Hukum Orang Tua Liberal Melarang Anaknya Berhijab

 

Orang liberal mengaku mereka paling toleran. Karena kebenaran bagi mereka sifatnya relatif. Sehingga orang tidak boleh memaksakan pendapatnya untuk diterapkan orang lain.

Tapi beda antara klaim dan realita. Banyak kasus, orang liberal justru lebih radikal dalam memaksakan pendapatnya. Sekalipun kepada orang lain yang tidak sependapat dengannya.

Di masa Mustafa Kamal Attaturk, turki yang dulu menjadi negara yang bernuansa islam, disulap menjadi negara sekuler. Kerajaan Utsmani yang berumur enam abad itu (1299-1923 M) jatuh tersungkur dan berganti menjadi sebuah negara sekuler yang menentang ajaran Islam. Padahal sebelumnya Turki menjadi benteng umat Islam yang sangat diandalkan.

Ketika Mustafa berkuasa, kebijakan sekuler tidak hanya berhenti pada tataran pemerintahan. Mustafa juga menerapkan kebijakan pada semua aktivitas masyarakat, seperti

1. Pemakaian surban dan kopiah dilarang negara dan diganti dengan topi gaya barat (hat).
2. Penggunaan jilbab dianggap sebagai sesuatu yang memalukan dan dilarang dikenakan di ruang publik.
3. Kalender Hijriah diganti dengan kalender Masehi.
4. Pada tahun 1932, Turki melarang adzan dengan bahasa Arab dan diganti dengan bahasa Turki. Masjid akan dirobohkan jika masih mengumandangkan adzan dengan bahasa Arab.
5. Hari jumat bukan lagi termasuk bagian dari akhir pekan, diganti dengan hari sabtu dan minggu mengikuti tradisi Eropa.
6. Mustafa Kemal juga tak segan-segan menghukum rakyatnya sendiri secara kejam, jika tidak mematuhi peraturan yang dibuatnya, seperti menggantung kaum lelaki di lapangan pemerintah.

Ini bukti bahwa liberal ketika berkuasa, dia bisa sangat kejam ketika berkuasa. Namun anda tidak akan pernah menjumpai ada orang yang buka jilbab dihukum gantung di Saudi atau di negara islam lainnya.

Ketika ortu memerintahkan untuk melakukan maksiat, maka sang anak tidak dibolehkan untuk mentaatinya. Meskipun dia tetap wajib untuk bersikap baik kepadanya. Allah memberikan contoh dalam al-Quran, ketika ortu memaksa anaknya untuk berbuat syirik.  Allah menceritakan pesan Luqman,

“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (QS. Luqman: 15)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kaidah, tidak boleh mentaati makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq (Sang Pencipta).

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidak boleh ada ketaatan kepada makhluk untuk melakukan maksiat kepada Allah Azza wa Jalla.. (HR. Ahmad 1107 dan sanadnya dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Berdasarkan keterangan, anak boleh tidak taat kepada orang tuanya yang melarangnya untuk berjilbab. Karena berhijab bagi wanita ketika keluar rumah hukumnya wajib. Allah memerintahkan para muslimah untuk berhijab,

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau…” (QS. an-Nur: 31).

Apakah tidak Termasuk Durhaka ?

Yang menilai durhaka dan tidak, bukan hanya orang tua, tapi juga mengikuti syariat. Karena yang memerintahkan anak untuk berbakti kepada orang tua adalah Allah. Andai ada orang tua yang memerintahkan anak untuk bunuh diri, kemudian anak menolak, semua orang sepakat, ini bukan termasuk durhaka.

Demikian pula, ketika orang tua memerintahkan anak untuk maksiat. Ketika anak tidak bersedia mengikutinya, ini tidak terhitung maksiat.

Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu masuk islam, ibunya memaksanya untuk murtad. Sa’ad harus balik kafir, mengingkari agama Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun permintaan ini tidak pernah dihiraukan oleh Sa’ad. Sampai ibunya mengancam,

Bukankah Allah telah memerintahkan mereka untuk berbakti kepada orang tuanya? Demi Allah, saya tidak akan makan, dan tidak akan minum, sampai saya mati atau kamu kafir kepada Muhammad.

Namun Sa’ad tetap memilih islam. Dan menyampaikan kepada ibunya, andai ibu memiliki 1000 nyawa, Sa’ad tidak akan pindah agama. Hingga ibunya yang menyerah dan bersedia untuk makan. (HR. Ahmad 1614 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).

Allahu a’lam.

Oleh :

Ustadz Ammi Nur Baits

Tidak ada komentar:
Write komentar