Sakit dan Musibah adalah Takdir Allah Azza wa Jalla

 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman :
Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) yang ditimpakan di bumi dan tidak juga yang menimpa dirimu, melainkan telah ada di dalam Kitab (pengetahuan Kami) sebelum Kami menjadikannya; sesungguhnya mengadakan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(QS. Al-Hadid : 22)

"Tidak ada suatu musibahpun yang menimpa seseorang melainkan dengan izin Allah" (QS. At-Taghaabun : 11).

Ini adalah hikmah terpenting sebab diturunkannya sakit dan musibah. Dan hikmah ini sayangnya tidak banyak diketahui oleh saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Acapkali kita mendengar manusia ketika ditimpa sakit dan musibah malah mencaci maki, berkeluh kesah, bahkan yang lebih parah meratapi nasib dan berburuk sangka dengan takdir Allah. Na'udzubillah, kita berlindung kepada Allah dari perbuatan yg demikian. Padahal apabila mereka mengetahui hikmah dibalik semua itu, maka in_syaAllah sakit dan musibah terasa ringan disebabkan banyaknya rahmat dan kasih sayang dari Allah Ta'ala.

Diterangkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda :‎

"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya". (HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571).

"Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanaan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya". (HR. Bukhari no. 5641).

"Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengan dosa-dosanya". (HR. Muslim no. 2573).

"Bencana senantiasa menimpa orang mukmin dan mukminah pada dirinya, anaknya dan hartanya, sehingga ia berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada kesalahan pada dirinya".(HR. Tirmidzi no. 2399, Ahmad II/450, Al-Hakim I/346 dan IV/314, Ibnu Hibban no. 697, disahihkan Syeikh Albani dalam kitab Mawaaridizh Zham-aan no. 576).

"Sesungguhnya Allah benar-benar akan menguji hamba-Nya dengan penyakit, sehingga ia menghapuskan setiap dosa darinya".(HR. Al-Hakim I/348, disahihkan Syeikh Albani dalam kitab Shahih Jami'is Shaghir no.1870).

"Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, melainkan ditetapkan baginya dengan sebab itu satu derajat dan dihapuskan pula satu kesalahan darinya". (HR. Muslim no. 2572).

"Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api neraka". (HR. Al-Bazzar, dishahihkan Syeikh Albani dalam kitab Silsilah al Hadiits ash Shahihah no. 1821).

"Janganlah engkau mencaci-maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan menghapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi". (HR. Muslim no. 2575).

Walaupun demikian, apabila seorang mukmin ditimpa suatu penyakit tidaklah dibiarkan tanpa ada usaha (ikhtiar) untuk berobat. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

"Allah tidak menurunkan penyakit melainkan pasti menurunkan obatnya". (HR. Bukhari no. 5678).

Perlu diketahui bahwa sesungguhnya Allah Ta'ala menyediakan obat bagi setiap sakit yang datang. Dan haram bagi kita untuk berobat dengan cara yang salah, menggunakan bahan yang haram tanpa benar-benar mudharat, pengobatan yang mensyirikkan Allah dan seumpamanya.

"Sesungguhnya Allah menciptakan penyakit dan obatnya, maka berobatlah dan janganlah berobat dengan yang haram". (HR. Ad Daulabi dalam al-Kuna, dihasankan oleh Syeikh Albani dalam kitab Silsilah al Hadiits ash- Shahihah no. 1633).

"Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan kalian pada apa-apa yang haram".(HR. Abu Ya'la dan Ibnu Hibban no. 1397. Dihasankan oleh Syeikh Albani dalam kitab Mawaaridizh Zham-aan no. 1172).

"Sesungguhnya Allah tidak menjadikan kesembuhan penyakit kalian pada apa-apa yang diharamkan atas kalian". (HR. Bukhari, di-maushulkan ath-Thabrani dalam Mu'jam al Kabiir, berkata Ibnu Hajar : 'sanadnya shahih',Fathul Baari : X/78-79)

Baarakallahu fiikum

Tidak ada komentar:
Write komentar