Keutamaan Mati di Hari Senin

 

Aisyah menjenguk Abu Bakr as-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu menjelang ayahnya wafat.

Lalu beliau bertanya,

Berapa lembar kain yang kalian gunakan untuk mengkafani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Jawab Aisyah,

“Tiga lembar kain putih jenis Sahuliyah, tanpa ada baju maupun imamah (tutup kepala).”

Abu Bakr bertanya lagi,

Hari apa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat?

Jawab A’isyah, “Hari Senin.”

Abu Bakr tanya lagi,

“Sekarang hari apa?”

Jawab Aisyah, “Sekarang senin.”

Lalu Abu Bakr mengatakan,

“Saya berharap mati sebelum malam ini.”

Lalu beliau kain yang sedang beliau pakai, yang ada bekas minyak za’faran. Lalu beliau mengatakan,

“Cucikan kain ini, dan tambahkan 2 lembar kain yang lain, lalu gunakan untuk mengkafaniku.”

Kata Aisyah,

“Kain ini sudah usang.”

Jawab Abu Bakr,

“Yang hidup lebih layak untuk memakai yang baru dari pada yang mati. Kafan hanya untuk membungkus nanah dan cairah mayat.”

Aisyah mengatakan,

Senin sore harinya, Abu Bakr meninggal dan dimakamkan sebelum subuh. (HR. Bukhari 1387)

Dalam hadis ini, Abu Bakr as-Shiddiq berharap bisa meninggal hari senin. Agar sama seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang ini dijadikan dalil sebagian ulama tentang anjuran mati hari senin.

Al-Hafidz Ibnu Hajar menukil keterangan Ibnul Munayir,

Zain Ibnul Munayir mengatakan, “Menentukan kapan akan mati, di luar pilihan siapapun manusia. Hanya saja, ada ruang dalam bentuk berusaha mencari sebab. Seperti berharap kepada Allah, dengan tujuan mendapatkan  berkah. Jika ternyata tidak diijabahi, dia mendapat petunjuk karena keyakinannya.” (Fathul Bari, 3/253).

Allahu a’lam.

Oleh

Ustadz Ammi Nur Baits

Tidak ada komentar:
Write komentar