari orang yang gila sampai dia sadar, dan anak kecil sampai baligh. (HR. Ahmad 24703, Abu Daud 4400, Ibnu Majah 2041)

Ketiga, bagaimana mendoakan jenazah yang belum baligh

Anak kecil tidak memiliki dosa. Tapi bukan berarti ketika dia meninggal tidak didoakan. Mereka tetap didoakan, hanya saja didoakan agar menjadi tabungan bagi orang tuanya.

Ada beberapa riwayat tentang doa menshalati jenazah anak kecil. Diantaranya dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Janin keguguran dishalati jenazahnya, dan didoakan untuk kedua orang tuanya agar mendapatkan ampunan dan rahmat. (HR. Ahmad 18174, Abu Daud 3182 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).

Kemudian, riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ketika beliau mendoakan jenazah anak kecil, beliau membaca,

Ya Allah, jadikan dia sebagai pahala yang disegerakan dan simpanan abadi bagi orang tuanya. (HR. Baihaqi dalam al-Kubro no. 6585)

Kemudian juga diriwayatkan Bukhari secara muallaq dalam shahihnya,

Hasan al-Bashri ketika menshalati jenazah anak kecil, beliau membaca al-Fatihah, kemudian berdoa,

Ya Allah, jadikan dia sebagai pahala yang disegerakan dan simpanan abadi, dan sumber pahala bagi orang tuanya. (HR. Bukhari secara muallaq 1690).

Mengapa mereka tidak didoakan dengan istighfar?

Al-Buhuti mengatakan,

“Tidak dianjurkan untuk memohonkan ampun kepada jenazah anak kecil, karena dia akan menjadi syafi’ (pemberi syafa’at) dan bukan penerima syafa’at. Dan pena catatan amal belum diletakkan. Sehingga digantikan dengan mendoakan kebaikan untuk kedua orang tuanya, lebih baik dari pada mendoakan jenazah anak.” (Kasyaf al-Qana’, 2/115)

Semoga Allah memberikan kekuatan bagi kita untuk bersabar menghadapi musibah, dan mengabadikan pahala yang kita dapatkan hingga bisa dinikmati di akhirat.

Allahu a’lam.

Oleh

Ustadz Ammi Nur Baits

Tidak ada komentar:
Write komentar