Pujian Makhluk

 

Manusia itu pada dasarnya senang sekali jika dipuji. Entah dipuji karena ketampanannya, kekayaanya, kewibawaanya, kepintarannya, kecerdasanya dan lain-lain. Sedangkan orang dahulu takut sekali jika dipuji, mereka berusaha menutupi semua hal yang bisa mengundang pujian manusia.

Umar berkata, “Pujian itu adalah penyembelihan.”

Muhammad (guru imam Bukhari) berkata, “(Hal itu berlaku) apabila ia senang akan pujian yang diberikan kepadanya.”

Ibnu ‘Ajibah mengatakan, “Janganlah engkau tertipu dengan pujian orang lain yang menghampirimu. Sesungguhnya mereka yang memuji tidaklah mengetahui dirimu sendiri, kecuali yang nampak saja bagi mereka. Sedangkan engkau sendiri yang mengetahui isi hatimu.

Ada ulama yang mengatakan, “Barangsiapa yang begitu girang dengan pujian manusia, syaithon pun akan merasuk dalam hatinya.”

Ingatlah bahwa pujian itu milik Allah Ta'ala, yang patut untuk dipuji oleh semua makhluknya, sedangkan kita makhluk yang lemah, yang diciptakan dari air yang hina kemudian kelak akan menjadi tulang belulang yang hancur, yang tiada daya upaya kecuali kekuatan Allah tidak pantas mendapatkan pujian itu. Semua nikmat yang kita dapat itu datangnya dari Allah, yang Maha Hidup, yang Kekal Abadi yang memegang semua perbendaharaan langit dan bumi.

Maka pujilah Allah Ta'ala...

Jangan sampai amalan yang kita lakukan, yang kita kerjakan setiap harinya, bahkan yang kita susun bertahun-tahun hancur menjadi debu, dikarenakan pujian tersebut, jadikan pujian ini sebagai cambuk yang menyakitkan.

Jika kita sedang melakukan suatu amalan, maka hendaklah kita tidak bercita-cita ingin mendapatkan pujian makhluk. Cukuplah Allah Ta'ala saja yang memuji amalan kebajikan kita. Dan seharusnya yang dicari adalah ridha Allah, bukan komentar dan pujian manusia...

Baarakallahu fiikum

Tidak ada komentar:
Write komentar