Hukum Menikah dengan Penderita HIV

 

Dalam hadis dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain. (HR. Ahmad, Ibnu Majah, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)

Termasuk bentuk membahayakan orang lain (dhirar) adalah menularkan penyakit yang dia derita kepada orang lain. Karena itu, terkait pernikahan orang yang terkena aids, ada 3 pertimbangan yang perlu diperhatikan,

[1] Pernikahan antara penyandang aids dengan orang normal, yang tidak menyandang aids.

Dalam kondisi ini sebagian ulama melarang terjadinya pernikahan. Karena ini justru menyebarkan penyakit ke tengah masyarakat.

Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz al-Uqail mengatakan,

Tidak boleh bagi seorang wanita untuk menerima pernikahan dengan lelaki yang terkan aids. Dan wali berhak untuk menolak perniakahan ini. (http://www.almoslim.net/node/82391)

Bagaimana jika yang sehat merasa ridha ?

Jika yang sehat merasa ridha, dan pernikahan dilanjutkan, maka pernikahan sah. Hanya saja, harus menggunakan alat kontrasepsi, untuk menghindari terjadinya penularan.

Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz al-Uqail mengatakan,

Dalam kondisi masing-masing sama-sama memahami untuk terjadinya pernikahan dengan pasangan penyandang virus HIV, ini tidak dilarang. Dengan syarat, hindari melakukan hubungan secara langsung tanpa pengaman atau dia gunakan alat kontrasepsi dengan cara yang benar. (http://www.almoslim.net/node/82391)

[2] Pernikahan antar sesama penyandang Aids

Para ulama membolehkan, karena tidak ada yang mendapatkan ancaman bahaya dalam kasus ini.

Dr. Khalid bin Ahmad Babathin menyatakan,

Boleh bagi penyandang virus HIV untuk menikah dengan wanita sesama penyandang HIV. Boleh membentuk keluarga harmonis dalam naungan pernikahan yang syar’i. Karena tidak ada ancaman bahaya yang akan mengenai salah satu pasangan. Sementara kaidah fiqh menyatakan, “Tidak boleh membahayakan diri sendiri atau orang lain.” (http://uqu.edu.sa/page/ar/81964)

[3] Keberadaan anak dari hubungan dengan penyandang HIV

Menurut keterangan ahli kedokteran, peluang terjadinya anak yang menyandang virus HIV dari orang tua penyandang virus ini adalah 28%. Itu artinya, dalam 10 anak yang terlahir, akan berpeluang munculnya 3 anak yang terkena virus HIV.

Karena itu, sebagian ulama melarang dalam pernikahan antar sesama penyandang virus HIV untuk memiliki anak. Sampai memastikan bahwa kondisinya telah kembali normal. Dan itu harus dilakukan dengan pengawasan dokter.

Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz al-Uqail mengatakan,

Boleh bagi lelaki yang terkena Aids untuk menikah dengan sesama penyandang Aids, dengan syarat, dia harus memastikan, dirinya mampu untuk tidak sampai terjadi kehamilan. Agar penyakitnya tidak berpindah ke anaknya. Dan dengan syarat telah bermusyawarah dengan dokter. (http://www.almoslim.net/node/82391)

Allahu a’lam

Oleh :

Ustadz Ammi Nur Baits

Tidak ada komentar:
Write komentar