FPI ke Kantor Kompas TV

 

Info: Kamis, 16 Juni 2016, pukul 13.09 Wib, di kantor  TV Kompas Jl. Palmerah Selatan, Kel. Gelora, Kec. Tanah Abang. Jakarta Pusat, telah datang perwakilan FPI yang berjumlah kurang lebih 20 (dua puluh) orang pimpinan Munarman, SH dengan maksud dan tujuan untuk melakukan Audensi, setibanya perwakilan langsung menuju ruang Humas yang telah dipersiapkan oleh pihak Kompas.

Tuntutan : Menolak pemberitaan negatif terhadap Bulan Suci Ramadhan oleh Kompas Group dalam kasus razia warteg di Serang Banten.

Adapun nama nama Perwakilan antara lain  :
1. Ust. Munarman, SH,
2. Kh. Abdul Fatah,
3. Ust. Maman Suryadi,
4. Kh. Awid Masruri,
5. Ust. Novel,
6. Ust. Aziz,
7. Ust. Zainal Abidin,
8. Ustadzah Syarifah,
9. Ust. Tarmidzi,
10. Ust. Bahar,
11. Ust. Haikal,
12. Ust. Syahrozi,
13. Ust. Ali,
14. Sdr. Syafiq,
15. Habib Zen,     
16. dan 5 orang Laskar FPI.

Perwakilan ditemui  Widi Kristawan (Direktur Humas PT. Kompas Gramedia), Budiman.

Isi pertemuan :

*Ust. Munarman SH*

"... Sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas penerimaannya, saya bersama Kh. Abdul Fatah, Ust. Maman Suryadi, Kh. Awid Masruri, Ust. Novel, Ust. Aziz, Ust. Zainal Abidin, Ustadzah Syarifah, Ust. Tarmidzi, Ust. Bahar, Ust. Haikal, Ust. Syahrozi, Ust. Ali, Sdr. Syafiq, dan Habib Zen.

Kedatangan kami hanya sekedar informasi, yang mereka mungkin hanya kenal keras. Sebagaimana surat kami ingin meminta penjelasan. Kenapa sih Kompas berkali kali dalam pemberitaan menyakiti umat Islam salah satu kami FPI. Kami telah mencari data 11-15 Juni 2016 mengenai rata rata pemberitaan mengenai berita Serang yang seolah olah peraturan yang melindungi umat Islam, hampir sebanyak 300-an.

Kompas memberitakan logikanya orang ibadah lebih menghormati orang yang tidak ibadah. Jika. Kompas masih mengarah kepada demikian, bisa bisa masyarakat marah.
Saya kira berlaku adillah, kita tidak meminta anda membela Islam, tidak mungkinlah. Tapi berlakukan adil. dan proporsional.

Pertama itu kami meminta penjelasan pada. hal tersebut. Yang kedua kami menghimbau agar Kompas jangan keluar batas. Jadi.sekarang tidak membahas teknik itu. sudah clear. Tapi kami meminta kebijakan redaksi politiknya.

*Widi Kristawan (Direktur Humas PT. Kompas Gramedia)*

Memang benar, kami sudah hidup di media di puluhan tahun dan mungkin sudah dasar. Tapi kami juga butuh teman, teman itu gak harus memuji tetapi perlu kritik, saran dan masukan. Kami terima kasih atas masukannya dan juga. Mudah-mudahan grafik itu sebagai efek gaung dari pemberitaan.

*Budiman (Kompas)*

Saya garis bawahi bahwa ini sebagai alarm, itulah sebagai silaturahim, kami juga perlu itu, tapi seandainya bisa memberikan. masukan langsung dari Mas Munarman. Kami tidak ada niat unsur untuk melukai. Dan kami senang dengan alarm atau peringatan dari masyarakat.

* Tri Wahyono (Kompas.com)*

Kami menyampaikan bahwa memang setiap hari menghasilkan 400 pemberitaan. Sehingga kami juga menerima atas peringatan rekan-rekan.

*Kompas TV*

dalam pemberitaan ini memang real di Serang ketika reporter kami ke lapangan dengan wartawan lainnya. Sehingga ketika kembali melaporkan berita tersebut. Lalu sesuai kaidah media kami meminta klarifikasi pihak terkait. Dan kami menerima atas peringatan dari H. Munarman dengan rekan-rekan.

*KH. Awid Marsuri*

Mudah-mudahan ini tidak terulang lagi. Tapi kalau mau dikatakan adil seharusnya ketika hari Raya Nyepi di Bali warung-warung ditutup kenapa tidak di liput tidak hanya pada saat bulan Ramadhan, ini berarti.yang kami bilang tidak adil. Dan kami merasa tersinggung. Dan akibat pemberitaaan mulai banyak perda yang akan dicabut, padahal ini Perda Syariat.

*Habib Ali*

Umat Islam itu sangat sensitif dalam puasa dan Ramadhon. Karena ini adalah salah satu rukun Islam. Dan menjadi sahnya tidak seorang umat Islam.

*Ust. Novel*

Lagi-lagi kita minta keadilan kepada media. Berkali-kali kita menjadi korban. Ketika saya pernah dipenjara akibat rekayasa Kapolda dan Gubernur. Jadi dalam pemberitaan harus secara adil dan proporsional terhadap kami FPI.

Pukul 14.03 wib, saat pertemuan berlangsung di ruang humas, hadir juga KH. Al Khathath (Sekjen FUI) dan menyampaikan :

Saya ingin mengingatkan bahwa hati hati dengan kedzaliman. Bahwa salah satunya Puasa itu wajib. Dalam perspektif agama kita harus beryukur terhadap Satpol PP atas yang dilakukannya. Kenapa kok yang di Jaman Jokowi kok malah pemberitaan membully Satpol PP yang padahal menegakan syariat agama dalam perda. Ini yang mendasari kami datang ke Kompas. Dulu FPI yang merazia dan kemudian dibully oleh media, dan sekarang FPI sudah mulai mengurangi hal tersebut dan menyerahkan ke Pemda melalui Satpol PP dan Polisi. Tapi kok malah dibully.

Pukul 14. 25 Wib. pertemuan selesai, kemudian massa meninggalkan kantor Kompas, situasi kondusif.

Tidak ada komentar:
Write komentar