Eksistensi Sebuah Niat

 

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. (HR. Bukhari Muslim)

Hadits diatas merupakan dasar pentingnya sebuah niat dalam semua perbuatan. Disebabkan niat sebuah perbuatan bisa menjadi kebiasaan atau menjadi ibadah. Sebagai contoh seseorang memakan makanan karena lapar dan seseorang makan makanan karena ingin kuat dalam beribadah. Maka hasilnya akan beda. Orang pertama makan hanya mendapatkan kenyang saja tapi tidak mendaptkan pahala. Sedangkan orang kedua makan mendapatkan kenyang dan juga mendapatkan pahala.

Oleh karena itu ahli ilmu mengatakan bahwasannya ibadahnya orang lalai adalah sebuah kebiasaan, sedangkan kebiasaannya orang sadar adalah ibadah. Hal ini dikarenakan perbedaan niat dalam perbuatan mereka. Esksitensi sebuah niat sangatlah menentukan hasil dari perbuatan. Bahkan karena niat juga bisa membedakan ibadah wajib dan ibadah sunah, walaupun perbuatan nya sama.

Sebagai contoh seseorang solat dua rakaat dengan niat solat sunah subuh dan seseorang solat dua rakaat dengan niat solat subuh. Maka hasil akhirnya akan berbeda jika mereka meninggalkan pekerjaan yang sama. Orang yang meniggalkan dua rokaat solat sunah subuh tidak mendapat dosa, tapi orang yang meninggalkan dua rokaat solat subuh mendapatkan dosa. Padahal mereka sama-sama meninggalkan solat dua rokaat. Inilah yang dimaksud eksistensi niat dapat membedakan ibadah.

Namun permasalahan akan muncul ketika seseorang keluar dari rumahnya ditengah hari dengan keadaan sudah berwudu dan ketika sampai masjid dia langsung takbiratul ihram dan shalat bersama imam. Dia tidak menetukan apakan dia niat solat dzuhur atau shalat asar. Dia hanya berniat dari rumahnya akan melaksanakan solat di masjid pada saat itu. Apakah dia mendapatkan pahala shalat dzuhur atau tidak ?

Jawabanya jika kita berpegang pada prinsip yang telah kita bahas, maka orang tersebut tidak mendapatkan pahala solat dzuhur karena tidak menentukan niat solat dzuhur. Namun pendapat lain mengatakan orang itu tetap mendapat pahala shalat dzuhur karena niat shalat itu sudah cukup dengan menentukan niat waktunya saja. Dan pendapat terakhir adalah pendapat yang kami ambil.

Hal ini dikarenakan terkadang seseorang terburu-buru mengejar shalat berjamaah di masjid sehingga ketika takbiratul ihram dia tidak menentukan shalat tapi dihatinya telah menentukan niat shalat pada saat itu. Maka niat solat sesuai waktu bisa menjadi niat sesuai nama shalatnya. Niat itu tempatnya dihati bukan di lisan, sehingga ketika hati telah menetukan niat solat pada saat dia takbiratul ihram dengan niat waktu itu. Maka niat shalat sesuai waktu saat itu telah cukup untuk mewakili niat shalat sesuai namanya.  

Wallahu a'lam

Oleh :

Setiadi Abdurrahman
Ajyad, 07 Sya'ban 1437 H

Tidak ada komentar:
Write komentar