Apakah Uang Asuransi Termasuk Warisan ?

 

Nilai klaim asuran yang boleh diterima tidak lebih dari premi yang pernah dibayarkan. Jika orang telah mendapatkan itu, lalu bagaimana pengaturan hartanya? Apakah masuk hitungan warisan ataukah tidak?

Dr. Muhammad Ali Farkus pernah ditanya tentang wanita yang ditinggal mati suaminya, dan dia mendapat santunan dari lembaga kematian. Apakah uang ini boleh dimanfaatkan pribadi? Atau harus dibagi ke seluruh ahli waris?

Beliau menjelaskan,

Harta yang diterima oleh keluarga mayit ada 2 kemungkinan,

[1] harta itu murni hibah dan pemberian untuk keluarga mayit

Harta jenis ini tidak masuk dalam perhitungan warisan. Tapi diserahkan sesuai peruntukan dan sasaran yang diinginkan pemberi. Jika yang memberi mengarahkannya untuk istri atau anaknya, maka yang lain tidak mendapatkannya.

[2] harta itu diberikan karena jasa atau tabungan mayit ketika masih hidup

Harta jenis ini masuk dalam perhitungan warisan. Dibagi sesuai kaidah pembagian warisan sebagaimana yang dijelaskan dalam fiqh warisan.

Beliau memberikan jawaban,

Hukum dalam masalah ini berbeda-beda melihat latar belakang yayasan yang memberi uang dan latar belakang harta yang diberikan. Apakah itu dari yayasan khusus menangani santunan bagi keluarga mayit ataukah jaminan sosial untuk mayit? Sehingga pertannyaan yang butuh kita pastikan jawabannya, apakah lembaga memberikan dana ini sebagai hibah ataukah itu hak orang yang mati yang diambilkan dari jaminan sosial melalui iuran bulanan dari potongan penghasilan bulanan yang dibayarkan mayit selama masa kerja ketika hidup?

Kemudian beliau memberikan rincian,

Jika bentuknya yang pertama, yaitu hibah atau santunan dari lembaga yang khusus menangani orang meninggal, sebagai bantuan kemanusiaan, dalam rangka membantu keluarga mayit, anak-anaknya… dalam kondisi ini, harta diserahkan kepada tujuan pemberian itu, sesuai yang telah ditentukan oleh lembaga pemberi donasi, dan tidak digabungkan dengan harta warisan.

Namun jika bentuknya yang kedua, yaitu hak bagi mayit yang diambil dari gaji selama bekerja untuk jaminan sosial, maka dana ini masuk dalam hitungan warisan, yang harus dibagi sesuai aturan pembagian warisan dalam syariat.

Sumber: http://ferkous.com/home/?q=fatwa-310

Oleh karena itu,

Pertama, untuk santunan dari lembaga asuransi, semuanya dihitung sebagai harta warisan. Dan dibagi sesuai kaidah pembagian warisan. Karena hakekatnya ini adalah tabungan mayit selama dia masih bekerja. Dan baru diserahkan setelah meninggal. Termasuk ketika mayit punya saham di sebuah perusahaan, dan berkembang. Semua hasil mask dalam hitungan warisan. Ada kaidah mengatakan,

Harta dan semua turunan perkembangan dari harta, menjadi hak pemilik harta

Kedua, untuk dana santunan dari masyarakat, para pelayat atau yayasan sosial bisa diserahkan sesuai peruntukannya. Jika para pemberi santunan menyerahkan uang itu untuk ditujukan kepada anak jenazah, maka istri dan ortu jenazah tidak mendapatkannya. Sementara untuk tidak ada sasarannya, misal yang dimasukkan di kotak dana rumah duka, bisa dibagi untuk semua anggota keluarga. Bisa juga untuk menutupi kebutuhan selama prosesi jenazah, seperti pelayanan untuk tamu atau semacamnya.

Allahu a’lam.

Oleh

Ustadz Ammi Nur Baits

Tidak ada komentar:
Write komentar